Tuesday, February 25, 2014

ILMU SYAR'I HANYA BISA DIDAPATKAN DENGAN CARA BELAJAR (MENUNTUT ILMU)

ILMU SYAR'I HANYA BISA DIDAPATKAN DENGAN CARA BELAJAR (MENUNTUT ILMU)

Dalam sebuah hadits dinyatakan:

يَا أَيّهَا النَّاس تَعَلَّمُوا ، إِنَّمَا الْعِلْم بِالتَّعَلُّمِ ، وَالْفِقْه بِالتَّفَقُّهِ ، وَمَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين

Wahai sekalian manusia, belajarlah. Ilmu hanya bisa didapatkan dengan belajar. Pemahaman didapatkan dgn cara berusaha memahami. Barangsiapa yg Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah pahamkan ia dalam (ilmu) Dien (H.R Ibnu Abi Ashim dan atThobarony dari Muawiyah dan dinyatakan sanadnya hasan oleh alHafidz Ibnu Hajar dlm Fathul Bari)

Sahabat Nabi Ibnu Mas'ud juga pernah menyatakan:

إِنَّ الرَّجُلَ لا يُولَدُ عَالِمًا وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

Sesungguhnya seseorang tidaklah terlahirkan (langsung) berilmu. Hanyalah ilmu bisa didapatkan dgn cara belajar (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dlm Mushonnafnya dan seluruh perawinya terpercaya)

Yang dimaksud dgn belajar adalah semua proses menimba ilmu, seperti: mendatangi majelis ilmu utk mendengarkan faidah-faidah ilmu dari alQuran maupun hadits yg shahih, atau bertanya kepada orang yg berilmu. Bisa juga membaca karya orang-orang yg berilmu. Termasuk juga mencatat ilmu, merangkumnya, dan meringkasnya. Atau, mudzakarah dan murojaah (mengulang-ulang utk mengingat kembali ilmu yg telah didapat).

Jika kita melihat Sahabat Nabi Ibnu Abbas, beliau adalah orang yg didoakan langsung oleh Rasul agar dijadikan sebagai seorang yg faqih dlm ilmu Dien dan tafsir alQuran.

Namun, setelah didoakan oleh Rasul tsb Ibnu Abbas bukannya berpangku tangan menunggu ilmu itu langsung merasuk dlm dirinya. Atau, merapal dzikir-dzikir tertentu dengan harapan besok pagi bangunnya sudah jadi orang berilmu. Tidak demikian.

Namun, justru beliau berkeliling menimba ilmu dari para Sahabat yg masih hidup setelah Nabi meninggal. Utk menggali riwayat-riwayat yg didengar dari Nabi.

Tidak jarang beliau harus menunggu seorang Sahabat di luar rumahnya dan menggelar selendangnya ditemani deburan pasir yg diterbangkan angin.
Silakan disimak kisah beliau dlm mencari ilmu berikut ini:

لَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا شَابٌّ ، قُلْتُ لِشَابٍّ مِنَ الأَنْصَارِ : يَا فُلانُ هَلُمَّ فَلْنَسْأَلْ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلْنَتَعَلَّمْ مِنْهُمْ ؛ فَإِنَّهُمْ كَثِيرٌ ، قَالَ : الْعَجَبُ لَكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ ، أَتَرَى أَنَّ النَّاسَ يَحْتَاجُونَ إِلَيْكَ وَفِي الأَرْضِ مِنْ تَرَى مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : فَتَرَكْتُ ذَلِكَ وَأَقْبَلْتُ عَلَى الْمَسْأَلَةِ وَتَتَبُّعِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَإِنْ كُنْتُ لآتِي الرَّجُلَ فِي الْحَدِيثِ يَبْلُغُنِي أَنَّهُ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجِدُهُ قَائِلا ، فَأَتَوَسَّدُ رِدَائِي عَلَى بَابِهِ تُسْفِي الرِّيحُ عَلَى وَجْهِي حَتَّى يَخْرُجَ ، فَإِذَا خَرَجَ قَالَ : يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكَ ؟ فَأَقُولُ : حَدِيثٌ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُ بِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْكَ ، قَالَ : فَيَقُولُ : فَهَلا بَعَثْتَ إِلَيَّ حَتَّى آتِيَكَ ، فَأَقُولُ : أَنَا أَحَقُّ أَنْ آتِيَكَ فَكَانَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بَعْدَ ذَلِكَ يَرَانِي وَقَدْ ذَهَبَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحْتَاجَ إِلَيَّ النَّاسُ فَيَقُولُ : كُنْتَ أَعْقَلَ مِنِّي

"Ketika Rasulullah shollallahu alaihi wasallam wafat sedangkan waktu itu sy masih muda, aku berlata kepada seorang pemuda dari kalangan Anshar: Wahai fulaan, mari kita pergi bertanya kepada para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam supaya kita belajar dari mereka. Karena mereka banyak. Pemuda Anshar itu berkata: Engkau aneh wahai Ibnu Abbas, apakah engkau mengira manusia akan membutuhkanmu (nanti) sedangkan di bumi masih ada para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam? (Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya): maka aku meninggalkan orang itu. Aku kemudian menetapi masalah itu (tetap semangat menuntut ilmu) dan aku mengikuti para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku sungguh-sungguh mendatangi seseorang untuk sebuah hadits yg sampai kepadaku bahwa ia mendengar (langsung) dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam hingga aku bisa menemuinya dan ia menyampaikan itu kepadaku.
Maka aku membentangkan seledangku di depan pintunya. Angin berhembus menimpa wajahku hingga ia (Sahabat Nabi itu) keluar. Ketika ia keluar ia berkata: Wahai anak paman Rasulullah shollallahu alaihi wasallam ada apa denganmu? Aku berkata: Sampai suatu hadits kepadaku (yg bersumber) darimu bahwasanya engkau menyampaikannya dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, maka aku ingin untuk mendengarnya darimu (langsung). Org itu berkata: Mengapa engkau tidak mengirim utusan hingga aku yg mendatangimu? Aku berkata: Aku yg lebih berhak untuk mendatangimu.
Maka seorang Anshar (yg tdk mau diajak berkeliling menimba ilmu) setelah kejadian itu melihatku pada saat para Sahabat Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam telah pergi dan manusia butuh kepadaku, ia berkata: engkau lebih berakal dibandingkan aku" (diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dlm Jaami' Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi dan atThobarony dlm Mu'jamul Kabiir, dinyatakan oleh alHaytsamy bhw para perawinya adalah perawi-perawi dlm as-Shahih)

(ditulis oleh Al-ustdz Abu Utsman Kharisman Probolinggo)

WA al-I'tishom Probolinggo

Forward Group Whatsapp "Salafy Luar Negeri"

Apakah Sururiyyah dan Quthubiyyah serta selainnya merupakan bentuk saling memberikan gelar yang jelek ?

Faedah dari Kitab Alajwibah Alatsariyyah 'anil Masaail Manhajiyyah

Apakah Sururiyyah dan Quthubiyyah serta selainnya merupakan bentuk saling memberikan gelar yang jelek ?

Soal 27 :
Kenapa Salafiyyun memberi gelar terhadap orang - orang yang menyelisihi dengan gelar  yang berbeda - beda :
Seperti Sururyyah dan Quthubiyyah serta selainnya , bukankah ini merupakan bentuk saling memberi gelar yang jelek , dan bentuk memecah belah persatuan kaum Muslimin ?

Jawab :
Telah tertera disisi Ahlussunnah di masa ini pembicaraan bahwasannya Sururyyah mereka adalah Para pengikut Muhammad Surur yang hidup menyendiri di Inggris , dan manhajnya adalah manhaj Takfiry , sehingga dikatakan bagi siapa saja yang berjalan diatas Manhajnya : Surury , dan bagi kelompok yang mengikutinya : Sururyyah , sebagaimana yang dikatakan kepada para pengikut Jaham : Jahmiyyah dan selainnya , dan bagi para pengikut Ibn Kullaab : Kullaabiyyah , dan bagi para pengikut Ibn Karraam : Alkarraamiyyah , dan demikianlah dikatakan terhadap AlQuthubiyyah yaitu para pengikut Sayyid Quthb di dalam Manhajnya , dan manhajnya adalah manhaj Takfiry yang sangat berbahaya atas umat , dan lebih khusus lagi para pemuda , dan bukanlah ini diantara bab Saling memberikan gelar yang jelek tidak di masa ini serta tidak dimasa terdahulu , dan hanya saja ia merupakan sifat yang ditetapkan atas orang - orang yang disifatkan dengannya secara hakikatnya."

Sumber :
Kitab "Alajwibah Alatsariyyah 'anil masaail almanhajiyyah" oleh Al'allaamah Zaid Almadkhaly - soal yang ke dua puluh tujuh.

WA Ta'zhim Assunnah riau-Pent.

SIAPAKAH AHLUS SUNNAH ?

SIAPAKAH AHLUS SUNNAH ?

Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka :

1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:
“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)

3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”

6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

Baarakallaahu Fiykum...

NASEHAT UNTUK SAUDARAKU YANG MENGAGUNGKAN DAN MENCINTAI DUNIA MELEBIHI AGAMANYA

NASEHAT UNTUK SAUDARAKU YANG MENGAGUNGKAN DAN MENCINTAI DUNIA MELEBIHI AGAMANYA

Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya bersabda:

ﺃَﻳُّﻜُﻢْ ﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻪُ ﺑِﺪِﺭْﻫَﻢٍ؟ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ : ﻣَﺎ ﻧُﺤِﺐُّ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﺼْﻨَﻊُ ﺑِﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﺗُﺤِﺒُّﻮْﻥَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻭَﺍﻟﻠﻪِ، ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﻴًّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻴْﺒًﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﺃَﺳَﻚُّ ﻓَﻜَﻴْﻒَ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻴِّﺖٌ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻓَﻮَﺍﻟﻠﻪِ ﻟَﻠﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺃَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﻫَﺬَﺍ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ

“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apalagi telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh DUNIA ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini menurut kalian.”
~~~(HR. Muslim, no.7344)~~~

ITULAH HAKIKAT DUNIA

ALIRAN SESAT YANG PALING PERTAMA MUNCUL DALAM SEJARAH ISLAM ADALAH "AL-KHAWARIJ" (TERORIS)

ALIRAN SESAT YANG PALING PERTAMA MUNCUL DALAM SEJARAH ISLAM ADALAH "AL-KHAWARIJ" (TERORIS)

Diantara ciri khas mereka (Khawarij), mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan orang-orang yang bersama pemerintah tersebut (karena melakukan dosa-dosa besar), memberontak kepada pemerintah kaum muslimin , menghalalkan darah dan harta kaum muslimin, bahkan meyakini bahwa pelaku dosa besar kekal di Neraka, (bertentangan dengan Al-Qur'an surah An-Nisa' ayat 116) dan hadits-hadits shahih yang banyak.

Pemberontakan pertama dalam sejarah islam dilakukan oleh gembong Khawarij yaitu Dzul Khuwaishirah dimasa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi - rahimahullah- di dalam kitabnya Talbis Iblis , “Khawarij yang pertama dan yang paling jelek adalah Dzul Khuwaishirah.”
[Lihat Al-Muntaqo An-Nafis (hal.89)]

Abu Sa’id -radhiyallahu anhu - berkata;
ﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻫُﻮَ
ﻳَﻘْﺴِﻢُ ﻗِﺴْﻤًﺎ ﺃَﺗَﺎﻩُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﺨُﻮَﻳْﺼِﺮَﺓِ ﻭَﻫُﻮَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺑَﻨِﻲ ﺗَﻤِﻴﻢٍ
ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻋْﺪِﻝْ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻭَﻳْﻠَﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺪِﻝُ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻢْ
ﺃَﻋْﺪِﻝْ ﻗَﺪْ ﺧِﺒْﺖَ ﻭَﺧَﺴِﺮْﺕَ ﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺃَﻛُﻦْ ﺃَﻋْﺪِﻝُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ ﻳَﺎ
ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﺋْﺬَﻥْ ﻟِﻲ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺄَﺿْﺮِﺏَ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺩَﻋْﻪُ ﻓَﺈِﻥَّ
ﻟَﻪُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑًﺎ ﻳَﺤْﻘِﺮُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺻَﻠَﺎﺗَﻪُ ﻣَﻊَ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﻭَﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ ﻣَﻊَ
ﺻِﻴَﺎﻣِﻬِﻢْ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻟَﺎ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺗَﺮَﺍﻗِﻴَﻬُﻢْ ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦْ
ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻤْﺮُﻕُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ
“Ketika kami bersama Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- , beliau sedang membagi ghonimah, tiba-tiba Dzul Khuwaishirah –seseorang dari Bani Tamim- mendatangi beliau kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah berbuat adillah!!”, Rasulullah -Sholllallahu 'alaihi wasallam- bersabda, “Celaka engkau, siapa lagi yang bisa berbuat adil jika saya sudah (dikatakan) tidak adil. Sungguh celaka dan rugi jika saya tidak bisa berbuat adil”. Maka Umar -radhiyallahu 'anhu- berkata, ”Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk memenggal lehernya!, ”Rasulullah -Sholllallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut, dimana kalian akan merendahkan (menganggap kecil) shalat kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka. Mereka
membaca Al-Qur’an, tapi tidak mencapai tenggorokan mereka. Mereka melesat dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari sasaran (buruan)nya…”.
[HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Manakib (3610) dan Muslim dalam Kitab Az-Zakah (2453)]

Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- juga bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺿِﺌْﻀِﺊِ ﻫَﺬَﺍ ﺃَﻭْ ﻓِﻲ ﻋَﻘِﺐِ ﻫَﺬَﺍ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ
ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻟَﺎ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺣَﻨَﺎﺟِﺮَﻫُﻢْ ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣُﺮُﻭﻕَ
ﺍﻟﺴَّﻬْﻢِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ ﻳَﻘْﺘُﻠُﻮﻥَ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﻳَﺪَﻋُﻮﻥَ ﺃَﻫْﻞَ
ﺍﻟْﺄَﻭْﺛَﺎﻥِ ﻟَﺌِﻦْ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﺩْﺭَﻛْﺘُﻬُﻢْ ﻟَﺄَﻗْﺘُﻠَﻨَّﻬُﻢْ ﻗَﺘْﻞَ ﻋَﺎﺩٍ
“Sesungguhnya dianatara keturunan orang ini (Dzul Khuwaizirah), ada suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al-Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan hidup para penyembah berhala. Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Aad.”
[HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ahadits Al-Anbiya' (3344), Muslim dalam Kitab Az-Zakah (2448), Abu Dawud dalam Kitab As-Sunnah (4764), dan An-Nasa'iy dalam Kitab Tahrim Ad-Daam (4112)]

Abu Ghalib -rahimahullah- berkata;
ﻟَﻤَّﺎ ﺃُﺗِﻲَ ﺑِﺮُﺀُﻭﺱِ ﺍﻟْﺄﺯَﺍﺭِﻗَﺔِ ﻓَﻨُﺼِﺒَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺩَﺭَﺝِ ﺩِﻣَﺸْﻖَ ﺟَﺎﺀَ
ﺃَﺑُﻮ ﺃُﻣَﺎﻣَﺔَ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺁﻫُﻢْ ﺩَﻣَﻌَﺖْ ﻋَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻛِﻠَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺛَﻼَﺙَ
ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷَﺮُّ ﻗَﺘْﻠَﻰ ﻗُﺘِﻠُﻮﺍ ﺗَﺤْﺖَ ﺃَﺩِﻳﻢِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺧَﻴْﺮُ
ﻗَﺘْﻠَﻰ ﻗُﺘِﻠُﻮﺍ ﺗَﺤْﺖَ ﺃَﺩِﻳﻢِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻗَﺘَﻠَﻬُﻢْ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻗَﺎﻝَ
ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻓَﻤَﺎ ﺷَﺄْﻧُﻚَ ﺩَﻣَﻌَﺖْ ﻋَﻴْﻨَﺎﻙَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ
ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﺃَﺑِﺮَﺃْﻳِﻚَ ﻗُﻠْﺖَ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻛِﻠَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
ﺃَﻭْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺳَﻤِﻌْﺘَﻪُ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺠَﺮِﻱﺀٌ ﺑَﻞْ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻪُ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻏَﻴْﺮَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﻭَﻟَﺎ ﺛِﻨْﺘَﻴْﻦِ ﻭَﻟَﺎ ﺛَﻠَﺎﺙٍ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻌَﺪَّ ﻣِﺮَﺍﺭًﺍ
”Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah (salah satu sekte khawarij yang dicetuskan oleh Nafi’ bin Al-Azraq) dan dipancangkan di atas tangga-tangga Kota Damaskus, datanglah Abu Umamah Al Bahili -radhiyallahu anhu-. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuk matanya dan berkata, “Mereka adalah anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka . Mereka ini (Khawarij) adalah sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah kolong langit ini, dan sebaik-baik orang yang terbunuh dibawah kolong langit adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij). Abu Ghalib kemudian bertanya, ”Kenapa engkau menangis? ” Abu Umamah -radhiyallahu anhu- menjawab, ”Aku kasihan kepada mereka, dahulunya mereka itu ahlul islam” Abu Ghalib berkata lagi, ”Apakah pernyataanmu, "Mereka adalah anjing-anjing neraka" adalah pendapatmu sendiri atau perkataan yang engkau dengar (langsung) dari Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- ?” Abu Umamah -radhiyallahu anhu- menjawab, ”Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh aku adalah orang yang lancang. Tapi perkataan ini aku dengar dari Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua kali atau tiga kali.”
[HR. At-Tirmidzi (3000), Ibnu Majah (176), Ahmad (V/253)]

Kita berlindung kepada Allah dari sesatnya pemikiran dan pemahaman Khawarij.
Baarakallaahu fiykum...

APAKAH ACARA PERAYAAN/PERINGATAN MAULID NABI BERASAL DARI SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM ATAUKAH HASIL INOVASI DAN REKAYASA MANUSIA BELAKANGAN?

APAKAH ACARA PERAYAAN/PERINGATAN MAULID NABI BERASAL DARI SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM ATAUKAH HASIL INOVASI DAN REKAYASA MANUSIA BELAKANGAN?

Maulid secara bahasa berarti tempat atau waktu dilahirkannya seseorang. Karenanya, tempat maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah Mekkah. Sedangkan waktu maulid beliau adalah pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal pada tahun Gajah tahun 53 SH (Sebelum Hijriah) yang bertepatan dengan bulan April tahun 571 M.
Adapun tanggal kelahiran beliau, maka para ulama berselisih dalam penentuannya. Cukuplah ini menjadi tanda dan bukti nyata yang menunjukkan bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , para sahabat beliau, dan para ulama setelah mereka, tidaklah menaruh perhatian besar dalam masalah hari maulid (kelahiran) Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- . Karena seandainya hari maulid beliau adalah perkara yang penting, memiliki keutamaan yang besar dan memiliki arti yang mendalam dalam Islam, maka pasti akan
ditegaskan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits-hadits beliau, sebagai
konsekwensi kesempurnaan Islam dan semangat
beliau dalam menunjukkan kebaikan kepada ummatnya. Juga pasti akan dinukil dari para sahabat tentang tanggal kelahiran beliau sebagai konsekwensi sikap amanah mereka dalam menyampaikan ilmu.

Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz At-Tuwaijiry -
hafizhahullah- berkata, “Yang pertama kali memunculkan bid’ah ini (perayaan maulid) adalah
Bani ‘Ubaid Al-Qoddah yang menamakan diri dengan Al-Fathimiyyun dan menyandarkan nasab mereka kepada keturunan Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu ‘anhu- . Padahal sebenarnya, mereka adalah pendiri dakwah bathiniyah. Nenek moyang mereka Ibnu Daishan yang dikenal dengan nama Al-Qoddah, seorang budak milik Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq dan salah seorang pendiri mazhab bathiniyah di Irak. Kemudian dia pergi ke negeri Maghrib (Maroko) mengaku sebagai keturunan ‘Aqil bin Abi Thalib. Tatkala kaum ekstrim Syi’ah-Rafidhah bergabung ke
mazhabnya, diapun mengaku sebagai anak
Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq dan
mereka menerima hal tersebut. Padahal
Muhammad bin Isma’il meninggal dalam keadaan tidak memiliki keturunan. Waktu terus berjalan hingga muncul dari kalangan mereka seseorang yang dikenal bernama Sa’id bin Al-Husain bin Ahmad bin Abdillah bin Maimun bin Dishan Al-Qoddah , yang kemudian mengubah nama dan nasabnya. Dia berkata kepada pengikutnya, “Saya adalah ‘Ubaidullah bin Al-Hasan bin Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq”. Sehingga meluaslah fitnah (malapetaka)nya di Maghrib”.
[Lihat Al-Bida’ Al-Hauliyyah (hal. 137-139)]

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”.
Kemudian, bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H. Tidak ada seorang pun yang mendahului mereka dalam merayakan maulid ini. Kemudian, mereka diikuti oleh Al-Muzhaffar Abu Sa’id pada abad ke tujuh sebagaimana yang akan dijelaskan oleh Asy-
Syaukaniy -rahimahullah- .
Perayaan maulid merupakan perkara baru dalam agama, lantarannya para ulama dari zaman ke
zaman menampakkan pengingkaran terhadap acara tersebut.
Diantara ulama yang mengingkari perayaan maulid (namun ini bukan pembatasan):

Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin ‘Abdil Halim Al-
Harraniy -rahimahullah- berkata dalam Al-Iqhtidho` (hal. 295) saat menjelaskan bid’ahnya maulid, “Karena sesungguhnya hal ini (yaitu perayaan maulid) tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, padahal ada faktor-faktor yang mendukung dan tidak adanya faktor-faktor yang bisa menghalangi pelaksanaannya. Seandainya amalan ini adalah kebaikan semata-mata atau kebaikannya lebih besar (daripada kejelekannya),
maka tentunya para salaf -radhiyallahu ‘anhum- lebih berhak untuk mengerjakannya daripada kita, karena mereka adalah orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dibandingkan kita, dan mereka juga lebih bersemangat dalam masalah kebaikan daripada kita. Sesungguhnya kesempurnaan mencintai dan mengagungkan beliau hanyalah dengan cara mengikuti dan mentaati beliau, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara batin dan zhahir, dan menyebarkan wahyu yang beliau diutus dengannya serta berjihad di dalamnya dengan hati, tangan, dan lisan. Inilah jalan orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.

Al-Imam Tajuddin Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali Al-Lakhmy Al-Fakihaniy - rahimahullah- berkata dalam Al-Mawrid fii ‘Amalil Maulid, “Saya tidak mengetahui bagi perayaan maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, tidak pula dari Sunnah; tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorang pun di kalangan para ulama ummat ini yang merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan jejak-jejak para ulama terdahulu. Bahkan ini adalah bid’ah yang
dimunculkan oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan (baca : kurang kerjaan) yang dikuasai oleh syahwat jiwanya. Bid’ah ini hanya disenangi oleh orang-orang yang suka makan!! ”.

Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukany -rahimahullah- berkata, “Saya tidak menemukan satupun dalil yang membolehkannya. Orang yang
pertama kali mengada-adakannya adalah Raja Al-Muzhaffar Abu Sa’id pada abad ke tujuh. Kaum muslimin telah bersepakat bahwa itu adalah bid’ah ”.
[Lihat Al-Mawrid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid karya ‘Aqil bin Muhammad bin Zaid Al-Yamany (hal. 37)]

Muhammad bin Muhammad Ibnul Hajj Al-Malikiy
-rahimahullah - berkata dalam Al-Madkhal (2/2), “Termasuk perkara yang mereka munculkan berupa bid’ah -bersamaan dengan keyakinan mereka bahwa itu termasuk sebesar-besar ibadah dan dalam rangka menampakkan syi’ar-syi’ar (Islam)- adalah apa yang kerjakan dalam bulan Rabi’ul Awwal berupa maulid. Acara ini telah menghimpun sejumlah bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan”.

Seorang ulama Syafi’iyyah dari Mesir, Syaikh ‘Ali Mahfuzh -rahimahullah - berkata dalam Al-Ibda’ fii Madhorril Ibtida’ (hal. 272) tatkala beliau menyebutkan beberapa contoh hari raya yang disandarkan kepada syari’at, padahal dia bukan termasuk darinya, beliau berkata, “Di antaranya adalah malam ke 12 Rabi’ul Awwal, manusia berkumpul di masjid-masjid dan selainnya untuk merayakannya (bid’ah maulid). Sehingga mereka melanggar kehormatan rumah-rumah Allah -Ta’ala-, mereka berbuat isrof (berlebih-lebihan) di dalamnya, para pembaca meninggikan suara-suara mereka dengan melantunkan qoshidah-
qoshidah berupa nyanyian (nasyid dan yang semisalnya) yang membangkitkan syahwat para pemuda untuk berbuat kefasikan dan kefajiran. Maka engkau melihat mereka ketika itu berteriak dengan suara-suara kemungkaran, memunculkan di dalam masjid-masjid goncangan yang mengagetkan. Terkadang mereka sama sekali tidak menyinggung dalam qoshidah-qoshidah mereka, sedikitpun di antara kekhususan-kekhususan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi
wasallam-, akhlak-akhlak beliau yang mulia, dan amalan-amalan beliau yang bermanfaat dan mulia. Di antara mereka ada yang menyibukkan diri dengan dzikir-dzikir yang dibuat-buat. Semua perkara ini adalah perkara yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta tidak pernah dilakukan oleh para salafush shalih. Jadi, ini (maulid) adalah bid’ah dan kesesatan”.

Nah, sudah jelas bagi kita tentang bid’ahnya perayaan maulid. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda,
ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak”
[HR. Al-Bukhariy dan Muslim]

Beliau juga bersabda,
ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.
[HR. Muslim]

Di dalam agama Islam, hanya ada dua hari raya.
Adapun selainnya, maka ia merupakan hari yang harus ditinggalkan, karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , dan para sahabatnya tidak mengerjakannya. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
ﻟَﻨَﺎ ﻋِﻴْﺪَﺍﻥِ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ , ﻋِﻴْﺪُ ﺍﻟْﺄَﺿْﺤَﻰ ﻭَﻋِﻴْﺪُ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ
“Wahai sekalian kaum muslimin, kita hanya memiliki 2 hari raya , yaitu ‘Iedul Adhha dan ‘Iedul Fitri”.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda kepada para sahabat,
ﻗَﺪَﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺎﻥِ
ﺗَﻠْﻌَﺒُﻮْﻥَ ﻓِﻴْﻬِﻤَﺎ ﻓِﻲْ ﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴَﺔِ
ﻭَﻗَﺪْ ﺃَﺑْﺪَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ
ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ: ﻳَﻮْﻡً ﺍﻟﻨَّﺤَﺮِ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ
“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fatri)”.
[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad
(3/103), Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah (1098), dan lainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)]

Andaikan beliau mengerjakan perayaan maulid atau menyampaikannya, maka wajib hal itu terpelihara, karena Allah -Ta’ala- berfirman,
ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
( QS. Al-Hijr : 9)

Maka tatkala tidak ada sedikitpun keterangan tentang hal tersebut, maka diketahuilah bahwa maulid bukan bagian dari agama Allah . Jika dia bukan bagian dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dan ber taqarrub kepada Allah -‘Azza wa Jalla- dengannya.
Perayaan ini, jika dia merupakan bagian dari kesempurnaan agama, maka pasti ada sebelum wafatnya Rasul -‘Alaihish Shalatu was Salam-.
Jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama, maka tidak mungkin dia akan menjadi bagian agama, karena Allah -Ta’ala- berfirman,
ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”.
(QS. Al-Ma`idah : 3)

Barangsiapa yang menyangka bahwa dia bagian dari kesempurnaan agama, padahal dia muncul setelah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , maka ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Mereka (para sahabat) tidak pernah mengerjakan satu pun ketaatan, kecuali sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai pengamalan firman Allah -Ta’ala- ,
ﻭَﻣَﺎ ﺀَﺍﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬُﻮﺍ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.
( QS. Al-Hasyr: 7)

Jadi, tatkala mereka tidak pernah mengerjakan maulid ini, diketahuilah bahwa dia adalah bid’ah.
Karena tak mungkin ada kebaikan yang tidak dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , dan para sahabatnya.
Beliau bersabda dalam hadits yang shahih,
ﻛُﻞُّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋُﺔ ﻭَ ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ
“Setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat”.

Perayaan maulid ini muncul abad keempat Hijriah yang dimunculkan oleh Kekhalifahan Al-Fathimiyyun Asy-Syi’ah dalam rangka mencontoh dan menyerupai orang-orang Nashrani yang mengadakan perayaan maulid bagi Al-Masih ‘Isa bin Maryam -‘alaihish shalatu wassalam- . Hal ini menunjukkan bahwa dia adalah bid’ah. Demikian pula halnya dengan perayaan malam Isra` Mi’raj, semuanya adalah termasuk bid’ah-bid’ah.
Selain itu, terdapat berbagai kemungkaran di dalamnya seperti berbaurnya laki-laki dan perempuan, buang-buang harta, pembacaan syair-syair yang berisi kesyirikan, serta kemungkaran yang lainnya.
Seandainya pun seseorang itu menangis ketika
merayakannya, tapi bila tangisannya tersebut di atas selain hidayah, maka tangisannya tidak akan bermanfaat baginya. Terkadang seseorang itu menangis, sedangkan dia di atas kekafiran sehingga tangisannya tidak bermanfaat baginya.
Tangisannya tidak menambah sesuatu baginya, kecuali semakin jauh dari Allah -Subhanahu wa Ta‘ala- .
Tidakkah kita membaca firman Allah - Ta‘ala- :
ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺧَﺎﺷِﻌَﺔٌ. ﻋَﺎﻣِﻠَﺔٌ ﻧَﺎﺻِﺒَﺔٌ. ﺗَﺼْﻠَﻰ ﻧَﺎﺭًﺍ ﺣَﺎﻣِﻴَﺔً.
ﺗُﺴْﻘَﻰ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﻦٍ ﺀَﺍﻧِﻴَﺔٍ
“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,bekerja keras lagi kepayahan,memasuki api yang sangat panas (neraka),diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”.
( QS. Al-Ghasyiah: 2-5 )
“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina” :
tunduk lagi rendah. “bekerja keras”: dia telah beramal, sibuk siang dan malam dengan shalat dan puasa, tetapi tidak di atas ilmu, tidak sesuai dengan syari’at lagi berbuat syirik. “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,bekerja keras lagi kepayahan” : lelah dalam beribadah dan beramal, sekalipun demikian, mereka “memasuki api yang sangat panas (neraka),diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas” yaitu sangat panas, dahsyat panasnya telah sampai pada puncak didih dan dia diberikan minum darinya.
Kita memohon keselamatan dan ‘afiat kepada Allah.

Wallahu a'lam

TAULADAN YANG SANGAT INDAH BUAT PARA WANITA

TAULADAN YANG SANGAT INDAH BUAT PARA WANITA

Dikisahkan bahwa pada suatu malam ada seorang lelaki yang merayu seorang wanita di tengah padang pasir. Akan tetapi wanita itu enggan untuk memenuhi ajakannya. Maka lelaki itu berkata, “Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.” Wanita itu pun berkata, “Kalau begitu, dimanakah yang menciptakan bintang-bintang itu?!” (Fiqh Al-Asma’ Al-Husna, hal.33)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites