Wednesday, October 1, 2014

FATWA SEPUTAR HAJI 01

FATWA SEPUTAR HAJI 01
     
           Perjalanan Mulia
                   Tahallul

��السؤال:
من تحلل التحلل الأول في الحج وبقي عليه من التحلل الثاني الحلق ولم يحلق حتى خرجت أشهر الحج، فماذا عليه؟

Tanya::
Seseorang yang bertahalul pertama dalam haji, dan mengakhirkan tahallul kedua dan menggundul.

Dia tidaklah menggundul hingga berakhir bulan-bulan musim haji, apa yang harus ia lakukan?

��الجواب:
ليس عليه شيء، لكن لا يقرب زوجته حتى يحلق، لأنه لم يتحلل التحلل الثاني فلا يقرب زوجته حتى يحلق، فإذا وطيء زوجته فيكون عليه فدية ولا يسقط الحلق، يحلق في أي وقت وفي أي مكان؛ لكن إن حصل منه جماع فعليه فدية، وإن لم يحصل يحلق والحمد لله ويكفي، نعم.

Jawab::
=>> Tidak ada kewajiban baginya. Akan tetapi, dia jangan mendekati istrinya hingga ia menggundul.

Sebab, ia belum bertahallul dengan tahallul kedua, sehingga ia jangan mendekati istrinya hingga ia menggundul.

Apabila ia berhubungan dengan istrinya, wajib baginya untuk membayar fidyah dan menggundul juga tetap dilakukan, tidak menjadi gugur.

Ia lakukan menggundul di waktu kana saja dan di mana saja, jika ia berhubungan dengan istrinya, ia tunaikan fidyah, namun jika itu tidak terjadi, maka alhamdulillah, cukup ia menggundul saja.

Ya.

------------------------------------------
Semoga Allah Merahmati

Sumber::
1. haj.af.org.sa/node/211

Penerjemah::
Al-Ustadz Hudzaifah Abu Khodijah
                 -hafizhahullah-

               WhatsApp
  Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Serial Manzhumah Al-Baiquniyah (5)

Serial Manzhumah Al-Baiquniyah [5]

Penerjemah : Al-Ustadz Hammad Abu Muawiyah

Syarat Ketiga: adh Dhabthu (1)
adh Dhabthu menurut ahli hadits ada 2 macam:
1. Dhabthu shadrin (hafalan yang kuat, penj.)
2. Dhabthu kitàbin (catatan yang bagus, penj.)

Al Imam al Hafizh Yahya bin Ma’in berkata, “Dia ada 2 macam: Tsabtu hifzhin (kekuatan hafalan, penj.) dan tsabtu kitàbin (bagusnya catatan, penj.). Sementara Abu Saleh juru tulis al Laits adalah perawi yang bagus catatannya.” (Tahdzib at Tahdzib: 5/260)

Al Khathib al Baghdadi dalam al Kifayah (340-341) meriwayatkan bahwa Marwàn bin Muhammad ath Thàthiri berkata, “Ada 3 hal yang seorang ahli hadits harus memiliki minimal 2 di antaranya: Hafalan yg kuat, kejujuran, dan catatan yang bagus. Jika dia tidak memiliki salah satu di antaranya namun dia masih memiliki 2 yang lainnya, maka itu tidak ada masalah. Jika dia tidak punya hafalan yang kuat namun dia punya kejujuran dan catatan yang bagus, maka itu tidak ada masalah.”

Beliau juga berkata, “Sanad sudah sangat panjang, dan akhirnya orang-orang nantinya akan kembali (mengandalkan) buku-buku.”

Yang Pertama: Dhabthu Shadrin (ضبط صدر)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menghafal dengan baik hadits yang pernah dia dengar, hingga dia mampu melafalkan hadits itu (dari hafalannya, penj.) kapan saja dia mau.” (Nuzhah an Nazhar hal. 29)

Yang Kedua: Dhabthu Kitàbin (ضبط كتاب)
��Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menjaganya (buku catatan haditsnya, penj.) mulai sejak dia mendengar (baca: mencatat) di dalamnya dan dia mentash-hih (mengecek kembali kebenaran, penj.) hadits-hadits yang dia tulis kepada guru yang dia mencatat hadits-hadits itu drnya.” (Idem)

Ada banyak perawi yang hanya mempunyai dhàbith jenis yang pertama.
Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Tidak ada sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang lebih banyak meriwayatkan hadits dari beliau dibandingkan saya. Namun Abdullah bin Umar menulis hadits-haditsnya sementara saya tidak.” (Al Bukhari no. 113)

Keadaan hal ini (hanya mengandalkan hafalan, penj.) terus berlangsung dan banyak ulama huffazh yang seperti itu, seperti: Amir asy Sya’bi, Syu’bah bin al Hajjaj, Waki‘ bin al Jarrah, Malik bin Anas, Hammad bin Zaid, ats Tsauri, Ibnu Uyainah, dan selainnya.

Isràìl bin Yùnus berkata, “Saya menghafal hadits-hadits Abu Ishaq sebagaimana saya menghafal satu surat dalam al Quran.” (Al Ja’diyàt: 2/779)

Di antara ulama ada yang memiliki kedua jenis dhabth di atas; Hafalan dan catatan hadits yg bagus.
Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk hanya menyampaikan hadits dengan membaca dari buku-buku hadits mereka. Itu dikarenakan hafalan manusia itu kurang bisa diandalkan, sementara potensi untuk salah hafal akan selalu ada, apalagi jika sanad haditsnya panjang.

Di antara ulama yang seperti ini adalah: Imam Ahmad bin Hanbal, Ali bin al Madini, Ibnu al Mubàrak, Abu Zur’ah ar Razi, Ibnu Dìzìl, dan selainnya.

Imam al Hafizh Ali bin al Madini berkata, “Tidak ada seorang pun di antara teman-teman kami yang lebih kuat hafalannya dibandingkan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal. Namun telah sampai kabar kepadaku bahwa beliau tidak pernah membawakan hadits kecuali sambil membaca dari buku. Dan beliau adalah suritauladan bagi kami.” (Ibnu Abi Hatim dalam Muqaddimah al Jarh wa at Ta’dìl hal. 295)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih sedikit kekeliruannya (dalam hadits, penj.) dibandingkan Ibnu al Mubarak. Hal itu karena beliau adalah seseorang yang selalu menyampaikan hadits dengan membaca dari buku, dan siapa saja yang seperti itu maka hampir-hampir tidak akan punya banyak kekeliruan. Sementara Waki‘  menyampaikan hadits dari hafalannya, tidak pernah melihat ke dalam bukunya. Akibatnya, beliau mempunyai (banyak) kekeliruan. Seberapa kuat sih hafalan seseorang?!” (al Fasawi dalam al Ma’rifah wa at Tàrìkh: 2/197)

Al Hafizh Abu Zur’ah ad Dimasyqi berkata dalam kitab Tarikh (no. 1203/222) karyanya, “Aku mendengar nama Hammad bin Zaid dan Ibnu Ulayyah diperbincangkan di sisi Abu Nu’aim, bahwa Hammad menghafal hadits-hadits Ayyub, sementara Ibnu Ulayyah menulisnya. Maka Abu Nu’aim berkata, “Aku menjamin kepadamu, bahwa siapa saja yang tidak merujuk ke buku (catatan haditsnya, penj.), maka dikhawatirkan dia akan terjatuh dalam kekeliruan.”

http://www.al-atsariyyah.com

WA Radio As-Sunnah Sidrap

Do'akanlah para gurumu serta siapa saja yang memiliki jasa di dalam mengajarkanmu

BismiLLAH.

��الرسالة رقم ◁١٦٢▷

��ادعُ لمشايخك ومن له يد في تعليمك..

��قال الإمام أحمد -رحمه الله- لأحد أبناء الشافعي: (أبوك من الستة الذين أدعو لهم كل ليلة وقت السحر).
��سير أعلام النبلاء: (١١/صـ٢٧٧).

��اللهم اغفر لأئمتنا ومشايخنا واجزهم عنا خير الجزاء.

�� للاشتراك في خدمة: "شبكة البحرين السلفية" على الواتساب: أرسل كلمة "اشتراك" على الرقم: ٠٠٩٧٣٣٥٠٩٥٧٠٩

Surat no . 162

Do'akanlah para gurumu serta siapa saja yang memiliki jasa di dalam mengajarkanmu .

Berkata Imam Ahmad - rahimahullah - kepada salah seorang putra imam Asy syaafi'i

( Bapakmu diantara enam orang yang saya do'akan mereka setiap malam di waktu sahur)

siyar a'laam annubalaa` : ( 11/hal 277)

Ya Allah Ampunilah para ulama kami serta para guru kami dan berilah ganjaran yang paling terbaik bagi mereka

faedah WA Almultaqa Assalafy Indonesia - Tas Riau.
Pent. Muhammad RizQ.

Tidak ada akhlaq bagi seorang yang banyak dusta

‏قال الأحنف بن قيس رحمه الله:

"لا مروءة لكذاب، ولا راحة لحسود، ولا خلة لبخيل، ولا سؤدد لسيئ الخلق"

الزهد للإمام أحمد صـ١٩٢

●‏قال الحسن البصري رحمه الله:

الكذب جماع النفاق

الزهد للإمام أحمد صـ٢٢٥

Berkata al Ahnaf bin Qeis rahimahullahu Ta'ala :

((Tidak ada akhlaq bagi seorang yg bnyak dusta, dan tidak ketenangan bagi seorang yg hasad, dan tidak sahabat bagi seorang yg bakhil, dan tidak ada kepemimpinan bagi seorang yg jelek akhlaqnya)).

Az zuhd oleh Imam Ahmad hal. 192.

Berkata al Imam al Hasan al Bashriy rahimahullahu Ta'ala :

((Dusta merupakan kumpulan nifaq)).

Az Zuhd oleh al Imam Ahmad hal. 225.

Pent. Abu 'Abdul 'Aziiz, al Multaqaa as Salafiy, Wa Tas Riau.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM PUN TERLUKA

Intisari Tauhid [46]

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM PUN TERLUKA

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

شُجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَّتُهُ. فَقَالَ: (كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ؟) فنَزَلَتْ: لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ.

Pada perang Uhud, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam terluka pada kepala, dan gigi taring beliau patah. Beliau pun bersabda, ‘Bagaimana akan beruntung, suatu kaum yang melukai Nabi mereka?’ Maka turunlah (ayat),
‘Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka.’ [Âli ‘Imrân: 128].”

Anas radhiyallâhu ‘anhû mengabarkan apa yang terjadi pada diri Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam peperangan Uhud berupa berbagai gangguan dan cobaan dari tangan-tangan musuh-musuhnya berupa luka-luka di dua tempat di tubuh beliau yang mulia. Maka seakan-akan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam merasa putus asa bahwa orang-orang kafir Quraisy akan mendapatkan keberuntungan. Maka dengan sebab itulah dikatakan kepada beliau,

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

“Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka.” [Âli ‘Imrân: 128]

Artinya akibat akhir dari suatu perkara dan hukum terhadap seseorang adalah di tangan Allah, maka berjalanlah kamu dengan keadaanmu dan teruslah berdakwah.

Pada hadits ini terdapat dalil akan batilnya kesyirikan kepada para wali dan orang shalih, sebab apabila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mampu menolak musibah yang menimpanya, dan beliau juga tidak mempunyai hak sedikitpun untuk turut campur dalam menentukan suatu perkara, maka lebih-lebih selain Beliaushallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Faedah Hadits

Menunjukkan batilnya kesyirikan kepada para wali dan orang shalih, karena apabila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam saja tidak mampu menolak bahaya dari diri beliau sendiri dan tidak berkuasa terhadap suatu perkara apapun, terlebih lagi selain beliau.

Terjadinya sakit dan ujian pada diri para nabi ‘alaihimus shalâtu was salâm.

Wajibnya ikhlas dalam beribadah kepada Allah, karena hanya Dia saja yang menguasai segala urusan.

Disyariatkan untuk bersabar dan menanggung gangguan dan kesulitan di jalan dakwah kepada Allah.

Dilarangnya berputus asa dari rahmat Allah, meskipun manusia berbuat berbagai macam kemaksiatan yang selain kesyirikan.

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syi'ar Tauhid

SANAD dan MATAN

Fatwa Syaikh Shalih Fauzan

                SANAD dan MATAN

↩يقول : فضيلة الشيخ وفقكم الله ، أليست قاعدة : إن صحة الإسناد دليل على صحة المتن ، قاعدة غير مطّردة ؛ لأنه قد يصح الإسناد ولا يصح المتن ؟

Tanya:

Wahai Syaikh yang mulia, semoga Allah memberi taufiq kepadamu. Bukankah kaidah,

"Sesungguhnya shahihnya sanad menunjukkan shahihnya matan"

adalah kaidah yang tidak umum, karena bisa jadi sanadnya shahih tapi matannya tidak shahih?

الجواب : هذا يقوله العقلانيون ، هم الذين أظهروا هذه المقالة المنكرة ، يقولون قد يصح الإسناد ولا يصح المتن ، هذه المقولة قالها العقلانيون وهي باطلة ، لا ، إذا صح الإسناد صح المتن ، لأنه لا يمكن أن يصح الإسناد برواته الثقات إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ويكون خطأً . نعم

Jawab:

Ini adalah ucapan 'aqlaniyyun (orang-orang yang mendahulukan akal melebihi wahyu), merekalah yang memunculkan ucapan mungkar ini. Mereka berkata,

"Bisa jadi sanadnya shahih tapi matannya tidak shahih".

Ini adalah pendapat 'aqlaniyyun dan pendapat tersebut batil, tidak benar.

Kaidah yang benar adalah apabila shahih sanadnya maka shahih matannya, karena tidak mungkin matannya salah apabila sanadnya shahih sampai kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dengan rawi-rawi yang terpercaya.

Na'am.

Sumber::
alfawzan.af.org.sa/node/2417

Penerjemah::
Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray
                -hafizhahullah-

           WhatsApp
Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Karakter Wanita Penghuni Surga & Penghuni Neraka

Audio Kajian Terbaru

Karakter Wanita Penghuni Surga & Penghuni Neraka- Ustadz Said Ruslan: http://bit.ly/10l6AFR

Hadits Arbain An-Nawawiyah -Hadits Niat- Ustadz Said Ruslan: http://bit.ly/1rKBNga

Jalan Selamat tuk Menggapai Syafa'at- Ustadz Sofyan Ruray: http://bit.ly/1pFdTwM

Mahalnya Nilai Sebuah Hidayah - Ustadz Sofyan Ruray: http://bit.ly/1vvZRmY

Kiat-Kiat Mendidik Anak -Ustadz Sofyan Ruray: http://bit.ly/1vw6IxC

Keutamaan Dzulhijjah dan Hikmah Agung di Balik Syariat BerQurban - Ustadz Khidir: http://bit.ly/1sMFkNd

Jangan Duduk Dengan Ahlul Ahwa -Ustadz Muhammad Barmim: http://bit.ly/1pFdZEN

Hikmah Madrasah Haji- Ustadz Riskhy Ariesta: http://bit.ly/1v3waIv

Semoga Bermanfaat. Barokallahufiikum.

WhatsApp Syiar Tauhid

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites