Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Thursday, November 20, 2014

AL-QUR'AN ADALAH KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK

AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS.

Karya: Syaikhul Islam Abu Ismail Ash-Shabuni Asy-Syafi'i رحمه الله.

AL-QUR'AN ADALAH KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK

Syaikh Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni berkata:

"Ashhabul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk.

Siapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan mereka.

Al-Qur'an merupakan wahyu dan kalamullah yang diturunkan melalui Jibril عليه السلام kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah ta'ala:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ. بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

"Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. Asy-Syu'ara: 192-195)

Al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم kepada umatnya sebagaimana yang diperintahkan Allah:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ

"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu". (QS. Al-Maidah:67), dan yang disampaikan oleh beliau adalah kalamullah.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: "Apakah kalian yang akan menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku"1

Al-Qur'an yang dihafal dalam hati, dibaca oleh lisan, dan ditulis dalam mushaf-mushaf, bagaimanapun caranya Al-qur'an dibaca oleh qari', dilafadzkan oleh seseorang, dihafal oleh hafidz, atau dibaca dimanapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushaf-mushaf dan papan catatan anak-anak dan yang lainnya adalah kalamullah-bukan makhluk. Siapa yang beranggapan bahwa ia makhluk, maka telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung.

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: "Al-Qur'an adalah kalamullah bukan makhluk. Siapa yang mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya.2

Abu Ishaq bin Ibrahim pernah ditanya tentang lafadz Al-Qur'an, maka Beliau berkata: "Tidak pantas untuk diperdebatkan. 'Al-Qur'an kalamullah, bukan makhluk ".

Imam Ahmad bin Hambal رحمه الله berkata: "Orang yang menganggap makhluk lafadz Al-Qur'an adalah Jahmiyah, Allah berfirman:

فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ

"maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah' (QS. At-Taubah:6). Dari mana ia mendengar?3

Abdullah bin Al-Mubarak رحمه الله berkata: "Siapa yang mengkufuri satu huruf Al-Qur'an saja, maka ia kafir (ingkar) dengan Al-Qur'an.

Siapa yang mengatakan: Saya tidak percaya dengan Al-Qur'an maka ia kafir"

______________
1  Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
أَلَا رَجُلٌ يَحْمِلْنِي إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي
"Adakah seseorang yang mau membawaku ke kaumnya?. Sesungguhnya orang-orang Quraisy menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku" (HR.Bukhari dalam Af'alul 'ibad, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah)
2  Sanadnya shahih, disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffadz
3  Sanadnya shahih

Monday, November 17, 2014

Pemutus Segala Akar Kesyirikan

Intisari Tauhid [55]
 
Pemutus Segala Akar Kesyirikan
 

وَقَوْلِهِ تَعَالَى: قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ. وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ. وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ.

Firman (Allah) Ta’âlâ, “Katakanlah, ‘Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai rabb) selain Allah. Mereka tidak memiliki kekuasaan seberat dzarrah pun di langit dan di bumi dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan langit dan bumi), serta sama sekali tiada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Maka, syafa’at tidaklah berguna di sisi-Nya, kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan untuk (memperoleh syafa’at) itu. Sehingga, apabila ketakutan dari hati mereka telah dihilangkan, mereka berkata, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar,’ dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’.” [Saba`: 22-23]

Allah Subhânahuwata'ala memerintahkan kepada Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada kaum musyrikin sebagai tantangan terhadap mereka, “Mintalah kalian kepada sembahan-sembahan kalian yang kalian yakini dapat memberi manfaat dan mampu menghilangkan bahaya dari kalian.” Maka sesungguhnya mereka tidak mampu melakukan hal tersebut, karena mereka tidak memiliki kekuasaan yang mandiri terhadap alam semesta ini walaupun hanya sebesar semut yang paling kecil. Mereka juga tidak menjadi sekutu bagi Allah sedikitpun dalam mengatur alam ini, juga tiada satupun dari mereka yang membantu Allah dalam mengatur segala urusan, bahkan mereka tidak sanggup mendahului Allah untuk memberi syafa’at kepada kalian, kecuali apabila Allah telah mengizinkan untuk itu, padahal Allah tidak akan memberi izin kepada para pelaku kesyirikan. Kalau mereka tidak memiliki kekuasaan secara mandiri, tidak menjadi sekutu bagi Allah dalam kekuasaan-Nya, juga tidak menjadi pembantu bagi Allah penguasa alam semesta serta tidak dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, maka batallah peribadahan kepada mereka dari selain Allah.

Bahwa dalam kedua ayat tersebut terdapat bantahan terhadap kaum musyrikin yang bertaqarrub (dengan beribadah) kepada para wali, meminta syafa’at kepada mereka serta berdoa kepada mereka untuk mendapatkan manfaat dan menolak bahaya.

Faedah Kedua Ayat

Bantahan terhadap kaum musyrikin yang berdoa kepada sembahan-sembahan selain Allah, baik dari kalangan malaikat maupun selainnya. Mereka menyangka bahwa selain Allah itu berkuasa mendatangkan manfaat untuk mereka dan menolak bahaya dari mereka.

Disyariatkannya membantah dan mendebat kaum musyrikin untuk membatalkan kesyirikan mereka.

Diputusnya semua sebab yang menjadi pegangan kaum musyrikin. Hal tersebut adalah karena seorang musyrik tidaklah dia menyembah (sembahannya), kecuali disebabkan oleh manfa’at yang dia dapatkan (dari yang disembahnya), sedangkan manfa’at tidak akan terwujud kecuali dari siapa yang padanya terdapat salah satu dari empat sifat:

Pertama: menguasai apa-apa yang diinginkan oleh penyembahnya.
Kedua: menjadi sekutu bagi sang penguasa.
Ketiga: sebagai pembantu bagi penguasa.
Keempat: sebagai pemberi syafa’at di sisi penguasa.

Padahal Allah telah meniadakan keempat sebab di atas dari sembahan-sembahan kaum musyrikin, sehingga dengan demikian batallah peribadahan kepada mereka.

Penetapan adanya syafa’at tetapi dengan izin dari Allah.

Bahwasanya orang-orang musyrikin tidaklah bermanfaat syafa’at itu bagi mereka, sebab Allah Ta’âlâ tidak mengizinkan syafa’at itu untuk seorang musyrik.

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi’ar Tauhid

Wednesday, November 5, 2014

Tiada Pemberi Syafa’at Kecuali Allah

Intisari Tauhid [52]
 
Tiada Pemberi Syafa’at Kecuali Allah
 
وَقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ

Firman Allah Ta’âlâ, “Dan berilah peringatan dengan (wahyu) itu terhadap orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Rabb mereka (pada hari kiamat), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafa’at pun, (kecuali Allah).” [Al-An’âm: 51]

Bahwasanya, ketika kaum musyrikin membenarkan perbuatan syirik yang mereka berada di atas (perbuatan) tersebut, seperti berdoa kepada malaikat, para nabi dan para wali, yang mereka mengatakan, “Kami mengetahui bahwa mereka adalah makhluk, tetapi mereka memiliki kedudukan di sisi Allah, sehingga kami menginginkan dari mereka agar mereka memberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Maka dengan bab ini penulis berkeinginan untuk menegakkan hujjah-hujjah bahwa hal tersebut betul-betul merupakan kesyirikan yang nyata yang dilarang oleh Allah, dan sekaligus juga beliau (penulis) ingin menerangkan kebatilan semua sarana yang mengantarkan kepada perbuatan syirik tersebut.

الشَّفَاعَةُ : bentuk mashdar dari kata syafa’a yang berarti menggabungkan sesuatu kepada yang semisalnya. Kalau engkau mengatakan, “Syafa’tu asy-syai`a syaf’an,” artinya aku mengabungkannya kepada yang satu itu. Memberi syafa’at padanya artinya membantunya untuk mendapatkan sesuatu yang dia cari (dia tuntut) dari seseorang yang memiliki sesuatu itu.

Allah Ta’âlâ berkata kepada Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Berilah rasa takut dengan Al-Qur`an kepada orang-orang yang merasa takut kepada Rabb-nya dari kalangan orang-orang yang memiliki hati yang mengerti, yang mengingat bahwa mereka akan berdiri di hadapan Rabb mereka tanpa ditemani seorang kerabat yang akan menolongnya dan perantara yang akan memberinya syafa’at -di sisi Allah- tanpa seizin Allah, agar mereka melakukan persiapan untuk hal itu, sehingga mereka mengerjakan amalan-amalan di dunia ini, yang dengannya Allah akan menyelamatkannya dari adzab-Nya pada hari kiamat.”

Dalam ayat ini ada bantahan terhadap kaum musyrikin yang berdoa kepada para nabi dan orang-orang shalih untuk meminta syafa’at dari mereka.

Faedah Ayat

Bantahan terhadap kaum musyrikin yang bertaqarrub kepada para nabi dan orang-orang shalih dalam rangka meminta syafa’at dari mereka.

Disyariatkannya memberi nasihat dan peringatan tentang hari kiamat.

Bahwa orang yang beriman adalah orang yang bisa mengambil manfaat dari nasihat.

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Monday, November 3, 2014

Intisari Tauhid [51] Bagaimana Wahyu Turun?

Intisari Tauhid [51]
 
Bagaimana Wahyu Turun?
 
وَعَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِذَا أَرَادَ اللهُ تَعَالَى أَنْ يُوحِيَ بِالْأَمْرِ تَكَلَّمَ بِالْوَحْيِ أَخَذَتِ السَّمَاوَاتِ مِنْهُ رَجْفَةٌ). أَوْ قَالَ: (رَعْدَةٌ شَدِيدَةٌ خَوْفًا مِنَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ ، فَإِذَا سَمِعَ ذَلِكَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ صَعِقُوا وَخَرُّوا سُجَّدًا فَيَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ جِبْرِيلُ، فَيُكَلِّمُهُ اللهُ مِنْ وَحْيِهِ بِمَا أَرَادَ، ثُمَّ يَمُرُّ جِبْرِيلُ عَلَى الْمَلَائِكَةِ، كُلَّمَا مَرَّ بِسَمَاءٍ سَأَلَهُ مَلَائِكَتُهَا مَاذَا قَالَ رَبُّنَا يَا جِبْرِيلُ؟ فَيَقُولُ جِبْرِيلُ: قَالَ الْحَقُّ وَهُوَ الْعَلِّيُّ الْكَبيرُ. فَيَقُولُونَ كُلُّهُمْ مِثْلَ مَا قَالَ جِبْرِيلُ. فَيَنْتَهِي جِبْرِيلُ بِالْوَحْيِ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ).

Dari An-Nawwâs bin Sim’ân radhiyallâhu ‘anhû, beliau berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila Allah Ta’âlâ hendak mewahyukan perintah-Nya, Dia memfirmankan wahyu itu maka langit-langit bergetar -atau beliau berkata, “Berdentum dengan keras,”- karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tatkala mendengar firman tersebut, para (malaikat) penghuni langit pun lunglai dan bersimpuh sujud (kepada Allah). Jadilah Jibril sebagai malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya maka Allah memfirmankan kepadanya berupa wahyu-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat. Setiap melewati satu langit, dia ditanyai oleh malaikat penghuni (langit) tersebut, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kita, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘(Perkataan) yang benar, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.’ Seluruh malaikat pun mengucapkan seperti ucapan Jibril itu. Demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang keagungan Rabb-nya bahwa, jika Allah Subhânahu berbicara dengan wahyu-Nya yang Dia kehendaki, langit-langit tertimpa keguncangan dan gerakan yang dahsyat, karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini karena langit-langit itu mengetahui keagungan Allah. Kemudian ketika para malaikat mendengar ucapan Allah, merekapun pingsan dan tersungkur bersujud mengagungkan Allah dan karena takut kepada-Nya.

Kemudian Jibril alaihis salâm menjadi malaikat yang pertama kali mengangkat kepala karena dia menjadi perantara antara Allah dengan para rasul. Maka Allah berbicara kepada Jibril dengan (firman-Nya) yang Dia kehendaki. Setelah itu Jibril berjalan melewati para malaikat langit, maka mereka bertanya kepada Jibril tentang apa yang telah dikatakan oleh Allah? Jibril menjawab dengan ucapannya “(Perkataan) yang benar.”Dan Dialah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.”

Selanjutnya mereka mengucapkan seperti yang diucapkan oleh Jibril. Kemudian Jibril berjalan dengan membawa wahyu untuk disampaikan kepada orang yang dikehendaki oleh Allah.

Dalam hadits ini, terkandung berbagai hal yang ada dalam nash-nash sebelumnya, berupa keterangan tentang keagungan Allah serta ketakutan para malaikat dan langit-langit terhadap Allah, juga terkandung bantahan terhadap orang-orang yang menyembah kepada selain Allah.

Faedah Hadits:

Bantahan terhadap kaum musyrikin yang menjadikan bersama Allah sembahan-sembahan lain dari kalangan makhluk.

Penjelasan tentang keagungan Allah Jalla wa ‘Ala, dan berhaknya Allah untuk diibadahi satu-satunya.

Penetapan bahwa Allah berbicara kapan saja Dia kehendaki, dengan apa yang Dia kehendaki dan dengan cara yang Dia kehendaki.

Penetapan ketinggian Allah atas para makhluk-Nya.

Keutamaan Jibril ‘alaihis salâm.


Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Wednesday, October 22, 2014

PENGAGUNGAN PARA MALAIKAT KEPADA ALLAH

Intisari Tauhid [50]

PENGAGUNGAN PARA MALAIKAT KEPADA ALLAH

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh kepada firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu (yang) rata, yang hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Sehingga apabila rasa takut dari hati mereka telah dihilangkan, mereka bertanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka pun menjawab,‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Ketika itulah, (syaithan-syaithan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti berikut: sebagian mereka berada di atas sebagian yang lain -Sufyân menggambarkan dengan telapak tangannya, dengan merenggangkan dan membuka jari-jemarinya-. Oleh karena itu, ketika mendengar kalimat (firman) itu, penyadap berita (yang berada di atas) menyampaikan kepada yang berada di bawahnya, kemudian (yang berada di bawah tersebut) menyampaikan lagi kepada yang berada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi, kadangkala (syaithan penyadap berita) itu terkena syihâb ‘bintang api yang dilemparkan’ sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadangkala sudah sempat menyampaikan (firman) itu sebelum terkena syihâb. Lalu dengan satu kalimat yang dia dengar itulah, (tukang sihir atau tukang ramal) tersebut melakukan seratus macam kedustaan. Orang (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan, ‘Bukankah dia telah mengabarkan kepada kita bahwa pada hari begini akan terjadi begini (dan kabar itu betul-betul terjadi),’ sehingga dipercayalah (tukang sihir atau tukang ramal) tersebut karena satu kalimat yang didengar dari langit.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang pengagungan malaikat terhadap kalâmullâh, ketakutan yang menimpa mereka, dan saling bertanya tentang apa yang telah dikatakan oleh Allah serta jawaban sebagian mereka terhadap sebagian yang lain.

Juga tentang apa yang diketahui oleh syaithan yang mencuri dengar berita malaikat ketika itu lalu disampaikannya kepada tukang sihir dan dukun dari kalangan manusia, serta apa yang dialami oleh syaithan berupa lemparan-lemparan syihâb ketika itu, dan bahwasanya kadang-kadang memungkinkan bagi syaithan untuk menyampaikan kalimat yang dia dengar dari malaikat kepada tukang sihir atau dukun -karena suatu hikmah yang hanya Allah saja yang mengetahui, sedang tidak ada sesuatupun yang terluput dari Allah-, maka mereka (tukang sihir dan dukun) menambahkan terhadap kalimat (dari malaikat) tersebut dengan sembilan puluh sembilan kedustaan yang berasal dari syaithan atau manusia, kemudian hal itu disebarkan semuanya di kalangan manusia sehingga manusia membenarkan semuanya karena satu kalimat yang didengar tadi (hasil curi dengar).

Dalam hadits ada bantahan terhadap kaum musyrikin, sebab kalau demikian keadaan para malaikat (yang ketakutan) ketika mendengar ucapan Allah, -padahal mereka telah diberi kekuatan yang besar oleh Allah-, maka diketahui bahwa tidak boleh menyerahkan ibadah kepada mereka (malaikat), dan bagaimana pula dengan (menyerahkan ibadah kepada) mereka yang keadaannya di bawah para malaikat.

Faedah Hadits

Bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyembah kepada malaikat, para nabi dan orang shalih.

Pengagungan terhadap Allah Subhânahu, dan bahwasanya Dia-lah yang berhak untuk diibadahi yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Penetapan (sifat) ketinggian Allah atas para makhluknya, dan penetapan (sifat) berbicara dengan ucapan yang bisa didengar.

Pembatil sihir dan perdukunan, meskipun terkadang tukang sihir atau dukun benar.

Yang dijadikan ukuran adalah skala mayoritas atau kebanyakan bukan yang sedikit lagi jarang.

- - - - - - - 〜✽〜 - - - - - -

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi’ar Tauhid

Monday, October 20, 2014

HUKUM MENGUNJUNGI Goa Hira, Bukit Uhud, dan Masjid Qiblatain

HUKUM MENGUNJUNGI

Goa Hira,
Bukit Uhud, dan
Masjid Qiblatain

SOAL
Apa hukumnya mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi Nabi, seperti goa hira', bukit uhud dan masjid Qiblatain?

JAWAB::
Mengunjungi tempat-tempat tersebut dalam rangka mencari keberkahan darinya, atau berkeyakinan hal itu termasuk perkara yang siayariatkan, maka itu hukumnya bid'ah dan tidaklah dibolehkan.

Adapun jika mengunjunginya untuk melihat/ mengenal/ meneliti saja, maka tidaklah mengapa.

Dan jika mengunjunginya untuk mencari keberkahan darinya atau menyakini mengunjunginya sebagai perkara yg disyariatkan yang berpahala, maka itu adalah bid'ah,

TIDAKLAH DIBOLEHKAN.

www.af.org.sa/en/node/3070

Penerjemah::
Ustadz Hudzaifah bin Muhammad
                 -hafizhahullah-

              WhatsApp
Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Friday, October 17, 2014

Tafsir Singkat

Tafsir Singkat::

Tanya:
Apa tafsir dari firman Allōh Taâlā:

أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ

"Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?". QS. As-Sajdah: 10.

Jawab:
Mereka mengingkari akan kebangkitan, mereka berkata:

Jika kita telah mati dalam waktu yang lama di bumi ini, lalu (apakah) kita dikembalikan lagi seperti semula?!'

Mereka masuk ke permasalahan ini dengan akal-akalnya, dan tidak mengedepankan (keimanan) akan kekuasan Allōh azza Wa Jalla yang telah menciptakan mereka sejak awal kali, dari ketiadaan pada pertama kalinya, dan Dia-lah pula maha mampu untuk mengembalikan mereka pada kedua-kalinya,

(keimanan) inilah yang lebih pantas diutamakan untuk memperbaiki akal-akal itu.

Penerjemah::
Ustadz Hudzaifah bin Muhammad
                  -hafizhahullah-

Sumber::
www.af.org.sa/en/node/3022

WhatsApp::
Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Monday, October 13, 2014

Apakah “Rosyid” itu termasuk Nama Allōh?

Faidah Aqidah

  Rosyīd الرشيد

Apakah “Rosyid” itu termasuk Nama Allōh?

س1: هل صح أن (الرشيد) من أسماء الله عز وجل؟ وما حكم التسمية بـ: عبد الرشيد ؟ وهل يلزم من سمي بـ: عبد الرشيد تغيير الاسم؟

ج1: (الرشيد) ليس من أسماء الله تعالى؛ لعدم وروده في القرآن وعدم ثبوته في السنة، وبناء على ما تقدم فلا يجوز أن يقال: (عبد الرشيد)، ومن تسمى بذلك فالواجب عليه تغييره.

Soal:

Apakah benar (Rosyid) termasuk nama Allōh azza wa jalla?
Dan apakah hukumnya bernama: Abdul Rosyid?
Dan apakah harus bagi yang bernama dengannya untuk merubahnya?

Jawab:

(Rosyid) bukanlah termasuk dari nama-nama Allōh ta’ala, karena tidak ada dalil yang menunjukannya, tidak ada dalam al Quran, dan tidak ada pula dalam Sunnah.

Oleh karena itu, tidak dibolehkan bernama: (Abdul Rosyid; abdur-rosyid).

Bagi yang telah bernama dengannya wajib baginya untuk merubahnya.

Fatwa no. 18985 
Al-Lajnah Ad-Dāimah, periode Ibnu Bāz.

Terjemah Hudzaifah bin Muhammad.

Saturday, October 11, 2014

Faidah Taddabur Qurān

Faidah Taddabur Qurān
===================

Keimanan-mu...

dibuktikan dengan taat, tunduk dan patuh serta berserah diri sepenuhnya kepada:

Robb alam semesta dan Nabi Al-Musthofa

.... Tanpa ada pilihan lain.

           

Allōh berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

QS. Al-Ahzāb: 36.

Berkata al-Imām Ibnu Si'di rohimahullōh dalam tafsirnya:

"Maksudnya:
Tidaklah ada (perbuatan; -penj.) yang sepantasnya dan tidaklah pula selayaknya bagi yang telah bersifat dirinya dengan 'keimanan', kecuali bagi mereka itu bersegera mengejar keridhoan Allōh dan Rosul-Nya, dan lari meninggalkan segala perkara yang mendatangkan kemurkaan Allōh dan Rosul-Nya, serta melaksanakan perintah dari keduanya.

Serta menjauh dari segala perkara yang dilarang oleh keduanya.

Maka, tidaklah sepantasnya bagi setiap mukmin dan mukminah:

{ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًاْ}

"...apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan..."

Dari segala urusan dan perkara yang merupakan kewajiban serta keharusan padanya

{ أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ}

"... akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka..."

Maksudnya:
Ada pilihan, apakah melaksanakannya atau tidak?
Justru yang harus diketahui bagi setiap mukmin dan mukminah, bahwasanya Rosul itu lebih utama dari jiwa mereka sendiri, maka janganlah ia menjadikan sebagian dari hawa nafsunya sebagai penghalang antara dirinya dengan perintah Allōh dan Rosul-Nya.

{ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا ْ}

"Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."

Maksudnya:
Kesesatan yang sangat jelas sekali.
Sebab, dengan meninggalkan jalan yang lurus yang mengantarkan kepada keridhoan Allōh, berpaling kepada jalan lainnya itu merupakan pengantar kepasa adzab yang sangat pedih.

Allōh menyebutkan yang pertama,  sebab yang harus ada agar tidak dikatan menyelisihi perintah Allōh dan Rosul-Nya, yaitu keimanan.

Kemudian setelah itu Ia sebutkan perkara yang menjadi penghalang hal tersebut, dengan menyebutkan ancaman dari akibatnya yaitu kesesatan, adzab dan siksaan".

[Tafsirul Qurān Taisir Ar-Rohman]

KEMULIAAN NASAB BUKAN JAMINAN KESELAMATAN

Intisari Tauhid [48]

KEMULIAAN NASAB BUKAN JAMINAN KESELAMATAN

Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata :

قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أُنْزِلَ عَلَيْهِ: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ. قَالَ: (يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا- اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا.

“Ketika (ayat),‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat,’ [Asy-Syu’arâ`: 214]
diturunkan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau berdiri seraya bersabda

‘Wahai segenap kaum Quraisy -atau ucapan yang semisalnya-, tebuslah diri kalian (dari siksa Allah). Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi kalian sedikitpun di hadapan Allah. Wahai ‘Abbâs bin Abdul Muththalib, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Fathimah, putri Muhammad, mintalah harta kepadaku sebagaimana keinginanmu. Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah.’.”

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhû mengabarkan tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika Allah memerintahkan dalam kitab-Nya yang mulia untuk memberi peringatan kepada kerabat-kerabatnya, bahwa beliau betul-betul melaksanakan perintah tersebut. Beliau menyeru/memanggil orang-orang Quraisy secara keseluruhan, juga beliau seru pamannya, bibinya serta anak perempuannya. Beliaupun memperingatkan mereka secara khusus dan memerintahkan mereka untuk menyelamatkan diri masing-masing dari adzab Allah dengan cara menauhidkan dan menaati-Nya. Beliau menyampaikan bahwa beliau tidak dapat melindungi mereka dari adzab Allah sedikitpun apabila mereka tidak beriman.

Maka semata-mata kedekatan hubungan kekerabatan mereka dengan Rasul, tidaklah bermanfaat bagi mereka tanpa keimanan.

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh meminta kepada Rasul, apalagi kepada selain Rasul, kecuali apa-apa yang disanggupinya dalam perkara dunia. Adapun dalam perkara-perkara yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah, maka tidaklah boleh memintanya kecuali kepada Allah. Pada hadits ini, terdapat bantahan terhadap para penyembah kubur yang mereka beristighatsah akan kesulitan-kesulitannya dan dalam pemenuhan keperluan-keperluannya kepada orang-orang yang telah meninggal.

Faedah Hadits

Bantahan terhadap orang-orang yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, yang mereka itu menggantungkan diri kepada makhluk dalam pemenuhan keperluan-keperluan mereka yang tidak disanggupi (pemenuhannya) kecuali hanya oleh Allah.

Bahwasanya tidak boleh meminta kepada hamba kecuali apa-apa yang disanggupinya.

Bersegeranya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan perintah Allah serta menyampaikan risalah.

Bahwasanya tidak ada yang bisa menyelamatkan dari adzab Allah kecuali iman dan amal shalih, bukan hanya dengan bersandar kepada nasab keturunan seseorang.

Bahwa orang yang pantas menjadi paling dekat dengan Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang taat dan mengikuti beliau, baik dari kalangan kerabat-kerabat beliau maupun selainnya.

Bahwa semata-mata memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak ada manfaatnya kalau tidak memiliki iman dan amal shalih serta aqidah yang benar.

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Monday, October 6, 2014

PERKARA PENTING YANG WAJIB DIKETAHUI [8]

PERKARA PENTING YANG WAJIB DIKETAHUI [8]

Penulis : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimy –rahimahullah-

Dalil Tentang Syarat (المحبة) Cinta (Syarat Kelima dari syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah) :

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Artinya : “dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.” (Q.S. Al-Baqarah : 165)

Dan juga Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Q.S. Al-Maa’idah : 54)

Adapun dalil dari As-Sunnah adalah apa yang telah tsabit dalah “Ash-Shahih” dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu beliau berkata, bersabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wasallam :

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره ان يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار
Artinya : “Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya Iman, yaitu menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana ia tidak ingin untuk dijerumuskan ke dalam Neraka.” (Muttafaqun ‘alaih)

WA Radio As-Sunnah Sidrap

Thursday, October 2, 2014

SEGALA PERKARA DI TANGAN ALLAH

Intisari Tauhid [47]

SEGALA PERKARA DI TANGAN ALLAH

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa ketika sedang sholat

(اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا ) بَعْدَمَا يَقُولُ: (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ). فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ.

Juga dalam (Ash-Shahîh) dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ, (beliau berkata) bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdoa (setelah kepala beliau terluka dan gigi taring beliau patah) ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ pada rakaat terakhir dalam shalat Subuh,
“Ya Allah, laknatlah Fulân dan Fulân,”
yaitu setelah mengucapkan, “Sami’allâhu liman hamidah, Rabbanâ lakal hamdu.” Oleh karena itu, Allah menurunkan firman-Nya,
“Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka.” [Âli ‘Imrân: 128]

وَفِي رِوَايَةٍ: يَدْعُو عَلَى صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ، وَسُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو وَالْحَارِثَ بْنِ هِشَامٍ، فنَزَلَتْ: لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ.

Di dalam riwayat lain (disebutkan), “Beliau mendoakan kejelekan bagi Shafwân bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan Al-Hârits bin Hisyâm maka turunlah ayat,

‘Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka itu.’ [Âli ‘Imrân: 128].”

Abdullah bin Umar radhiyallâhu ‘anhû mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan dalam shalat terhadap beberapa orang dari kalangan tokoh-tokoh orang kafir yang telah menyakitinya pada perang Uhud, maka Allah menegurnya dengan firman-Nya,
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

“Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka itu.” [Âli ‘Imrân: 128]
Lalu Allah memberikan taubat kepada mereka, sehingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Di dalam hadits terdapat penjelasan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mampu membela dirinya dari gangguan kaum musyrikin, tidak pula membela para shahabatnya, bahkan beliau meminta perlindungan kepada Allah Yang Maha Mampu dan Maha Berkuasa. Hal ini menunjukkan batilnya apa yang diyakini oleh para penyembah kubur terhadap para nabi dan orang-orang shalih.

Faedah Hadits

Batilnya bergantung kepada para wali dan orang shalih dalam meminta pemenuhan keperluan dan pelepasan diri dari kesulitan.

Bolehnya mendoakan kejelekan terhadap kaum musyrikin dalam shalat.

Sebagai dalil (petunjuk) bahwa menyebutkan nama orang yang didoakan kebaikan atau kejelekan untuknya tidak membatalkan shalat.

Adanya penegasan bahwa imam menggabungkan bacaan tasmi’ (sami’allâhu liman hamidah) dan tahmid (rabbanâ wa lakal hamdu).—
- - - - - - - 〜✽〜 - - - - - - -

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Wednesday, October 1, 2014

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM PUN TERLUKA

Intisari Tauhid [46]

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM PUN TERLUKA

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

شُجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَّتُهُ. فَقَالَ: (كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ؟) فنَزَلَتْ: لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ.

Pada perang Uhud, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam terluka pada kepala, dan gigi taring beliau patah. Beliau pun bersabda, ‘Bagaimana akan beruntung, suatu kaum yang melukai Nabi mereka?’ Maka turunlah (ayat),
‘Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka.’ [Âli ‘Imrân: 128].”

Anas radhiyallâhu ‘anhû mengabarkan apa yang terjadi pada diri Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam peperangan Uhud berupa berbagai gangguan dan cobaan dari tangan-tangan musuh-musuhnya berupa luka-luka di dua tempat di tubuh beliau yang mulia. Maka seakan-akan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam merasa putus asa bahwa orang-orang kafir Quraisy akan mendapatkan keberuntungan. Maka dengan sebab itulah dikatakan kepada beliau,

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

“Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka.” [Âli ‘Imrân: 128]

Artinya akibat akhir dari suatu perkara dan hukum terhadap seseorang adalah di tangan Allah, maka berjalanlah kamu dengan keadaanmu dan teruslah berdakwah.

Pada hadits ini terdapat dalil akan batilnya kesyirikan kepada para wali dan orang shalih, sebab apabila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mampu menolak musibah yang menimpanya, dan beliau juga tidak mempunyai hak sedikitpun untuk turut campur dalam menentukan suatu perkara, maka lebih-lebih selain Beliaushallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Faedah Hadits

Menunjukkan batilnya kesyirikan kepada para wali dan orang shalih, karena apabila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam saja tidak mampu menolak bahaya dari diri beliau sendiri dan tidak berkuasa terhadap suatu perkara apapun, terlebih lagi selain beliau.

Terjadinya sakit dan ujian pada diri para nabi ‘alaihimus shalâtu was salâm.

Wajibnya ikhlas dalam beribadah kepada Allah, karena hanya Dia saja yang menguasai segala urusan.

Disyariatkan untuk bersabar dan menanggung gangguan dan kesulitan di jalan dakwah kepada Allah.

Dilarangnya berputus asa dari rahmat Allah, meskipun manusia berbuat berbagai macam kemaksiatan yang selain kesyirikan.

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Monday, September 29, 2014

MENJELASKAN KEBATILAN SYIRIK HINGGA KE DASARNYA

Intisari Tauhid [45]

MENJELASKAN KEBATILAN SYIRIK HINGGA KE DASARNYA


Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ. إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan (sembahan-sembahan) selain Allah yang kalian seru tidak memiliki (kekuasaan) apa-apa, walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruan kalian. Kalaupun mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Pada hari kiamat, mereka akan mengingkari perbuatan kesyirikan kalian, dan tiada yang memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” [Fâthir: 13-14]

Allah Ta’âlâ mengabarkan tentang keadaan mereka yang diseru dari selain Allah dari kalangan malaikat, para nabi, patung-patung dan yang lainnya, yang menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan mereka.

Juga, tidak ada pada mereka syarat-syarat yang harus ada pada yang diseru/diibadahi, yaitu: memiliki apa-apa yang diminta darinya, mendengar doa, dan mampu menjawab (mengabulkan) doa tersebut. Jika satu syarat saja tidak ada, maka batallah untuk dijadikan sebagai yang diseru/sembahan, maka bagaimana pula kalau keseluruhan syaratnya tidak ada..



Faedah Ayat

Menunjukkan batilnya kesyirikan dengan dalil yang kuat dan keterangan yang sangat jelas.

Penjelasan tentang syarat-syarat yang wajib terpenuhi pada yang diseru yang dimintai pertolongan, yaitu:

A.Memiliki apa-apa yang diminta darinya.

B.Mendengar doa orang yang berdoa kepadanya.

C.Mampu menjawab doa.

Bahwa perkara aqidah dibangun di atas bukti keterangan-keterangan dan keyakinan, bukan dibangun di atas prasangka dan dugaan serta taqlid buta.

Penetapan ilmu Allah tentang akibat-akibat dari semua perkara.



Diringkas dari penjelasan
ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Sunday, September 28, 2014

TIDAKKAH MEREKA MEMAHAMI KEBATILAN SYIRIK

Intisari Tauhid [44]


TIDAKKAH MEREKA MEMAHAMI KEBATILAN SYIRIK


Allah Ta’ala berfirman :

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ.

“Patutkah mereka berbuat syirik (dengan menyembah selain Allah) yang tidak dapat menciptakan apa-apa, bahkan mereka itu diciptakan (oleh Allah)? Padahal, (sembahan-sembahan selain Allah) itu tidak mampu menolong (orang-orang musyrik) juga tidak sanggup menolong diri mereka sendiri.” [Al-A’râf: 191-192]

Allah mencela kaum musyrikin karena mereka menyembah bersama Allah sembahan-sembahan yang tidak bisa menciptakan sesuatu dan tidak memiliki hak untuk disembah, serta tidak mampu melindungi orang-orang yang menyembahnya dari bahaya, bahkan tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari bahaya. Kalau keadaannya seperti ini maka batillah penyeruan/penyembahan kepada mereka. Karena makhluk tidak mungkin bisa menjadi sekutu bagi khaliq/pencipta, sedang yang lemah tidak akan menjadi sekutu bagi Yang Maha Kuat yang tidak ada sesuatu yang bisa melemahkan-Nya.


Faedah Ayat

Menunjukkan batilnya kesyirikan dari dasarnya, karena bergantung kepada makhluk yang lemah.

Bahwa sang penciptalah yang berhak untuk diibadahi.

Pendalilan dengan tauhid rubûbiyyah untuk menetapkan tauhid ulûhiyyah.

Disyariatkan untuk membantah kaum musyirikin dalam rangka membela al-haq dan menghancurkan kebatilan.

- - - - - - - 〜✽〜 - - - - - - -

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Friday, September 26, 2014

HANYA ALLAH LAH PENOLONG DARI KESULITAN MAKA SEMBAHLAH HANYA ALLAH SAJA

Intisari Tauhid [42]

HANYA ALLAH LAH PENOLONG DARI KESULITAN MAKA SEMBAHLAH HANYA ALLAH SAJA

Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang berada dalam kesulitan tatkala ia berdoa kepada-Nya, yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Adakah sembahan (yang haq) selain Allah? Amat sedikitlah kalian mengingat-Nya.” [An-Naml: 62]

Allah Ta’âlâ berhujjah terhadap kaum musyrikin yang telah menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dari selain Allah, dengan apa yang telah mereka ketahui dan telah akui, tentang dikabulkannya doa-doa mereka oleh Allah ketika mereka berdoa dalam keadaan kesulitan, dan dihilangkannya kejelekan-kejelekan yang menimpa kepada mereka, serta Allah telah menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi setelah sebelumnya mereka tidak ada.

Apabila sembahan-sembahan mereka tidak bisa melakukan hal-hal tersebut, bagaimana mereka bisa menyembah (sembahan) itu bersama Allah? Akan tetapi mereka tidak mengingat nikmat-nikmat Allah yang telah mereka terima kecuali sedikit sekali, sehingga tidak mewariskan rasa takut kepada Allah. Itulah penyebab mereka terjatuh ke dalam kesyirikan.

Ayat di atas menjelaskan kebatilan beristighatsah kepada selain Allah. Karena, tiada yang mampu menjawab (permintaan) orang-orang yang terkena kesulitan dan menghilangkan kesulitan yang terjadi, serta yang mampu menghidupkan dan mematikan, kecuali Allah.

Faedah Ayat

Kebatilan beristighatsah kepada selain Allah dalam perkara yang tidak ada yang mampu atas perkara tersebut, kecuali Allah.

Bahwa orang-orang musyrikin mengakui tauhid rubûbiyyah, tetapi hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam.

Berdalil dengan tauhid rubûbiyyah untuk melaksanakan tauhid ulûhiyyah (ibadah).

Berhujjah terhadap orang-orang musyrikin dengan apa-apa yang mereka yakini (yakni tauhid rubûbiyyah) terhadap apa yang mereka ingkari (yakni tauhidulûhiyyah).


Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

LARANGAN MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA RASULULLAH BAIK KETIKA BELIAU MASIH HIDUP TERLEBIH SETELAH WAFAT

Intisari Tauhid [43]

LARANGAN MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA RASULULLAH BAIK KETIKA BELIAU MASIH HIDUP TERLEBIH SETELAH WAFAT


Al Imam Ath Thabarany meriwayatkan :

أَنَّهُ كَانَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنَافِقٌ يُؤْذِي الْمُؤْمِنِينَ. فقَالَ بَعْضُهُمْ: قُومُوا بِنَا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمُنَافِقِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي، وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللهِ).

Pada zaman Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pernah ada seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mukmin. Oleh karena itu, berkatalah salah seorang di antara mereka, “Marilah kita beristighatsah bersama-sama kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam terhadap (tindakan buruk) orang munafik ini,” maka Nabishallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya, tidak boleh beristighatsah kepadaku. Beristighatsah itu hanya boleh kepada Allah semata.”

Ketika Islam sudah kuat, ada sekelompok orang kafir yang berpikiran untuk masuk Islam secara zhahir tetapi tetap di atas kekafiran dalam batinnya, yang mereka disebut dengan kaum munafikin. Seringkali muncul dari mereka ucapan-ucapan dan perbuatan yang menyesakkan kaum muslimin. Di antaranya adalah apa yang terjadi dari orang ini (Abdullah bin Ubayy), sampai sebagian sahabat meminta kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk menghentikan dan menegurnya. Sebenarnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mampu melakukan hal tersebut, tetapi, ketika lafazh/ucapan yang digunakan saat meminta kepada beliau mengandung adab jelek terhadap Allah (tidak pantas diucapkan), Nabi mengingkarinya sebagai pelajaran kepada para sahabat dan untuk menutup jalan-jalan kesyirikan serta untuk menjaga kemurnian tauhid.

Faedah Hadits

Bahwasanya tidak boleh beristighatsah kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lebih-lebih kepada selainnya.

Bimbingan untuk menggunakan lafazh-lafazh yang baik dan penjagaan terhadap kemurnian tauhid.

Menutup jalan-jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan.

Disyariatkan untuk bersabar menghadapi gangguan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

Celaan terhadap kemunafikan.

Larangan mengganggu kaum mukminin, karena hal itu termasuk perbuatan orang-orang munafik.


Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Tuesday, September 23, 2014

PERBEDAAN ANTARA TAWASSUL SYIRIK DAN TAWASSUL BID'AH

PERBEDAAN ANTARA TAWASSUL SYIRIK DAN TAWASSUL BID'AH

-ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﺍﻟﺸﺮﻛﻲ ، ﻭﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﺍﻟﺒﺪﻋﻲ -

ﺍﻟﻠﺠﻨﺔ ﺍﻟﺪﺍﺋﻤﺔ - ‏ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ ‏( 16708 ‏)

ﺱ : ﻣﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﺍﻟﺸﺮﻛﻲ ،
ﻭﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﺍﻟﺒﺪﻋﻲ ﺟﺰﺍﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ؟
ﺝ : ﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﺍﻟﺸﺮﻛﻲ : ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺘﻘﺮﺏ
ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻤﺘﻮﺳﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺘﻮﺳﻞ ﺑﻪ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻦ
ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ، ﻛﺎﻟﺬﺑﺢ ﻭﺍﻟﻨﺬﺭ ﻭﺍﻻﺳﺘﻐﺎﺛﺔ
ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ، ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ
ﻳﻔﻌﻠﻮﻧﻪ ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ :

{ ﻭَﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ
ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻫُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻬُﻢْ
ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷُﻔَﻌَﺎﺅُﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ }

ﻭﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭﻳﻮﻥ ﺍﻟﻴﻮﻡ
ﺣﻮﻝ ﺍﻷﺿﺮﺣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻙ ﺑﺎﻟﻠﻪ ،
ﻭﺩﻋﻮﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ، ﻭﺍﻟﺬﺑﺢ ﻭﺍﻟﻨﺬﺭ
ﻟﻬﻢ .
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﺍﻟﺒﺪﻋﻲ : ﻓﻬﻮ ﺳﺆﺍﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﺠﺎﻩ ﺃﻭ ﺑﺤﻖ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺃﻭ ﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ
ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ، ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺑﺸﻲﺀ
ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ .

PERBEDAAN ANTARA TAWASSUL SYIRIK DAN TAWASSUL BID'AH

LAJNAH DAAIMAH - FATWA No.16708

TANYA:
Apa perbedaan antara tawassul syirik dan tawassul bid'ah? Jazaakumullahu khairan.

JAWAB:
TAWASSUL SYIRIK adalah tawassul yg di dalamnya seseorang bertaqorrub kepada perantaranya dengan sesuatu dari macam-macam ibadah,seperti menyembelih,nadzar,istighotsah dan berdo'a,semisal yang di kerjakan oleh orang-orang jahiliyyah.sebagaimana Allah berfirman:

"Dan mereka beribadah kepada sesuatu dari selain Allah yang tidak bisa membahayakan mereka dan tidak juga memberikan manfaat kepada mereka.dan mereka berkata:
"mereka-mereka inilah pemberi syafa'at kami di sisi Allah"

Dan semisal apa yang di kerjakan oleh orang-orang Kuburiyyun (penyembah kubur) pada hari ini di sekitaran kuburan-kuburan berupa dari perbuatan kesyirikan,berdo''a kepada orang mati,menyembelih dan bernadzar untuk mereka.

Adapun TAWASSUL BID'AH adalah suatu permintaan kepada Allah dengan kedudukan atau haq salah satu dari kalangan nabi-nabi atau wali-wali dan orang-orang shaleh dengan tanpa bertaqarrub kepada mereka dengan sesuatu dari bentuk ibadah.

      
Di terjemahkan oleh 'Abdul hakim bin Amaruddin dengan sedikit perubahan.

MAKNA "الجماعة" PADA GELAR AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

MAKNA "الجماعة" PADA GELAR AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

Sahabat yang Mulia Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu'anhu berkata:

ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻣﺎ ﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻭﺣﺪﻙ

"Jama'ah adalah apa yang sesuai dengan
kebenaran walau pun engkau seorang
diri."
[Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal
Hawadits: 22]

Sunday, September 21, 2014

TENTANG ORANG YANG PALING SESAT

Intisari Tauhid [41]


TENTANG ORANG YANG PALING SESAT


Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ. وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

Dan tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada (sembahan-sembahan) selain Allah yang tidak dapat memperkenankan permohonannya sampai hari kiamat dan (sembahan-sembahan) itu lalai dari (memerhatikan) permohonan mereka. Apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya (sembahan-sembahan) itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” [Al-Ahqâf: 5-6]

Allah Ta’âlâ menghukumi bahwa tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah -dari kalangan makhluk yang tidak mampu mengabulkan doa mereka di dunia dan tidak menyadari doanya orang yang berdoa kepadanya-. Ketika ditegakkan kiamat dan dikumpulkan seluruh manusia, mereka (yang disembah selain Allah) memusuhi orang-orang yang berdoa kepadanya serta berlepas diri dari mereka. Maka tidak ada yang diperoleh oleh musyrikin kecuali kerugian di dunia dan akhirat. Di dunia mereka tidak memperoleh jawaban (atas permintaan mereka), dan di akhirat ibadah mereka diingkari dengan hujjah yang lebih kuat daripada ketika di dunia.


Dua ayat di atas menjelaskan hukum orang yang berdoa kepada selain Allah, bahwa mereka adalah orang yang paling sesat, dan menetapkan bahwa doa adalah ibadah, oleh karena itu barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allah maka ia telah musyrik.

Faedah Ayat

Bahwa doa adalah ibadah, maka barangsiapa berdoa kepada selain Allah sungguh ia telah berbuat syirik dengan kesyirikan yang besar.

Penjelasan tentang sengsaranya orang yang berdoa kepada selain Allah di dunia maupun di akhirat.

Bahwa kesyirikan adalah kesesatan yang paling besar.

Penetapan adanya hari berbangkit dan dikumpulkannya manusia untuk diberi balasan.

Bahwa berhala-berhala itu tidak dapat mendengar doa orang yang berdoa kepadanya juga tidak bisa mengabulkan (doa orang) tersebut, berbeda dengan pandangan (keyakinan) kaum musyrikin pada (berhala) itu.

Bahwa beribadah hanya kepada Allah akan membawa kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.



Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites