Showing posts with label Mutiara Salaf. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Salaf. Show all posts

Tuesday, March 25, 2014

Nasihat yang Tulus Nan Penuh Kasih

Nasihat yang Tulus Nan Penuh Kasih

Dari Abu Dzarr Al-Ghifâry radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
يَأَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي لَكُمْ نَاصِحٌ، إِنِّي عَلَيْكُمْ شَفِيقٌ، صَلُّوا فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ لِوَحْشَةِ الْقُبُورِ، وَصُومُوا الدُّنْيَا لِحَرِّ يَوْمِ النُّشُورِ، وَتَصَدَّقُوا مَخَافَةَ يَوْمٍ عَسِيرٍ، يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي لَكُمْ نَاصِحٌ، إِنِّي عَلَيْكُمْ شَفِيقٌ
“Wahai sekalian manusia, saya adalah orang yang tulus untuk kalian, saya adalah orang yang mengasihi kalian. Kerjakanlah shalat pada kegelapan malam untuk kesendirian di alam kubur. Berpuasalah di dunia untuk terik panas hari kebangkitan. Bersedekahlah karena takut terhadap hari yang sangat berat. Wahai sekalian manusia, saya adalah orang yang tulus untuk kalian, saya adalah orang mengasihi kalian.”
[Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhd, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah]

Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS

Monday, March 24, 2014

Nasihat untuk Penduduk Negeri

Nasihat untuk Penduduk Negeri
Suatu hari Abud-Dardâ` radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan penduduk Dimaskus seraya berpetuah,
اسْمَعُوا مِنْ أَخٍ لَكُمْ نَاصِحٍ، إِنَّكُمْ تَجْمَعُونَ مَا لا تَأْكُلُونَ، وَتَأْمَلُونَ مَا لا تُدْرِكُونَ، وَتَبْنُونَ مَا لا تَسْكُنُونَ، فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ جَمَعُوا كَثِيرًا، وَأَمَّلُوا بَعِيدًا، وَبَنَوْا شَدِيدًا، فَأَصْبَحَ جَمْعُهُمْ بُورًا، وَأَصْبَحَ أَمَلُهُمْ غُرُورًا، وَأَصْبَحَتْ دُورُهُمْ قُبُورًا
“Dengarlah dari seorang saudara yang tulus untuk kalian. Sesungguhnya kalian mengumpulkan apa-apa yang tidak (selalu) kalian makan, kalian mengharapkan sesuatu yang tidak kalian dapatkan, dan membangun sesuatu yang tidak (terus) kalian tempati. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah mengumpulkan banyak (harta), berangan-angan jauh, dan membangun dengan kuat, tetapi yang mereka kumpulkan menjadi hancur, angan-angan mereka menjadi tipuan, dan rumah-rumah mereka menjadi kuburan.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abu Dawud dalan Az-Zuhd]
Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS

Saturday, March 15, 2014

Telah Mati Hati Kalian karena Sepuluh Perkara

Telah Mati Hati Kalian karena Sepuluh Perkara
Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia pun berkumpul kepadanya seraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian’. Sudah sekian lama kami berdoa tapi tidak dikabulkan?”
Beliau menjawab,
يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاءَ، أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ، الثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَالثَّالِثُ: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ K وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ، وَالرَّابِعُ: ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ، وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا، وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا، وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ، وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ، وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا، وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ
“Wahai penduduk Bashrah, hati kalian telah mati pada sepuluh perkara,
Pertama, kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak-Nya.
Kedua, kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian tidak mengamalkannya.
Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.
Keempat, kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi kalian mencocokinya.
Kelima, kalian mengatakan bahwa kami mencintai surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki)nya.
Keenam, kalian mengatakan bahwa kami takut dari neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.
Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.
Kedelapan, kalian sibuk membicarakan aib-aib saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.
Kesembilan, kalian memakan nikmat-nikmat Rabb kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.
Kesepuluh, kalian telah mengubur orang-orang mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyâ` 8/15-16. Disebutkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan), dan Al-Absyîhy dalam Al-Mustathraf 2/329]
Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS

Friday, March 14, 2014

Contoh dari Kaum Salaf dalam Menjaga Keikhlasan

Mutiara Salaf [28]
Contoh dari Kaum Salaf dalam Menjaga Keikhlasan
Al-Qâdhi ‘Alâ`uddin Ibnul Lahhâm berkata, “Pada suatu saat, Syaikh (Ibnu Rajab Al-Hanbaly) menyebutkan sebuah masalah kemudian beliau sangat meluas dalam (menjelaskan)nya. Saya sangat mengagumi beliau dan penguasaan beliau yang sangat kuat terhadap masalah itu. Setelah itu, terjadi (pembahasan) masalah tersebut yang dihadiri oleh pembesar-pembesar dari berbagai madzhab, dan (Ibnu Rajab) tidak berucap satu kalimat pun. Begitu (Ibnu Rajab) berdiri, saya berkata kepadanya, ‘Bukankah engkau telah menjelaskan (masalah tersebut) dengan pembicaraan (yang telah lalu)?’ (Ibnu Rajab) menjawab, ‘Saya hanya berbicara pada hal yang saya harapkan pahalanya, dan sangat khawatir untuk berbicara dalam majelis ini.’ …”
[Dzail ‘Alâ Dzail Thabaqât Al-Hanâbilah karya Ibnul Mibrad hal. 39 dengan perantara beberapa sumber]
Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS

Sunday, March 2, 2014

Nasihat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf

Nasihat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim,

“Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu (yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?” Hatim rahimahullâh menjawab, “(Saya telah mempelajari) delapan perkara: Pertama: Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya akan berpisah dari nya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan) kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur. Kedua: Saya melihat kepada Firman Allah Ta’âlâ, “(Dan orang-orang yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [An-Nâzi’ât: 40], maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada Allah Ta’âlâ. Ketiga: Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga bagi nya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya memperhatikan Firman (Allah) Subhânahu wa Ta’âlâ, “Apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” [An-Nahl:96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya hadapkan kepada-Nya agar ia kekal untukku di sisi-Nya. Keempat: Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Al-Hujarât:13], maka saya pun beramal dengan ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-Nya. Kelima: Saya melihat manusia saling mendengki (hasad). Lalu saya memperhatikan Firman (Allah) Ta’âlâ, “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka.” [Az-Zukhruf:32], maka saya pun meninggalkan hasad. Keenam: Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Sesungguhnya syaithân itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh.” [Fâthir:6], maka saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithân sebagai musuh satu-satunya. Ketujuh: Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” [Hûd:6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa yang merupakan hak Allah terhadapku dan saya tinggalkan apa yang untukku di sisi-Nya. Kedelapan: Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada pergangan, usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada Allah.

[Bahjatul Majâlis Wa Anîsul Muqîm Wal Musâfir Juz II hal 12-13] Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net Twitter: @DzulqarnainMS

Tuesday, February 25, 2014

Mengukur Keikhlasan

Mengukur Keikhlasan

Muhammad bin Abdawaih berkata, Saya mendengar Al-Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya`, dan beramal karena manusia adalah kesyirikan. Ikhlas adalah Allah menyelamatkan engkau dari dua perkara tersebut.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu Asâkir, sebagaimana dalam kitab Al-Âtsâr Al-Wâridah ‘Anil Aimmah fi Abwâbil I’tiqâd 1/159]

Juallah Dia, Walaupun Hanya dengan Harga Segenggam Debu

Juallah Dia, Walaupun Hanya dengan Harga Segenggam Debu

Muhammad bin Abdillah Al-Baghdâdy bersenandung,
إِذَا مَا الْمَرْءُ أَخْطَأَهُ ثَلَاثٌ ... فَبِعْهُ وَلَوْ بِكَفٍّ مِنْ رَمَادِ
سَلَامَةُ صَدْرِهِ وَالصِّدْقُ مِنْهُ ... وَكِتْمَانُ السَّرَائِرِ فِي الْفُؤَادِ
“Apabila seorang kehilangan tiga (sifat),
Juallah dia, walaupun hanya dengan harga segenggam debu.
(Tiga sifat itu adalah) keselamatan hati, kejujuran jiwa,
dan menyembunyikan rahasia (orang lain) di dalam hati.”
[Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibban hal. 53]

Sunnah Allah Pada Suatu Kebenaran

Sunnah Allah Pada Suatu Kebenaran

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَالْحَقُّ مَنْصُوْرٌ وَمُمْتَحَنٌ فَلَا
تَعْجَبْ فَهَذِيْ سُنَّةُ الرَّحْمَانِ
“Kebenaran itu akan selalu menang dan mendapat ujian, maka janganlah
heran, sebab ini adalah sunnah Ar-Rahman (sunnatullah).”
[Al-Kâfiyah Asy-Syâfiyah 1/52 (Syarah Syaikh Shalih Al-Fauzan)]

Panah-Panah Kematian!

Panah-Panah Kematian

Ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid memintah nasihat ringkas, Abul ‘Atâhiyah menasihatinya dalam beberapa untaian syair,
لَا تَأْمَنِ الْمَوْتَ فِيْ طَرْفٍ وَلَا نَفَسٍ ... وَلَوْ تَمَنَّعْتَ بِالْحِجَابِ وَالْحَرَسِ
وَاعْلَمْ بَأَنَّ سِهَامَ الْمَوْتِ قَاصِدَةٌ ... لِكُلِّ مَدَرَّعٍ مِنَّا وَمُتَرَّسِ
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا ... إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِيْ عَلَى الْيَبَسِ
“Janganlah merasa aman dari kematian dalam sekejam maupun senafas
walaupun engkau berlindung dengan tirai dan para pengawal.
Ketahuilah bahwa panah-panah kematian selalu membidik
setiap dari kita, yang berbaju besi maupun yang berperisai.
Engkau menghendaki keselamatan, sedang engkau tidak menempuh jalan-jalannya,
sesungguhnya perahu tidak akan berjalan di atas daratan kering.”

[Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibban hal. 285].

Keberkahan pada Ucapan Ulama Salaf

Keberkahan pada Ucapan Ulama Salaf

Ditanyakan kepada Hamdûn bin Ahmad Al-Qashshâr, “Kenapa Ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?”
Hamdûn menjawab, “Karena mereka berbicara untuk keagungan Islam, keselamatan jiwa-jiwa (manusia), dan (meraih) ridha Ar-Rahman. Sedang kita berbicara untuk kemulian diri sendiri, mencari dunia, dan penerimaan manusia.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân]

Takwa adalah Jalan Keselamatan dari Fitnah

Takwa adalah Jalan Keselamatan dari Fitnah

Dalam menghadapi fitnah, Thalq bin Habib menasihatkan agar berlindung dengan ketakwaan. Ketika ditanya, “Apa takwa itu?” Beliau menjawab,
العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكُ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
“Takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, mengharap rahmat Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah, takut akan siksaan Allah.”
[Siyâr A’lam An-Nubalâ` dan selainnya]

Di Antara Petaka Dosa

Di Antara Petaka Dosa

Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,
إِنَّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَنُورًا فِي الْقَلْبِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ، وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ، وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ وَالْقَلْبِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضَةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ
“Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada kejelekan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.”
[Al-Jawâb Al-Kâfy hal. 62]

Allah Menyiksamu Karena Menyalahi Sunnah

Allah Menyiksamu Karena Menyalahi Sunnah

Imam Para Tabi’in, Sa’id bin Musayyab rahimahullah melihat seorang melakukan shalat sunnah dua raka’at setelah shalat subuh, kemudian Sa’id melarangnya. Orang tersebut berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah menyiksaku karena suatu shalat?!” Sa’id menjawab,
لَا وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلَافِ السُّنَّةِ
“Tidak, tapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah.”
[Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ad-Darimy dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwâ` 2/236]

Musibah Pada Kendaraan dan Istri Karena Maksiat

Musibah Pada Kendaraan dan Istri Karena Maksiat

Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyâdh,
إِنِّي لأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي وَجَارِيَتِي
“Sesunggunya aku bermaksiat kepada Allah, hal tersebut aku ketahui (pengaruh jeleknya) dari akhlak kendaraan dan istriku.”
[Shaidul Khâthir karya Ibnul Jauzi dan Al-Jawâb Al-Kâfi karya Ibnul Qayyim]

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites