Friday, October 31, 2014

Fatwa Mengenai Hadiah

Fatwa Mengenai Hadiah

السؤال: يقول السائل يا فضيلة الشيخ الرسول صلى الله عليه وسلم قبل الهدية فما ضابط قبول الهدية من أصحابي وزملائي في العمل ؟

SOAL:::
Seorang penanya bertanya: wahai fadhilatusy-syaikh, Rasulullah shollallohu'alaihi wa sallam menerima hadiah, lalu apa sebenarnya ketentuan-ketentuan dalam menerima hadiah dari teman dan rekan satu kerja saya?

الجواب: لا تكون من الرشوة، إذا كنت مسئولاً موظفًا فلا تقبل الهدايا ممن لهم مراجعات لأن هذه هي الرشوة ملعون من دفعها ومن أخذها، نعم.

JAWAB::
Jangan dijadikan sebagai sogokan saja, jika engkau penanggung jawab sebuah pekerjaan, maka jangan terima hadiah dari kalangan tim audit (penilai pekerjaan; -penj.) karena itu teranggap sebagai sogokan yang dilaknat bagi pemberi dan penerimanya.

www.af.org.sa/en/node/2813

Penerjemah::
Ustadz Hudzaifah bin Muhammad
                 -hafizhahullah-

WhatsApp::
Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Fitnah Kubur- Oleh Al-Ustadz Hanan Bahanan (Khutbah Jumat Masjid AMWA 31-10-2014)

Unduh Audio Terbaru

Fitnah Kubur- Oleh Al-Ustadz Hanan Bahanan (Khutbah Jumat Masjid AMWA 31-10-2014)

http://bit.ly/1tGYO4g

Beberapa Pelajaran Surah An-Naziat- Oleh Al-Ustadz Dzulqarnain M.Sunusi (kajian di Masjid AMWA, 30-10-2014)

http://bit.ly/1xI5Hl1

Semoga Bermanfaat. Barokallahufiikum

WhatsApp Syiar Tauhid

Menghitung Zakat Barang Dagangan

Menghitung Zakat Barang Dagangan

السؤال: أحسن الله إليكم، هذا السائل إبراهيم يقول أنا تاجر عندي بضائعة تجارية في الدكان كيف يتم الزكاة لهذه البضائع؟

SOAL::
Semoga Alloh mencurahkan kebaikan kepada Anda, penanya bernama Ibrohin, bertanya: Saya adalah seorang pedagang, punya barang dagangan  di Toko, bagaimana cara menghitung zakat barang-barang simpanan dagang tersebut?

الجواب: بأن تجردها عند تمام الحول على قيمتها بما تسوي في السوق، ثم تجمل قيمتها وتخرج ربع العشر منها من قيمتها المجملة، نعم.

Jawab:
Engkau inventarisir (kalkulasi: penj.) barang-barang simpanan dagan tersebut tatkala telah sempurna masa setahun dengan nilai yang sama berkembang di pasar, kemudian engkau kumpulkan nilainya tersebut dan keluarkan empat persepuluh dari nilai keseluruhannya.

www.af.org.sa/en/node/2812

Penerjemah::
Ustadz Hudzaifah bin Muhammad
                -hafizhahullah-

WhatsApp::
Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

ATURAN ISLAM SEPUTAR KUBURAN

ATURAN ISLAM SEPUTAR KUBURAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membangun di atasnya.” [HR. Muslim]

At-Tirmidzi rahimahullah menambahkan riwayat,

وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا

“Dan beliau shallallahu’alaihi wa sallam melarang untuk menulis di atas kuburan-kuburan.” [HR. At-Tirmidzi dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma, Al-Irwa’: 757]

Beberapa Pelajaran:

1) Larangan mengapuri kuburan, maksudnya dilarang membangunnya dengan kapur dan yang semisalnya.

2) Larangan duduk di atas kuburan, apalagi menginjaknya, karena seorang muslim itu mulia ketika hidupnya dan matinya. Demikian pula dilarang bersandar kepada kuburan, sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Amr bin Hazm Al-Anshori radhiyallahu’anhu yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullah.

3) Larangan membangun di atas kuburan, yaitu meninggikannya, membuat bangunan di atasnya dan di sekitarnya yang menyerupai kubah, masjid, rumah maupun meletakkan kemah di atasnya. Cukuplah dengan menggunakan tanah sisa galian kuburan dan ditinggikan setinggi satu jengkal dari tanah, sebagaimana kuburan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disebutkan dalam hadits Jabir radhiyallahu’anhu dalam riwayat Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi rahimahumallah.

4) Larangan menulis di atas kuburan, seperti menulis nama mayyit, tanggal lahirnya, hari wafatnya, kebaikan-kebaikannya dan menulis sebagian ayat dan doa. Namun sebagian ulama membolehkan untuk menulis suatu tanda yang...

Selengkapnya: http://fb.me/3BcNfaZWA

Baarokallaahu fiykum.

Thursday, October 30, 2014

Tentang hari kiamat

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih. Dan telah diriwayatkan pula hadits serupa dari jalan lain, yaitu Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fulaih berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku berkata, telah menceritakan kepadaku Hilal bin Ali, dari Atho' bin Yasar, dari Abu Hurairah berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: ""Kapan datangnya hari kiamat?"" Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; ""beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, "" dan ada pula sebagian yang mengatakan; ""bahwa beliau tidak mendengar perkataannya."" Hingga akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata: ""Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?"" Orang itu berkata: ""saya wahai Rasulullah!"". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ""Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat"". Orang itu bertanya: ""Bagaimana hilangnya amanat itu?"" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ""Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat"". "

(HR Bukhari 57/7008)

Kebaikan Seseorang Itu Sesuai Kadar Ilmu Agama Yang Dipahamkan Allah Padanya

Penjelasan Sebuah Hadits

         Kebaikan Seseorang
     Itu Sesuai Kadar Ilmu Agama
  Yang Dipahamkan Allah Padanya

وعن معاوية رضى الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
(متفق عليه-  البخاري81 ومسلم 1037)

Dari Muawiyah Radhiallahu 'anhu berkata Rasulullah bersabda:

"siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada seorang hamba maka ia akan difahamkan tentang agamanya" [(Al Bukhary (71) dan Muslim (1037)]


قال الشيخ صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان:

ووجود هذا في الإنسان علامة على أن الله أراد به الخير،فإذا ريت الرجل يتفهه في أمور دينه،فاعلم أن الله به أراد به خيرا ،ومفهوم ذلك أن الرجل إذا لم يتفقه في دين الله أن الله أراد به شرا،هذا مفهوم المخالفة،فالإعراض عن دين الله لا يتعلمه ولا يتفقه في هذا علامة على أن الله أراد به شرا

Berkata Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan -hafizhahullah- :

"Dan adanya hal ini (Kefahaman dalam agama) pada seseorang merupakan tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan padanya.

Maka jika engkau melihat seseorang memahami perkara agamanya, maka ketahuilah bahwa dengannya Allah menghendaki kebaikan kepadanya.

Dan pemahaman darinya bahwa seseorang bila ia tidak memiliki pemahaman agama (yang benar) maka sesungguhnya Allah menginginkan kejelekan pada hamba tersebut, ini adalah faham kebalikan (mafhum mukhlafahnya).

Dan berpaling dari agama Allah dengan tidak mempelajarinya dan tidak mendalaminya maka padanya merupakan tanda bahwasahnya Allah menginginkan kejelekan padanya.

تسهيل الإلمام بفقه للأحاديث من بلوغ المرام للحافظ أحمد بن علي بن حجر العسقلاني (773-858)

صاحب الفضيلة الشيخ العلامة
د/صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان.
عضو هيئة كبار العلماء وعضو اللجنة الدائمة ﻟﻺفتاء

Al-Ustadz Abul Hasan Tamrin
                 -hafizhahullah-

               WhatsApp
       Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Wednesday, October 29, 2014

apakah kurban itu sunnah tiap tahun?

Kumpulan Fatwa

السؤال: يسأل هذا السائل يا شيخ عن الأضحية يقول: هل كل سنة؟

والبعض يقول بأنه لا يجوز تكسير عظم الأضحية هل هذا صحيح؟
SOAL
Seorang penanya -wahai Syaikh- terkait masalah kurban, ia berkata: apakah kurban itu sunnah tiap tahun???

Sebagian orang berkata tidak boleh memecahkan tulang hewan kurban, apakah hal ini benar???

الجواب: لا ليس صحيح يجوز تكسير عظم الأضحية للحاجة لا بأس بذلك مثل غيرها، وأما الأضحية كل سنة نعم هذا طيب هذه شعيرة عظيمة فإذا كررها كل سنة هذا شيء طيب وهي عبادة عظيم ، نعم .

JAWAB::
Tidak benar, boleh saja memecahkan tulang dari hewan kurban jika ada hajatnya, itu tidaklah mengapa, sama saja seperti yang lainnya.

Adapun kurban yang dilakukan setiap tahun, ya, bagus, kurban itu merupakan syi'ar agama yang agung, jika ia ulang terua setiap tahun maka itu perkara yang bagus, dan kurban juga merupakan sebuah ibadah.

Sumber::
www.af.org.sa/en/node/2822

Penerjemah::
Ustadz Hudzaifah bin Muhammad
                -hafizhahullah-

              WhatsApp
      Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Tuesday, October 28, 2014

Kedahsyatan Api Neraka

Lentera Wahyu [11]

Kedahsyatan Api Neraka

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Jibril ‘alaihissalâm,

مَا لِيْ لَا أَرَى مِيْكَائِيْلَ ضَاحِكًا قَطُّ قَالَ مَا ضَحِكَ مِيْكَائِيْلُ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

“Mengapa saya sama sekali tidak pernah melihat Mika`il tertawa? (JIbril) menjawab, ‘Mika`il tidak pernah tertawa semenjak neraka diciptakan.’.”

[Dihasankan oleh Al-Albany dengan seluruh jalurnya dalam Ash-Shahîhah dan Shahîh At-Targhîb]

Al-Ustadz Dzulqarnain M.Sunusi

WhatsApp Syiar Tauhid

Monday, October 27, 2014

Download audio kajian terbaru

Unduh Audio Terbaru

Al-Ustadz Khidir M.Sunusi

��-Jalan Selamat dari Fitnah Wanita: http://bit.ly/1w9zp4m

��-Kaidah Dalam Bersabar-1:
http://bit.ly/1swFrG3

��-Kaidah Dalam Bersabar-2:
http://bit.ly/1wD8trE

��-Kaidah Dalam Bersabar-3:
http://bit.ly/1zBSVtU

��-Kaidah Dalam Bersabar-4:
http://bit.ly/1tB2fdW

��-Kaidah Dalam Bersabar-5:
http://bit.ly/1DUr9Yg

Semoga Bermanfaat. Barokallahufiikum

��WhatsApp Syiar Tauhid��

Untuk Wali Nikah

Kumpulan Fatawa

UNTUK WALI NIKAH

"Ketika Wanita dan Pria Saling Mencintai dan Keduanya Sepakat untuk Menikah, Harom Hukumnya Seorang Wali Nikah Menolak Lamaran Dari Pria Tersebut"

أحسن الله إليكم،
Semoga Alloh mencurahkan kebaikan kepada Anda.

��السؤال: ما حكم رد الخاطب الكفء من قبل ولي المرأة؟ وما حكم الشريعة في عمله هذا؟

Soal:

Apa hukumnya menolak lamaran seorang yang sudah pantas, yang dilakukan oleh wali seorang wanita?, apa juga hukum syari'at terhadap perbuatannya itu?

الجواب: رد الخاطب الكفء إذا رضيت به المخطوبة حرام لا يجوز هذا عضل محرم، أما إذا لم ترضى به فإنها لا تجبر عليه، نعم .

Jawab:

Menolak lamaran dari seorang yang telah pantas/cocok, jika dirinya itu telah disenangi oleh wanita yang dilamar itu hukumnya haram tidaklah dibolehkan, itu adalah penentangan yang diharamkan.

Adapun jika si wanita memang tidak menyukainya maka tidaklah ia dipaksa untuk laki-laki tersebut.

Sumber::
www.af.org.sa/en/node/2810

Penerjemah:
Ustadz Hudzaifah bin Muhammad
                  -hafizhahullah-

              WhatsApp
       Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Empat hal yang meyenangkan, asyik dan berpahala

Fadiah di Siang Yang Cerah

" hal yang meyenangkan, asyik dan berpahala"
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Dari shohabat Jābir bin Abdillāh rodhiallōhu ànhumā, ia berkata:

“Aku mendengar Rosululloh Shollallohu’alaihi Wa Sallam bersabda:

كلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ الله لْهَوٌ وَلَعِبٌ إِلا أَنْ يَكُونَ أَرْبَعَةً: مُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَتَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمَشْيُ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ وَتَعْلِيمُ الرَّجُلِ السِّبَاحَة

‘Segala sesuatu yang bukan dari dzikr kepada Alloh merupakan perkara kesia-siaan yang melalaikan, kecuali 4 hal:

Senda-gurau seorang suami dengan istrinya.

Upaya seorang melatih kudanya.

Berjalan diantara dua anak panah berpacu dengan musuh di medan pertempuran.

Pendidikan dari seorang guru, untuk keahlian ‘R E N A N G’ “.

[HR. Ath-Thobrāniy dalam Al-Kabīr, dishohihkan Al-Albāniy dlm Silsilah].

Sunday, October 26, 2014

AUDIO TERBARU Tabligh Akbar Kota Mamuju : Membentengi Ummat dari Kesesatan ISIS dan Radikalisme

AUDIO TERBARU

Tabligh Akbar Kota Mamuju : Membentengi Ummat dari Kesesatan ISIS dan Radikalisme

Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafidzahullah

Link Download : http://goo.gl/0wW7Ak [MP3, 32 Kbps, 36 MB]

WA Radio As-Sunnah Sidrap

Saturday, October 25, 2014

Ajarkan Ananda tentang 'TAUHID' tuk pertama kalinya.

��Faidah Keluarga Sakinah Islami
.................................................

Ajarkan Ananda tentang 'TAUHID' tuk pertama kalinya.
******************************

وليكن تعايم الصغار توحيد الله قبل أي علم آخر، بل هو مقدم على تعلّم كتاب الله تعالى.

فعن جندب بن جنادة رضي الله عنه :

" كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن، ثم تعلمنا القرآن فزددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان."

وهذا هو المنهج الذي سار عليه سلف هذه الامة، إذ كانوا يهتمّون بعقائدهم، يعلمونهم توحيد الله منذ الصغار.

Dan hendaknya yang menjadi pengajaran untuk anak-anak adalah tentang 'Tauhid kepada Allōh' sebelum segala ilmu lainnya, bahkan pengajaran itu didahulukan daripada pengajaran terhadap kitabullōh Ta âlā (Al-Qurān).

Dari shohabat Jundub bin Àbdillāh rodhiallōhu ànhu, ia berkata: "Kami dulu, ketika berusia anak-anak remaja, tatkala bersama Rosulullōh Shollallōhu àlaihi Wa Sallam, beliau mengajari kami keimanan sebelum al-Qurān, kemudian setelah itu baru beliau mengajari kami Al-Qurān sehingga bertambahlah keimanan kami.

Namun, pada saat ini, kalian mempelajari Al-Qurān sebelum masalah Iman". (HR. Ibnu Mājah, dishohihkan Al-Albāniy)

Inilah manhaj (metode) yang telah ditempuh oleh generasi Salaf dari ummat ini, mereka itu sangat semangat untuk menanamkan Aqidah kepada anak-anak mereka, dan mereka mengajarkan tentang 'Tauhid kepada Allōh' sejak usia dini.

------------
[Dikutip dari kitab: "Tarbiyatul Aulād" karya Asy-Syaikh Najīb Jalwāh, dg Taqdim Asy-Syaikh Muhammad Àli Farkus]

Terjemah: Akhukum Hudzaifah bin Muhammad.

Orang Yang Cinta Terhadap Ilmu Seperti Orang Yang Sedang Dimabuk Asmara

Orang Yang Cinta Terhadap Ilmu Seperti Orang Yang Sedang Dimabuk Asmara
ومثل المحب للعلم مثل العاشق،فإن العشق يهتم بمحبوبه وﻳﻬﻴﻢ به،وكذلك المحب للعلم،فكما أن العاشق يبيع أملكه وينفقها على معشوقه فيفتقر،وكذلك محب العلم،فإنه يستغرق في ﻃﻠﺒﻪ العمر،فيذبه ماله ولا يتفرغ للكسب
��الآداب الشرعية 238/1��
 
Permisalan orang yang cinta terhadap ilmu adalah semisal orang yang sedang dimabuk asmara {kasmaran}. Sesungguhnya orang sedang dimabuk asmara akan memperhatikan kekasihnya dan selalu memikirkannya. Demikian pula orang yang cinta kepada ilmu. Sebagaimana orang yang lagi dimabuk asmara akan menjual segala miliknya dan membelanjakannya untuk mendapatkan orang yang ia cintai sehingga menjadi fakir,demikian juga orang yang cinta kepada ilmu. Dia akan habiskan umurnya untuk mencari ilmu. Habis hartanya dan tidak punya kesempatan untuk bekerja.

Al Adab Asy Syariyyah 1/238

Dan sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim,

ولو لم يكن في العلم الا القرب من رب العالمين والالتحاق بعالم الملائكة وصحبة الملأ الاعلى لكفى به فضلا وشرفا فكيف وعز الدنيا والآخرة منوط به ومشروط بحصوله

“Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Rabb semesta alam), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya”
(Miftah Daaris Sa’adah, 1: 104).

Kiriman
Ustadz Tamrin Abul Hasan

Terlena dan Lupa

Renungan hati.

Terlena

Imam Abul Âliyah rohimahullōh berkata:

�� يأتي على الناس زمانٌ :
▪تَخْرُبُ صدورُهم من القرآن
▪ ولا يجدون له حلاوةً ولا لذاذةً

��إن قصّروا عما أُمِروا به قالوا :
إن الله غفور رحيم !
��وإن عملوا بما نُهوا عنه قالوا :
سيُغفر لنا إنا لم نشرك بالله شيئا !

أمرُهم كلُّه طمع ليس معه صدق




"Kelak akan datang kepada manusia, suatu masa yang...

Hati-hati mereka rusak karena kosong dari Al-Qurān...

mereka itu tidak merasakan dari Al-Qurān  manis dan kelezatannya.

jika mereka lalai dari perintah, merekapun berkata:

'Ah, Allōh kan pengampun lagi penyanyang!'

dan jika mereka terjatuh ke dalam larangan, merekapun berujar:

'Allōh kan akan mengampuni kita, selama kita tidak berbuat kesyirikan pada-Nya dengan sesuatu apapun!'.

Urusan yang ada pada mereka seluruhnya hanyalah ketamakan tidak ada kejujuran".

[Az-Zuhd, karya imam Ahmad: 1714]

Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Terjemah Kitab Al-Adabul Mufrod.

l. Bab Firman Alloh ta'ala:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

"Kami perintahkan manusia agar berbuat baik
kepada kedua orang tuanya."

1/1. Dari Aim Amr Asy-Syaibani, dia berkata, "Pemilik rumah ini meriwayatkan kepadaku -sambil memberikan isyarat dengan tangannya ke rumah Abdullah- dia berkata,

۱/۱  سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ، قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى 

'Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Apakah perbuatan yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?." Nabi menjawab, "Shalat pada waktunya". Kemudian saya bertanya lagi, "Lalu apa?." Rasulullah menjawab, 'Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua'. Lalu saya kembali bertanya, "Lalu apa?" Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad dijalan Allah'." Abdullah berkata, 'Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Sekiranya aku meminta tambahan kepadanya, maka niscaya beliau akan menambahnya untukku.'"

Shahih, disebutkan di dalam kitab Al Irwa (1198), (Bukhari, 9. Kitab Mawaqitush-Shalat, 5- Bab Fadhlus-Shalati li Waqtiha. Muslim, 1-Kitab Al Iman, hadits 137,138,139 dan 140)

2/2. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata,

٢/٢ رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Keridhoan Robb terletak pada keridhoan kedua orang tua, dan kemurkaan Robb terletak pada kemurkaan kedua orang tua".

Hasan mauquf dan shahih marfu' didalam kitab Ash-Shahihah (515)

Friday, October 24, 2014

APAKAH DISUNNAHKAN BERPUASA PADA TANGGAL 1 MUHARRAM?

APAKAH DISUNNAHKAN BERPUASA PADA TANGGAL 1 MUHARRAM?

Bismillah_
Dalam hadits yang shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim_rahimahullah_dari sahabat Abu Hurairah_radhiyallahu 'anhu_,
Nabi Muhamamad_صلى الله عليه وسلم_bersabda:

   أفضل الصيام بعد الرمضان صيام شهر الله المحرم و أفضل الصلاة بعد المكتوبة صلاة الليل.
 
"SEBAIK-BAIK PUASA SETELAH PUASA BULAN RAMADHAN ADALAH PUASA DI BULAN MUHARRAM,DAN SEBAIK-BAIK SHOLAT SETELAH SHOLAT WAJIB ADALAH SHOLAT MALAM/TAHAJJUD.

Oleh sebab itu hendaklah seorang muslim bersemangat untuk memperbanyak puasa pada bulan muharram dengan berpuasa pada hari senin dan kamis, puasa tanggal 9 dan 10 muharram, puasa ayyamul bidh [ pada tanggal 13,14,15 ].

Dan paling minimal dia berpuasa pada tanggal 10 muharram yang dikenal dengan sebutan puasa 'aasyura. 

Nabi_صلى الله عليه وسلم_ di tanya tentang keutamaan puasa asyura [10muharram]:

                     يكفر السنة الماضية

PUASA 10 MUHARRAM AKAN MENGHAPUSKAN DOSA TAHUN YANG LALU.

Adapun mengkhususkan puasa tanggal 1 muharram yang mereka namakan puasa hari pembukaan tahun [ YAUM FAATIH MUHARRAM ]
Maka perkara ini tidak ada dalil dan contohnya dari Nabi_صلى الله عليه وسلم_.
Nabi_صلى الله عليه وسلم_bersabda dalam hadits 'aisyah_رضي الله عنها:

   من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد
 
BARANGSIAPA YANG MELAKUKAN SUATU AMALAH YANG BARU DALAM AGAMA INI YANG TIDAK ADA CONTOH DAN BIMBINGANNYA MAKA AMALAN TERSEBUT TERTOLAK/TIDAK DI TERIMA.

Wallahu a'lam,
Walhamdulillah.

Jawaban dari pertanyaan salah seorang ikhwan malasia_hafidzahullah.

              Al-Ustadz Sahal Abu 'Abdillah.
                              Yaman_

WA Radio As-Sunnah Sidrap

Poligami di antara Dua Perasaan

oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-
[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]
Seorang wanita duduk termenung sambil memikirkan orang-orang yang sudah berkeluarga dari kalangan karib kerabat, teman dan handai taulannya. Ia mulai menghitung usianya hari demi hari semakin bertambah, tanpa ada ketukan pintu dari seorang pria yang idamkan sebagai pasangan hidupnya. Tahun demi tahun berlalu, namun jodoh tak kunjung datang, akibat sedikitnya jumlah kaum lelaki dibandingkan wanita berdasarkan sensus kependudukan[1]Lalu apa solusinya?!
Di sudut sana, ada seorang lelaki siang hari banting tulang menafkahi istri yang tercinta. Dia telah membangun mahligai rumah tangga demi meraih kebahagian dunia dan akhirat, namun sampai hari ini ia belum dikaruniai anak yang merupakan buah hati dan kasih sayangnya. Keluar-masuk rumah, dan hidup bersama dengan istri yang tercinta, terasa belum sempurna kebahagiaan mereka. Rumah amat terasa sunyi tanpa bahak dan tangis sang kecil yang tercinta. Segala daya dan upaya mereka tempuh demi mendapatkan anak, namun mereka tak kunjung berhasil, bahkan dokter menvonis sang istri bahwa ia mandul, karena suatu penyakit yang mendera rahimnya, sehingga mereka tak akan ditaqdirkan mendapatkan anak. Lalu apa jalan keluarnya?!
Para pembaca yang budiman, sadarkah kita bahwa di negeri sana seorang wanita miskin yang hidup sebatang kara, tanpa sanak saudara dan kerabat yang bisa membantu dan menolong hidupnya. Terlebih lagi ia tak mendapatkan suatu pekerjaan yang layak bagi dirinya selaku wanita yang menjaga harga dirinya. Ia mengharapkan kehadiran seorang suami, namun tak ada mau, karena keadaan dirinya. Ada yang mau, hanya saja lelaki itu sudah beristri. Lantas apa solusinya?!
Di kampung sana, ada seorang pria yang bekerja di dua negeri yang berbeda. Ia tinggal sebulan disana dan sebulan disini. Sementara itu ia hanya memiliki seorang istri nun jauh dari pelupuk matanya. Terkadang hati kecilnya berbisik dan pandangannya menerawang ke langit di saat kesendirian memikirkan beratnya penderitaan saat berpisah dengan istri yang ia kasihi, tanpa ada teman yang memecahkan kebisuan dan mengiringi kebahagiaannya. Sesekali ia digoda oleh setan jahatnya agar ia mencari wanita penghibur. Tapi demikiankah jalan keluarnya?! Ah, tidak!! Itu adalah maksiat yang terkutuk. Lantas bagaimana dan apa yang ia harus lakukan dalam kondisi demikian?!
Seorang wanita keluar dari rumahnya dari waktu pagi hingga petang demi mencari sesuap nasi. Ia tak memiliki saudara dan ayah yang siap menanggung hidupnya. Kodrat seorang wanita yang lemah tak lepas dari aktifitasnya. Sebagian diantara wanita yang seperti ini sampai melakukan pekerjaan layaknya lelaki. Sementara itu tak ada pria lajang yang mau menyambutnya sebagai pendamping hidupnya. Ada yang mau, tapi ia tak mau dengan tipe wanita seperti itu. Dalam artian, si lelaki mencari wanita yang lebih mapan hidupnya, atau lebih lembut. Tegakah kita membiarkan wanita ini terus bekerja di luar, tanpa solusi yang cepat?! Lantas apa solusinya?!
Sebagian kaum lelaki ada yang memiliki syahwat yang tinggi. Sementara kadang istrinya haidh atau nifas (habis melahirkan) dalam waktu berhari-hari. Akankah kita menahan syahwat dan perasaannya yang bergejolak. Terkadang hal itu mudah menyeret dirinya kepada perbuatan mesum?!
Di lain pihak, beberapa perempuan pun terkadang ada diantara mereka memiliki gejolak syahwat yang berlebihan. Jika hal itu tak dilampiaskan melalui jalan pernikahan, maka akan menyeret mereka kepada jurang kehinaan. Ia akan mencari lelaki bejat yang siap menjatuhkan kehormatannya. Ada yang ingin menyelamatkan hidupnya dalam waktu yang cepat, namun ia ditolak calon mertua dengan dalih ia sudah beristri!! Lantas bagaimana menyelamatkan si gadis ini dari ancaman syahwat yang bergejolak. Akankah kita biarkan ia tersiksa dan pada akhirnya pergi mencari orang-orang yang siap memuaskan birahinya?!
Banyak diantara kaum wanita sudah menginjak usia layak  nikah, bahkan sudah melewati usia layak itu, tapi ia belum dilamar juga. Mereka sudah siap memasuki pintu pernikahan. Namun apa daya, kaum lelaki lajang sangat jarang yang mampu dan bersegera menikah akibat tingginya biaya pernikahan dan mahalnya kebutuhan hidup serta semakin melonjaknya harga barang-barang. Semua ini menjadi ganjalan pikiran para pria lajang[2].
Ada diantara kaum lelaki yang memiliki kemampuan harta dan fisik, namun ia sudah menikah. Akankah kita tutup pintu pernikahan baginya, sedang ia mampu menghidupi dua orang atau lebih istri?! Apakah kita tutup berbagai jalan-jalan kebaikan dan amal sholih baginya dengan menutup pintu nikah baginya untuk kedua dan seterusnya?!
Janda-janda yang ditinggal suami, entah karena mati atau karena cerai banyak hidup di sekitar kita. Siapa yang mau memperhatikan hidup mereka di saat kebanyakan kaum lelaki lajang tak mau menikah, selain dengan wanita perawan dengan berbagai macam alasan mereka?! Akankah kita rela menyaksikan mereka keluar bekerja layaknya kaum lelaki demi menghidupi diri, anak-anak dan keluarganya?! Sementara itu ada lelaki perkasa yang siap lahir-batin menikahinya dan menafkahinya selaku istri kedua atau seterusnya?! Nah, bagaimana perasaan kita dan perasaan mereka, bahkan perasaan kaum lelaki itu di saat kita menutup rapat pintu poligami baginya?!!!
Para pembaca yang budiman, inilah fakta nyata di alam nyata ini yang menggambarkan kepada kita tentang dua perasaan anak manusia yang dikorbankan oleh para penentang poligami. Akankah kita membiarkan dua perasaan itu menjadi korban dengan melarang poligami bagi mereka yang telah mampu dalam sisi harta, fisik, dan lainnya.
Tegakah kita membiarkan wanita dalam penantian yang panjang sampai mereka melewati usia pernikahan? Senangkah kita melihat penderitaan batin seorang lelaki yang bekerja sebulan disana dan sebulan disini, tanpa teman hidup, padahal ia mampu menikah dan menafkahi istri pertama bersama madunya?! Kira-kira berakalkah kita melarang suami (yang beristri mandul) dari berpoligami?! Lalu bayangkan perasaan dan batinnya yang tersiksa?!
Coba bayangkan betapa zholimya saat kita melarang para gadis menikah dengan suami yang sholih dengan alasan ia sudah beristri. Padahal si gadis siap dimadu dan mau menjalani kehidupan rumah tangga dengan suaminya. Masuk akalkah jika kita melarang mereka dari pernikahan dan poligami, sementara pada waktu yang sama kita biarkan mereka mencari lelaki dan pacar yang sering kali merenggut kehormatan mereka?!
Tegakah kita melihat seorang lelaki yang memiliki istri yang sakit atau lemah fisik. Di pagi hari ia mengerjakan tugas-tugas istrinya, mulai dari memasak, mencuci pakaian atau menjemurnya, menyapu, membersihkan rumah, menyiapkan makanan bagi anak-anaknya yang hendak pergi ke sekolah, melipat pakaian yang menumpuk dan sederet pekerjaan lain yang biasa dikerjakan oleh wanita saat ia di rumah. Sepulang kerja ia kembali mengerjakan sesuatu yang perlu dibereskan. Tegakah kita melihat mereka bekerja keras di rumah, selanjutnya banting tulang di lapangan kerja, tanpa ada bantuan dan hiburan dari istri di rumah?! Padahal si suami jika menikah, maka ia mampu menghidupi dan menanggung biaya hidup para istrinya serta bebannya akan terasa ringan.
Mereka yang melarang poligami dan menentangnya karena terpengaruh dengan pemikiran kafir barat; siapkah mereka menjalani kehidupan seperti ini sepanjang hidupnya, tanpa dibantu oleh istri yang lain?! Jawabnya, tentu tidak dan sekali-kali tidak!!!
Mungkin ada diantara mereka punya pikiran akan mendatangkan pembantu, baik lelaki, maupun perempuan. Namun hal itu bukanlah solusi yang tepat, sebab pembantu terkadang, bahkan sering kali menimbulkan problema lain bagi rumah tangga majikannya.
Sekali lagi bahwa semua fakta dan kenyataan di atas tak ada jalan dan solusi baginya, selain jalan poligami.Paling tidak poligami adalah salah satu solusi jitu bagi problema-problema sosial tersebut!!! Inilah jalan hikmah yang dituntunkan dan dianjurkan oleh syariat agama kita!!!!
Allah -Azza wa Jalla- berfirman dalam membolehkan poligami karena mengandung banyak maslahat dan kebaikan,
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)
Allah -Ta’ala- juga berfirman dalam Surah yang sama dalam menetapkan bolehnya poligami dengan asas adil diantara mereka dalam perkara lahiriah, bukan batin,
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa`: 129)
Ayat ini menunjukkan wajibnya suami yang berpoligami untuk berlaku adil diantara istrinya dalam perkara lahiriah berupa nafkah, dan pembagian hari. Adapun dalam perkara batin berupa kecintaan, maka seorang suami tidaklah wajib adil diantara mereka dalam hal itu sebagaimana Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu dalam mencintai istrinya. Beliau tidaklah menyamakan kecintaannya kepada semua istrinya. Bahkan beliau lebih mencintai sebagiannya atas sebagian yang lain. Dalam hal cinta, seorang manusia memang tak mampu berlaku adil, karena itu adalah urusan di luar batas kemampuannya. Oleh karena itu, Allah tidaklah mengharuskan suami yang berpoligami untuk berlaku adil dalam hal cinta. Yang wajib dalam perkara lahiriah.
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabariy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Kalian, wahai kaum lelaki, tak akan mampu menyamakan istri-istrimu dalam hal cinta di dalam hatimu sampai kalian berbuat adil di antara mereka dalam hal itu. Maka tidak di hati kalian rasa cinta kepada sebagiannya, kecuali ada sesuatu yang sama dengan madunya, karena hal itu kalian tidak mampu melakukannya, dan urusannya bukan kepada kalian”.[Lihat Jami’ Al-Bayan (9/284)]
Syaikh Muhammad bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- juga berkata dalam menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129), “Allah -Ta’ala- mengabarkan bahwa suami tidak akan mampu. Bukanlah kesanggupan mereka berbuat adil secara sempurna di antara para istri, sebab keadilan mengharuskan adanya kecintaan, motivasi, dan kecenderungan yang sama dalam hati kepada para istri, kemudian demikian pula melakukan konsekuensi hal tersebut. Ini adalah perkara yang susah dan tidak mungkin. Oleh karena itu, Allah -Ta’ala-  memaafkan perkara yang tidak sangup untuk dilakukan. Kemudian, Allah -Ta’ala- melarang sesuatu yang mungkin terjadi (yaitu, terlalu condong kepada istri yang lain, tanpa menunaikan hak-hak mereka yang wajib-pent),
فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ
Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (QS. An-Nisa`: 129)
Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan.Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya,  wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut, lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]
Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy -rahimahullah- berkata dalam ketika menafsirkan ayat di atas, “Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalam cinta, dan kecenderungan secara tabiat, karena hal itu bukan di bawah kemampuan manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar’iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan (oleh seorang suami)”.[Lihat Adhwa’ Al-Bayan (1/375)]
Poligami merupakan syariat yang penuh hikmah, adil dan lurus. Ia amat cocok dengan fitrah manusia. Poligami banyak membawa kemaslahatan hidup manusia dan mencegah berbagai macam kerusakan akhlak dan kebobrokan sosial di masyarakat.
Lantaran itu para nabi dan rasul sejak dahulu mengamalkan syariat poligami yang mulia ini, seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Sulaiman dan yang terakhir Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Mereka melakukannya agar umat manusia berteladan kepada mereka dalam kebaikan ini.
Poligami amat sesuai dengan asas perikemanusiaan. Dengan poligami, seorang suami membantu dan menafkahi banyak orang serta mengarahkan dan membimbing mereka ke jalan kemuliaan. Dengan poligami, pria telah menjaga kesucian dirinya dan kesucian diri para wanita yang menjadi istrinya. Tanpa suami, wanita seringkali menjadi bahan permainan kaum lelaki berhidung belang!! Apalagi jika para wanita campur baur dengan kaum pria di lapangan pekerjaan!!! Cerita hidup banyak membuktikan banyaknya wanita yang menjadi korban hina, akibat keluarnya mereka bekerja bersama kaum lelaki dalam satu lapangan dan tempat kerja!!!!
Jadi, poligami amat banyak membawa dampak positif bagi kehidupan manusia. Dengannya, banyak terealisasi amal-amal kebajikan dan ketaatan, berupa infak, sedekah, ta’awun (kerjasama) di atas kebaikan dan ketaqwaan, menjaga kehormatan dan kesucian diri dan pasangan, mendidik keluarga dan anak-anak yang ada di bawah pengasuhannya, meringankan tugas dan beban kehidupan dengan mudah dan bahagia, mencegah dan meminimalkan berbagai kerusakan akhlaq dan kebobrokan sosial akibat menjamurnya pergaulan bebas,meningkatkan perekonomian masyarakat[3] dan masih banyak lagi sisi-sisi positif yang ditimbulkan oleh syariat poligami!!
Tak heran bila sahabat Ibnu Abbas menyatakan bahwa sebaik-baik orang diantara umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya, dan tentunya maksimal empat orang.
Seorang tabi’in, Sa’id bin Jubair -rahimahullah-   berkata,
قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ:هَلْ تَزَوَّجْتَ؟ قُلْتُ: لاَ، قَالَ: فَتَزَوَّجْ، فَإِنَّ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَكْثَرُهَا نِسَاءً
“Ibnu Abbbas berkata kepadaku, “Apakah engkau telah menikah ?” Aku jawab, “ Belum”. Ibnu Abbas berkata,“Lantaran itu, menikahlah!! Karena, sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya”.  [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (5069)]
Poligami adalah perkara yang sudah masyhur dan lumrah di kalangan para sahabat Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam-. Mereka telah tahu, merasakan dan membuktikan kebaikan poligami bagi dunia dan akhirat mereka!!
Sahabat Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
مِنَ السُّنَّةِ إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الْبِكْرَ عَلَى الثَّيِّبِ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا وَقَسَمَ وَإِذَا تَزَوَّجَ الثَّيِّبَ عَلَى الْبِكْرِ أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلَاثًا ثُمَّ قَسَمَ
“Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setelah istri sebelumnya janda, maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari, lalu (setelah itu) ia membagi (hari-harinya). Jika seorang laki laki menikahi janda setelah istri sebelumnya perawan, maka sang suami tinggal di rumah istri yang janda selama tiga hari, kemudian dia bagi (hari-harinya)”. [HR Bukhariy dalam Ash-Shohih (no. 5214)]
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini, ada anjuran untuk menikah dan meninggalkan hidup membujang”. [Lihat Fathul Bari (9/10)]
Para pembaca yang budiman, satu diantara kemaslahatan akhirat yang amat dianjurkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, yaitu memperbanyak anak dan keturunan. Nah, poligami tentunya jalan yang bisa merealisasikan hal ini.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدُ، فَإِنِّيِ مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ
“Nikahilah wanita yang amat penyayang dan peranak. Karena, sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya kalian di depan para umat”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 2050) dan An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (no. 3227). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 3091)]
Salah satu diantara tujuan nikah adalah untuk mendapatkan keturunan yang banyak. Disinilah hikmahnya memperbanyak istri sampai maksimal empat orang, tak boleh lebih darinya. Itulah orang yang terbaik. Sebab, dengan nikah ia dapat memperbanyak anak. Dengan adanya anak, banyak jalan-jalan kebaikan yang dapat dilakukan oleh seseorang selaku orang tua[4].
Para pembaca yang budiman, di akhir tulisan ini, kami mau mengajak anda berpikir. Di saat ini ada orang yang berusaha menolak dan mengingkari syariat poligami dengan alasan mengorbankan perasaan wanita yang dimadu dan dipoligami. Tapi kira-kira siapakah yang lebih dikorbankan perasaannya?! Jika poligami ditolak, maka ada dua perasaan yang akan korban: perasaan laki-laki dan wanita yang siap berpoligami. Sementara jika berpoligami yang “korban” hanya satu perasaan, yaitu perasaan istri saja[5].
Tapi sebenarnya jika seorang wanita selaku istri pertama taat kepada agamanya; taat kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka pasti ia tak akan merasa rugi dan korban, bahkan ia merasa bahagia telah membantu suaminya dalam melakukan kebaikan[6]Sebab ia yakin bahwa tak ada sesuatu yang ditetapkan oleh Allah, kecuali kemaslahatan dan kebaikannya jauh lebih besar dibandingkan kerusakannya!!
Sekedar menjadi kesimpulan dan bahan renungan, di penghujung tulisan ini, kami nukilkan kepada anda ucapan ulama kita di bawah ini.
Al-Allamah Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy -rahimahullah- berkata,
“Diantara petunjuk Al-Qur’an menuju jalan lebih lurus, Al-Qur’an membolehkan berpoligami sampai empat orang istri dan bahwa seorang lelaki bila khawatir untuk berlaku adil diantara mereka, haruslah baginya mencukupkan diri dengan satu istri atau dengan budak (wanita)nya[7].
Tak ada keraguan sama sekali bahwa jalan yang merupakan paling dan paling adil adalah membolehkan poligami karena adanya beberapa perkara indrawi yang diketahui oleh setiap orang yang berakal. Diantaranya:
  • Seorang wanita (istri) akan mengalami haidh, sakit, nifas (melahirkan) dan seterusnya diantara kendala-kendala yang menghalangi wanita dari melaksanakan konsekuensi pernikahannya. Sementara itu suami amat siap dalam menambah umat (keturunan). Andaikan suami dihalangi dari hal itu di saat-saat adanya udzur-udzur itu, maka manfaat dan fungsi seorang suami secara percuma, tanpa dosa.
  • Diantaranya, Allah telah memberlakukan suatu kebiasaan bahwa kaum lelaki lebih sedikit dibandingkan kaum wanita di seluruh penjuru dunia dan kaum lelaki lebih sering berhadapan dengan penyebab-penyebab kematian dibandingkan kaum wanita di seluruh lini kehidupan. Andaikan seorang lelaki dibatasi  pada satu istri, maka akan tinggallah jumlah yang banyak dari kalangan wanita dalam kondisi terhalangi dari (mendapatkan) suami. Akibatnya, mereka terpaksa melakukan perbuatan keji (zina).
Berpaling dari petunjuk Al-Qur’an dalam permasalahan ini, termasuk sebab terbesarnya sirnanya akhlaq dan jatuhnya (kaum manusia) ke tingkatan hewani dalam hal mereka tak lagi menjaga dan memelihara kemuliaan, kehormatan diri dan akhlaq. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui…
  • Daintaranya, wanita seluruhnya telah bersiap menikah. Sementara itu, kebanyakan diantara kaum lelaki tak memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai tuntutan pernikahan karena kefakiran mereka. Jadi, kaum lelaki yang bersiap menikah lebih kurang dibanding kaum wanita yang bersiap nikah. Karena, wanita tak memiliki penghalang (untuk menikah)[8]. Sedangkan kaum lelaki dihalangi oleh kefakiran dan ketidakmampuan mereka atas konsekuensi pernikahan.
Andaikan seorang lelaki dibatasi pada satu istri saja, maka akan tersia-siakan kebanyakan wanita yang telah bersiap menikah, dengan sebab tidak adanya suami-suami mereka. Akhirnya, hal itu akan menjadi sebab hilangnya keutamaan dan tersebarnya perbuatan keji, penurunan akhlaq dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana hal itu telah nyata…
Adapun sesuatu yang diklaim oleh orang-orang mulhid dari kalangan musuh-musuh agama Islam bahwa poligami akan menciptakan adanya pertengkaran dan huru-hara yang berkepanjangan lagi mengantarkan kepada kesusahan hidup. Karena, setiap kali ia membuat salah satu dari dua istrinya, maka yang lainnya akan murka. Jadi, si suami senantiasa berada diantara dua kemurkaan; dan bahwa hal ini tentunya bukan termasuk hikmah!! Maka klaim ini keliru, jelas kekeliruannya bagi setiap orang yang berakal.
Karena, pertengkaran dan keributan diantara penghuni sebuah rumah, sama sekali tak akan pernah lepas darinya. Hal seperti itu akan terjadi antara seseorang dengan ibunya, antara ia dan bapaknya, antara ia dengan anak-anaknya, dan antara ia dengan seorang istrinya[9]. Jadi, hal ini (yakni, ribut dan bertengkar) adalah perkara yang lumrah, bukan masalah besar.
Hal demikian dibandingkan dengan kemaslahatan-kemaslahatan besar yang kami telah sebutkan dalam poligami berupa adanya perlindungan bagi kaum wanita, pemudahan jalan pernikahan bagi kaum seluruh wanita, dan semakin banyaknya jumlah umat untuk bangkit dengan jumlah besar ini di hadapan musuh-musuh Islam. Hal itu (keributan dan pertengkaran) dibandingkan semua kemaslahatan itu, laksana sesuatu yang tak ada (pengaruhnya). Karena, kemaslahatan yang lebih besar diutamakan pengambilannya atas pencegahan mafsadah (kerusakan) yang kecil.
Andaikan kita tetapkan (akui) bahwa keributan yang diklaim tadi dalam poligami adalah mafsadah (kerusakan), ataukah bahwa menyakiti hati istri pertama dengan (kehadiran) madunya, niscaya didahulukan kemaslahatan besar yang telah kami sebutkan atas kerusakan ini sebagaimana hal ini telah dikenal dalam ilmu ushul…
Jadi, Al-Qur’an telah membolehkan poligami, karena kemaslahatan wanita agar tidak terhalangi dari menikah dan kemaslahatan kaum laki-laki agar manfaat dan fungsinya tidaklah tertunda (yakni, sia-sia) di saat kondisi adanya udzur (penghalang) pada diri satu istri dan demi kemaslahatan umat agar jumlah mereka banyak, sehingga mungkin bagi mereka untuk menghadapi musuh agar kalimat Allah, dialah yang paling tinggi. Jadi poligami itu adalah penetapan syariat dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Tak ada yang mencela poligami, selain orang yang Allah butakan mata hatinya dengan sebab gelapnya kekafiran!! Sedang pembatasan istri dengan jumlah empat berasal Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembatasan itu adalah perkara yang pertengahan (sedang) antara nilai kurang yang akan mengantarkan kepada tidak berfungsinya sebagian fungsi kaum lelaki dengan nilai banyak yang merupakan kemungkinan tak mampunya seorang lelaki untuk melaksanakan berbagai tuntutan nikah bagi semua pihak. Ilmu itu hanyalah ada di sisi Allah -Ta’ala-“. [LihatAdhwa' Al-Bayan (3/22-24) karya Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy, cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]
Semoga ucapan Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy -rahimahullah- di atas dapat menjadi renungan bagi semua kalangan, sehingga tidak lagi merasa aneh, asing, ragu, atau mengingkari adanya poligami dalam Islam.
Harapan kami agar para wanita dan walinya dapat berlapang dada dengan syariat dan ketetapan Allah yang satu ini, bukan bersempit hati!! Yakinlah bahwa di balik itu banyak kebaikan, insya Allah.
Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا  [الأحزاب : 36]
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab : 36)
Di dalam banyak hadits shohih, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menetapkan bahwa poligami adalah kebaikan yang turunkan bagi umat Islam. Lantaran itu, tak selayaknya menganggap poligami itu adalah keburukan. Sebab tak mungkin Allah akan menurunkan syariat yang berisi keburukan dan kesusahan.
Jika terjadi perselisihan diantara manusia tentang kedudukan poligami antara yang mendukung dan menolak, maka posisikanlah dirimu dalam posisi kaum beriman yang senantiasa senang dan pasrah kepada syariat Allah dengan sepenuh hati. Jangan sampai kita selaku mukmin justru berada dalam posisi kaum kafir dan munafikyang selalu sempit hati dengan wahyu dan syariat Allah, sampai menolaknya dan mengingkarinya layaknya sikap kaum kafir!!!
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  [النساء : 65]
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasakan dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’ : 65)
Sebagian orang menolak poligami[10] dengan melihat fakta poligami yang dilakukan oleh orang-orang jahil atau orang yang nekat, tanpa memperhatikan kemampuan lahir dan batinnya. Hal yang seperti ini memang adalah pelanggaran!! Namun jangan karena adanya pelanggaran ini, akhirnya kita menentang poligami dan mengingkarinya!!!
Jika kita berbicara fakta, maka orang yang tak berpoligami pun banyak  kita temui di lapangan menganiaya, menzhalimi, menyakiti, bahkan membunuh istrinya!! Nah, apakah dengan fakta seperti ini membuat kita boleh ingkar dan menolak pernikahan dengan satu istri?!! Jelas tidak boleh!!!
Orang yang mengingkari poligami dengan alasan fakta tersebut, ibarat orang yang mengharamkan beli pisau dengan alasan bahwa banyak fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa pisau dipakai membunuh, merampok dan menzhalimi orang!!
Sisi lain, orang yang berpandangan seperti ini hakikatnya tidak adil, karena hanya memandang sebelah mata!! Mereka tak pernah menyebutkan fakta-fakta indah dari kehidupan orang-orang mampu dari kalangan agamawan dan orang-orang sholih, dimana mereka menghiasi kehidupan poligaminya dengan canda, tawa, bahagia dan dengan akhlak mulia!!!
Para pembaca yang budiman, inilah setitik dari selaut komentar tentang poligami. Andaikan kami tak dibatasi oleh waktu dan pekerjaan yang cukup banyak menyita waktu, niscaya kami akan membuat sebuah risalah khusus yang panjang seputar poligami, insya Allah. Semoga tulisan ini menjadi nasihat indah dan bermakna bagi kita semua[11].


[1] Berkurangnya jumlah kaum pria, akibat banyak kecelakaan kerja pada mereka yang bekerja di luar rumah dengan pekerjaan yang berat dan berbahaya. Selain itu, perang, kekacauan dan musibah sering kali menimpa mereka.
[2] Jika hal ini dibiarkan, maka akan menjamur dimana-mana gadis-gadis tua yang tak tahu mau kemana dan berbuat apa di masa tua. Jika orang tua masih ada, ya masih ringan. Tapi di masa mereka sudah berpulang ke alam sana, maka wanita-wanita tua ini pasti kebingungan.
[3] Sudah menjadi ketentuan bahwa kapan saja masyarakat itu jumlahnya banyak, maka pasti perekonomian masyarakat baik. Sebab, manusia memiliki kodrat untuk mempertahankan hidup melalui berbagai macam aktifitas hidup berupa perdagangan, keterampilan, nelayan, pengaturan kerja dan lainnya. Jika dibandingkan antara masyarakat yang berjumlah banyak dengan yang berjumlah sedikit, maka yang banyak jumlahnya akan lebih maju dan cepat berkembang dibanding yang sedikit.
[4] seperti, memberinya nafkah, mendidiknya, membiayai segala hajatnya, mengarahkan kehidupannya. Semua ini tentunya butuh pengorbanan dari orang tua. Namun di balik pengorbanan itu, ada segunung pahala menantinya.
Selain itu, dengan banyaknya anak, maka seseorang akan banyak mendoakan dan memperhatikannya, baik ia masih hidup, ataupun setelah ia mati.
[5] Bahkan dengan menolak poligami, banyak perasaan yang terlukai dan terzhalimi. Sebab, banyak diantara wanita yang siap poligami tapi dihalangi dengan berbagai macam usaha. Akhirnya, mereka tersia-siakan dan laki-laki pun tersia-siakan!!
[6] Karena, poligami hakikatnya bantu-membantu dan tolong menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan.
[7] Kemudian beliau menyebutkan ayat di atas dari Surah An-Nisaa’ : 3
[8] Sebab, mereka sisa menunggu lelaki yang melamarnya. Beda dengan kaum lelaki, mereka harus mempersiapkan segala macam persiapan mulai dari mahar, rumah, pekerjaan, perabot rumah tangga dan lainnya. Tentunya ini adalah penghalang-penghalang yang tak mudah disingkirkan begitu saja. Apalagi di zaman kita ini tuntutan hidup semakin kompleks, rumit dan banyak. Wanita dan walinya juga di zaman ini susah diajak mengerti dan toleransi dalam hal-hal itu.
[9] Maksudnya, orang yang punya seorang istri saja, kadang biasa bertengkar dan ribut. Tapi apakah dengan alasan seperti itu akhirnya seseorang tak mau menikahi seorang wanita sebagai istrinya?! Subhanallah, tentunya itu bukan alasan untuk tak menikah. Demikianlah halnya jika seorang menikah lagi dengan istri berikutnya, maka pasti akan terjadi kecemburuan dan persaingan. Namun semua itu adalah hal lumrah. Rumah tangga Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- saja biasa terjadi sesuatu dari hal itu.
[10] seperti yang anda bisa lihat pada http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5112415d3f0d7/poligami-bisa-menjadi-bungkus-kejahatan-perkawinan
[11] Tulisan ini selesai pada hari Selasa, 12 Dzul Qo’dah 1434 H yang bertepatan dengan 17 September 2013 M, di rumah kami, Gowa, Sulsel.

FATWA-FATWA SEPUTAR TAHUN BARU HIJRIYAH DAN SELAINNYA

FATWA-FATWA SEPUTAR TAHUN BARU HIJRIYAH DAN SELAINNYA

Asy-Syaikh Muqbil -rahimahullah- berkata dalam Ijabah As-Sail pada pertanyaan no. 167 ketika beliau ditanya tentang perayaan maulid, Isra` Mi’raj, dan Tahun Baru (hijriyah), maka beliau menjawab:

“(Semuanya adalah) bid’ah sedangkan Rasul -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak”.

Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir bahwa perayaan ini adalah BID’AH, tidak tsabit (shahih) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-, tidak pula dari para sahabat dan para tabi’in.

Kemudian beliau berkata, Rasul -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda:

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ, وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Saya terutus kepada kalian sedang kalian (dulunya) mempunyai dua hari raya yang kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyah, dan sungguh Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr (idul Adh-ha) dan hari Fithr (idul Fithri)”.

Hari raya selainnya merupakan hari-hari raya jahiliyah yang kami berlepas diri darinya. Maka kaum muslimin, wajib atas mereka untuk mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-. Inipun kalau perayaan maulid itu selamat dari ikhtilath (percamburbauran antara lelaki dan perempuan), pelaksanaan perbuatan fahisy (keji), dan selamat dari bentuk-bentuk kesyirikan, dan selainnya. Semua ini adalah kebatilan-kebatilan yang tidak akan hilang kecuali dengan menyebarkan sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-“.

Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh berkata tatkala beliau menyebutkan beberapa bid’ah dan larangan yang berkenaan dengan tauhid:

“Mengadakan perayaan-perayaan yang beraneka ragam dengan maksud taqarrub kepada Allah dengannya.

Seperti perayaan maulid nabawi, perayaan hijrah (Nabi), perayaan tahun baru hijriyah, perayaan Isra` dan Mi’raj, dan yang semisalnya.

Perayaan-perayaan ini adalah bid’ah, karena dia adalah ajang berkumpulnya (manusia) pada amalan-amalan yang dimaksudkan sebagai taqarrub kepada Allah. Sedangkan tidak boleh bertaqarrub kepada Allah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan, dan Allah tidaklah boleh disembah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan. Maka semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah terlarang untuk mengerjakannya”. Lihat Al-Minzhor fii Bayani Katsirin minal Akhtho` Asy-Sya`i’ah hal. 17

WA Radio As-Sunnah Sidrap

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites