Monday, March 10, 2014

HUKUM JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT, ["CICILAN"DENGAN ADANYA TAMBAHAN DARI HARGA KONTAN],YANG DIKENAL DALAM ISTILAH FIKIH: [BAI'UT TAQSITH].

بسم الله_
        
HUKUM JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT, ["CICILAN"DENGAN ADANYA TAMBAHAN DARI HARGA KONTAN],YANG DIKENAL DALAM ISTILAH FIKIH:
[BAI'UT TAQSITH].

BENTUK TRANSAKSI:
Seorang pedagang berkata kepada pembeli: saya menjual mobil ini dengan harga kontan 20 juta ataukah 21 juta dengan sistim cicilan.
Maka berkata sang pembeli:
Saya menginginkannya dengah harga 21 juta cicilan.
Kemudian kedua belah pihak sepakat atas perkara tersebut.

��PENDAPAT ULAMA DALAM PERMASALAHAN INI
Terjadi perselisihan pendapat dikalangan ulama tentang hukum jual beli yang telah di paparkan di atas:

1.PENDAPAT PERTAMA:
  Pendapat jumhur ulama,yang membolehkan bentuk jual beli semacam ini.

DALIL MEREKA:
1.Asal hukum jual beli adalah "DIPERBOLEHKAN".
   jual beli dengan sistem cicilan ini tidak ada dalil yang menunjukkan pengharamannya,maka hukumnya kembali kepada hukum asal yaitu al-ibahah/dibolehkan.
-Allah 'azza wajalla berfirman:
     [ أحل الله البيع... ].
"DAN ALLAH TA'ALA MENGHALALKAN JUAL BELI
(srt al-baqorah:275).

-dan juga firman Allah:
    [ إﻻ أن تكون تجرة عن تراض ].
  "KECUALI DENGAN PERDAGANGAN YANG (DIDASARI) DENGAN KERELAAN(SUKA SAMA SUKA DIANTAR KEDUA BELAH PIHAK)".
(Srt an-nisaa:29).

-Demikian pula sabda nabi_صلى الله عليه وسلم_:
   [ إنما البيع عن تراض ].
    SESUNGGUHNYA JUAL BELI ITU (DIBANGUN) ATAS DASAR SALING RIDHO/RELA.

Demikian pula,ketika menengok lebih jauh maka kita akan mendapati jual beli dengan sistem cicilan,dengan adanya tambahan dari harga kontan merupakan puncak dari keadilan dan kiyasan.
Disebabkan tambahan harga tersebut merupakan bentuk kompensasi dari waktu menyicil yang diberikan penjual kepada konsumen.

Ditambah lagi,tidak ditemukannya bentuk pelanggaran dari pelanggaran-pelanggaran jual beli yang diharamkan dalam syari'at.,tidak ditemukan padanya ghoror(tipuan),jahalah(ketidakjelasan serta kesamaran pada barang yang diperjual belikan),riba,dan tidak pula ditemukan kedzoliman satu pihak kepada pihak yang lain

Demikian pula kebutuhan manusia menuntut adanya  jenis transaksi semacam ini.
Wallahu a'lam.


2.PENDAPAT KEDUA:
Jual beli semacam ini tidak diperbolehkan.
Dan ini adalah pendapat syaikh al-albaniy dan syaikh muqbil_رحمهما الله_,demikian pula pendapat sebagian ulama zaman ini.

-Berkata syaikh al-bassam_رحمه الله_:
     هو قول قلة من العلماء.
"INI ADALAH PENDAPAT SEBAGIAN KECIL DARI KALANGAN ULAMA".

DALIL MEREKA:
Hadits abu hurairah_رضي الله عنه_,bahwasanya nabi_صلى الله عليه وسلم_melarang dua jenis transaksi dalam satu barang.

PENDAPAT YANG ROJIH/KUAT ADALAH:
"Pendapat pertama",
yang mengatakan bolehnya transaksi semacam ini.
Pendapat ini dikuatkan oleh:

al-majma' al-fiqhi al-islamiy yang berkedudukan di jeddah

lajnah daimah,yang mengeluarkan pernyataan:
( والبيع بالتقسيط جائز و لا يلتفت إلى القول بعدم جوازه لشذوذه و عدم الدليل عليه).
"Dan jual beli dengan sistim cicilan dengan adanya tambahn harga dari harga kontan hukummya boleh,dan tidak(sepantasnya) menengok kepada pendapat yang mengatakan tidak bolehnya jual beli tersebut,karena pendapat tersebut ganjil dan tidak dalil yang menopangnya.".

Pendapat ini juga merupakan pendapat syaikh bin baz,syaikh ustaimin_رحمهما الله_
Demikian pula pendapat dari syaikh sholeh al-fauzan_حفظه الله تعالى.

adapun dalil yang dibawakan oleh pendapat kedua:
        [نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن بيعتين في بيعة]
"NABI_صلى الله عليه وسلم_ MELARANG DUA TRANSAKSI DALAM SATU BARANG".
[Hadits ini diriwayatkan oleh imam malik dalam muwatho,imam ahmad dalam musnad,imam tirmidzi dan nasai,
Dari sahabat abu hurairah].

Maka terjadi perselisihan dalam menafsirkan hadits tersebut,dan tafsir yang paling dekat dengan kebenaran adalah yang mengatakan maksudkan hadits tersebut adalah:
   "jual beli dengan sistim al-'inah yang diharamkan". (bentuknya: si B membeli barang dari si A dengan cicilan,kemudian si B kembali menjualnya ke si A dengan harga kontan yang lebih rendah dari harga pembelian,yang intinya ingin berbuat hilah,menghindar dari riba yang di haramkan,meminjam uang dengan tambahan/riba).
Jual beli dengan bentuk ini tidak diperbolehkan menurut jumhur ulama.

Pendapat lain tentang tafsir hadits di atas adalah jual beli dengan bentuk perkataan seorang penjual kepada pembeli:
Ambillah barang ini dengan harga 20 juta kontan atau 21 juta dengan menyicil,tanpa adanya kepastian dan kesepakatan kedua belah pihak diantara kedua jenis transaksi yang ia inginkan,apakah bayar kontan atau menyicil,
bentuk jual beli ini yang di tidak di perbolehkan menurut jumhur ulama,karena terdapat jahalatust tsaman(ketidakjelasan harga yang disepakati).

Imam al-baghowi dalam syarhu sunnah 4/306,menyebutkan:
  [ وجهالة الثمن تمنع صحة العقد ].
"Dan ketidakjelasan harga mencegah sahnya jual beli".

Demikian pula imam syaukaniy dalam kitab nailul authar,5/129:
   [ونقل ابن الرفعة عن القاضي إن المسألة مفروضة على أنه قبل على الإبهام، أما لو قال بألف نقدا أو بألفين بالنسيئة صح زلك].
"Dan ibnu rif'ah menukilkan dari al-qodhi,bahwa masalah ni(hadits abu hurairah di atas) berlaku pada saat pembeli dan penjual belum memastikan kesepakatan harga(mubham),adapun ketika penjual mengatakan harganya 1000 kontan dan 2000 dengan cicilan(dan terjadi kesepakatan salah satu dari kedua sistem pembayaran tsb) maka sah jual belinya."

Maka ketika pembeli dan penjual telah sepakat salah satu dari jenis transaksi(kontan atau cicil) maka ini bentuk jual beli yang di perbolehkan menurut jumhur ulama karena tidak terdapat jahalatuts tsaman/ketidakjelasan harga).
,wallahu a'lam.

untuk melihat pembahasan ini,silahkan merujuk ke kitab:
1. al-mughni,4/259.
2. nailul authar,6/446.
3. nailul maarib,3/35.
4. fikhul nawazil,3/239.
5. fatawa al-lajnah ad-daimah
    13/161.
6. syarhu sunnah,lil baghowi,
7. miskul khitam syarah     umdatul ahkam.

Wallahu a'lam.

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات،
                   
Forward Ustadz abu'abdillah al-bughisy,

WA Syi'ar Tauhid

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites