Sunday, June 1, 2014

Teman yang sempurna

باسم الله_

      �� TEMAN YANG SEMPURNA ��

�� Berkata al-fudhail ibn 'iyadh_:
"BARANGSIAPA YANG MENCARI TEMAN YANG TIDAK MEMILIKI AIB/KEKURANGAN,SUNGGUH DIA AKAN HIDUP SEORANG DIRI TANPA TEMAN."

��Ketahuilah wahai saudaraku_semoga Allah senantiasa menjagamu_,
   Sesungguhnya "persaudaraan" bukanlah semata-mata sebuah slogan,akan tetapi "persaudaraan" tersebut adalah suatu akhlak yang bersumber dari dalam jiwa.

��Kita semua butuh untuk saling menasehati.

��Memegang teguh adab di antara kita merupakan perkara yang penting demi kelanggengan dan kelangsungan sebuah persaudaraan.

��Jangan engkau menyangka akan mendapatkan seorang teman yang tidak pernah terjatuh dalam kesalahan.

��Jika aku terjatuh dalam kesalahan terhadapmu,maka dimanakah engkau dari sifat pemaaf????
Allah berfirman:
   {DAN ORANG-ORANG YANG MENAHAN AMARAHNYA,SERTA MEMA'AFKAN KESALAHAN ORANG.ALLAHU MENCINTAI ORANG-ORANG YANG BERBUAT KEBAIKAN}.
[al-imron:134].

��Apakah engkau telah mencarikan uzur/alasan buatku ketika telah sampai kabar kepadamu bahwa aku telah terjatuh dalam kesalahan terhadapmu????

��Aku menduga engkau akan mendatangiku dan menasehatiku(terhadap kesalahanku) serta mendoakanku agar tetap istiqomah.
��Berkata 'amir bin 'abdil qois:
"Suatu ucapan(nasehat) ketika keluar/bersumber dari hati,maka pengaruhnya sampai ke hati,
Apabila ucapan tersebut hanya keluar dari mulut maka (pengaruhnya) tidak akan melebihi telinga.

��Akan tetapi aku terkejut,ketika aku mengetahui bahwa engkau telah berbicara terhadap harga diriku dan telah menggibahiku.,

Sungguh mengherankan perbuatanmu!

➡ INIKAH "NILAI PERSAUDARAAN" YANG ENGKAU PAHAMI???
��Berkata abu qilabah:
Jika sampai kepadamu suatu berita yang engkau benci dari saudaramu,maka carikanlah uzur/alasan,jika engkau tidak mendapatkan uzur/alasan buat dia,maka katakanlah:
Mungkin saja dia memiliki alasan yang aku tidak ketahui.
[Lihat kitab: raudhatul 'uqolaa].

��Sesungguhnya hubungan/interaksi sesama manusia membutuhkan kesabaran yang besar.
Jiwa manusia secara fitrah terdapat padanya kekurangan,kebodohan dan kedzoliman.

➡ "MAKA JADILAH ENGKAU: PRIBADI YANG MEMILIKI AKHLAK YANG TERPUJI".

��Sesungguhnya bersabar terhadap teman-teman,merupakan tabi'at/sifat orang-orang yang mulia.
Orang yang bersabar terhadap teman-teman adalah orang yang mampu memikul,memahami dan mema'afkan kesalahannya,melupakan kejelekannya serta mencarikan uzur/alasan untuk mereka.

��Jangan engkau menunggu dan berharap (sampai) aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu,sungguh aku telah lupa perkara tersebut.

��Janganlah engkau mencari seseorang/teman yang sempurna(tidak pernah terjatuh dalam kesalahan),
sesungguhnya KESEMPURNAAN hanya milik Allah semata.
��Berkata sebagian orang bijak:
Barangsiapa yang memcari teman yang tidak memiliki aib/kekurangan maka hendaklah ia hidup seorang diri,
Barangsiapa yang mencari seorang alim ulama yang tidak pernah tergelincir dalam kesalahan maka hendaklah ia hidup dalam kebodohan,
Barangsiapa yang mencari seorang teman tanpa mau mengerti dan memahami kesalahannya hendaklah ia berteman dengan penghuni kuburan.

  ��BETAPA INDAHNYA JIKA HUBUNGAN DIANTARA KITA SEMATA-MATA TULUS KARENA ALLAH TA'ALA!!!

    ��Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang saling mencintai di atas kemuliaan-Mu dan naungilah kami di atas naungan-Mu,di hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Mu(naungan arsy Allah rabbul'izzah).


✏ abu 'abdillah al-bugisy,
                               Yaman,

Pertanyaan tentang piutang

��KUMPULAN FATWA��

〰〰〰〰〰〰〰〰
السؤال :
شخص عندي له أموال وبحثت عنه فلم أجده ، فماذا يلزمني الآن ؟
��PERTANYAAN:
Seseorang yang ada sebagian hartanya pada diriku (piutang; penj.), dan saya telah mencari-carinya namun tidak menemukannya,

apakah yang harus saya lakukan sekarang?
〰〰〰〰〰〰〰〰
�� الجواب :
يلزمك أن تنتظر حتى يأتي ويأخذ أمواله ، تحتفظ بها ، تكتبها في ورقة لئلا تنساها ، تحتفظ بها فإذا جاء فأعطها إياه .
��JAWABAN:
Kamu harus menunggunya hingga ia datang dan mengambil hartanya, jaga hartanya itu untuknya, tulislah di atas kertas supaya kamu tidak melupakannya, simpanlah harta itu untuknya dan jika ia datang maka berikan padanya.
〰〰〰〰〰〰〰〰

Bersama :
Al'Allamah Asy syaikh shalih fauzan
               ~hafidzahullah~

                ~Allahu a'lam~

Sumber:
http://www.alfawzan.af.org.sa/

Facebook:
https://m.facebook.com/profile.php?id=1412824728974800

Diterjemahkan oleh :
Al Ustadz Hudzaifah Abu Khodijah
                -hafizhahullah-

             WhatsApp
♻Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah♻

Pertanyaan seputar haji

��KUMPULAN FATWA��

〰〰〰〰〰〰〰〰
السؤال :
في حج العام الماضي حجينا فريضة الإسلام ، لكننا أثناء الذهاب إلى عرفة هرولنا في المشي ، فما الحكم ؟
��PERTANYAAN:
Pada pelaksanaan haji tahun yang lalu, kami melaksanakn haji pertama yang wajib dalam Islam, akan tetapi tatkala di tengah perjalanan kami menuju Arofah, kami berlari-lari kecil dalam perjalanan tersebut,

bagaimanakah hukumnya?
〰〰〰〰〰〰〰〰
�� الجواب :
لا بأس بذلك ، هرولتم أو مشيتم أو ركبتم سيارة أو دابة ، الأمر واسع في هذا .
��JAWABAN:
Tidaklah mengapa seperti itu, kalian berlari-lari kecil, atau berjalan biasa, atau naik kendaraan dengan mobil atau hewan tunggangan, hal ini ada kelapangan.
〰〰〰〰〰〰〰〰

Bersama :
Al'Allamah Asy syaikh shalih fauzan
               ~hafidzahullah~

                ~Allahu a'lam~

Sumber:
http://www.alfawzan.af.org.sa/

Facebook:
https://m.facebook.com/profile.php?id=1412824728974800

Diterjemahkan oleh :
Al Ustadz Hudzaifah Abu Khodijah
                -hafizhahullah-

             WhatsApp
♻Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah♻

Hadits tentang persaudaraan

Akhlak-Akhlak Mulia

ليس الواصل بالمكفئ, انماالواصل من إذا قطعت رحمه وصلها.

 Bukanlah yang dinamakan orang yang menyambung tali persaudaraan itu orang yang hanya membalas persaudaraan dengan persaudaraan, tetapi yang dinamakan orang yang menyambung tali persaudaraan adalah orang yang apabila diputus tali persaudaraanya dia menyambungnya kembali. (Shahih, dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhori : 5991)

Ummi Sang Mujahid

Ummi Sang Mujahid

Ikhwatal iman...

Jika antum ditanya, siapakah pahlawan yang senantiasa mewarnai lembaran perjuangan islam? Pasti yang bermunculan dalam benak kita adalah nama-nama harum seperti Anas bin Malik, Al Hasan, Al Husein, Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan sederet pahlawan islam lainnya.

Memang benar, mereka telah berkorban banyak untuk islam dan muslimin. Seolah setiap hembusan nafas, tetesan keringat, denyut nadi, air mata, darah, derap langkah, mereka korbankan untuk islam.

Sungguh.. sungguh kerdilnya kita di hadapan mereka!

Namun, taukah akhi siapakah pemeran utama dibalik kesuksesan mereka -setelah Allah tentunya-?

Bunda. Iya, bunda. Atau kita panggil saja Ummi.

Para kaum ummi adalah inspirasi hampir setiap ulama. Jiwa rela berkorban yang dimiliki ulama telah terpatri kuat dalam kalbu saat mereka melihat pengorbanan ummi.

Ummi yang selalu mengikatkan imamah saat sebelum ulama pergi ke kuttab (madrasah Alqur'an). Ummi yang selalu menyeka air mata saat air mata ulama tertumpah. Ummi yang tak pernah lupa mendoakan kesuksesan para ulama saat semua orang belum sadar kedudukannya, Ummi yang tak kenal lelah dan bosan merawat ulama. Ummi yang rela menjual rumah demi keberhasilan tholabul ilmi ulama.

Perjuangan.. pengorbanan itulah yang para ulama dapatkan dari ummi.

Dalam adagium arab dikatakan "Al Umm Shooni'atur Rijaal", "Ummi adalah pencetak jagoan".

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi, motivasi dan hiburan untuk para kaum ummi.

Tak lupa pula, kisah ini ana kirim spesial untuk Ummi tercinta di Solo, Allahu yubaariku fiiki.

________~~~~________

Hari itu, di salah satu sudut masjid nabawi berkumpullah Abu Qudamah dan para sahabatnya.

Dihati para sahabatnya, Abu Qudamah adalah orang yang sangat dikagumi. Itu karena Abu Qudamah adalah seorang mujahid. Berjihad dari satu front ke medan-medan jihad lainnya. Seolah hidup beliau, beliau persembahkan untuk berjihad.

Debu yang beterbangan, kilatan pedang, hempasan anak panah, derap kuda adalah hal yang sudah biasa bagi beliau. Pengalaman, tragedi, kisah dan momen pun telah banyak beliau saksisan di setiap gelanggang perjuangan jihad.

"Abu Qudamah, ceritakanlah pada kami kisah paling mengagumkan di hari-hari jihadmu," tiba-tiba salah seorang sahabatnya meminta.

"Ya," jawab Abu Qudamah.

________~~~~________

Beberapa tahun lalu. . .
Aku singgah di kota Recca. Aku ingin membeli onta untuk membawa persenjataanku.

Saat aku sedang bersantai di penginapan, keheningan pecah oleh suara ketukan.

Ku buka ternyata seorang perempuan.

"Engkaukah Abu Qudamah?" tanyanya.

"Engkaukah yang menghasung umat manusia untuk berjihad?" pertanyaannya yang kedua.

"Sungguh, Allah telah menganugrahiku rambut yang tak dimiliki wanita lain. Kini aku telah memotongnya. Aku kepang agar bisa menjadi tali kekang kuda. Aku pun telah menutupinya dengan debu agar tak terlihat.

Aku berharap sekali agar engkau membawanya. Engkau gunakan saat menggempur musuh, saat jiwa kepahlawananmu merabung. Engkau gunakan bersamaan saat kau menghunus pedang, saat kau melepaskan anak panah dan saat tombak kau genggam erat.

Kalau pun engkau tak membutuhkan, ku mohon berikanlah pada mujahid yang lain. Aku berharap agar sebagian diriku ikut di medan perang, menyatu dengan debu-debu fy sabilillah.

Aku adalah seorang janda. Suamiku dan karib kerabatku, semuanya telah mati syahid fy sabilillah. Kalau pun syariat mengizinkan aku berperang, aku akan memenuhi seruannya," ungkapnya sembari menyerahkan kepangan rambutnya.

Aku hanya diam membisu. Mulutku kelu walau tuk mengucapkan "iya".

"Abu Qudamah, walaupun suamiku terbunuh, namun ia telah mendidik seorang pemuda hebat. Tak ada yang lebih hebat darinya.

Ia telah menghapal Alqur'an. Ia mahir berkuda dan memanah. Ia senantiasa sholat malam dan berpuasa di siang hari.

Kini ia berumur 15 tahun. Ialah generasi penerus suamiku. Mungkin esok ia akan bergabung dengan pasukanmu. Tolong terimalah dia. Aku persembahkan dia untuk Allah. Ku mohon jangan halangi aku dari pahala," kata-kata sendu terus mengalir dari bibirnya.

Adapun aku masih diam membisu. Memahami kalimat per kalimat darinya. Lalu tanpa sadar perhatianku tertuju pada kepangan rambutnya.

"Letakkanlah dalam barang bawaanmu agar kalbuku tenang," pintanya tahu aku memperhatikan kepangan rambutnya.

Aku pun segera meletakkannya bersama barang bawaanku. Seolah aku tersihir dengan kata-kata dan himmahnya yang begitu mengharukan.


Kesekoan harinya, aku bersama pasukan beranjak meninggalkan Recca.

Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang memanggil-manggil.

"Abu Qudamah!" serunya.

"Abu Qudamah, tunggu sebentar, semoga Allah merahmatimu."

Kaki pun terhenti. Lalu aku berpesan kepada pasukan, "tetaplah di tempat hingga aku mengetahui orang ini."

Dia mendekat dan memelukku.

"Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan menjadi pasukanmu. Sungguh Dia tidak ingin aku gagal," ucapnya

"Kawan, singkaplah kain penutup kepalamu dahulu," pintaku.

Ia pun menyingkapnya. Ternyata wajahnya bak bulan purnama. Terpancar darinya cahaya ketaatan.

"Kawan, apakah engkau memiliki Abi?" tanyaku.

"Justru aku keluar bersamamu hendak menuntut balas kematian Abi. Dia telah mati syahid. Semoga saja Allah menganugrahiku syahid seperti Abi," jawabnya.

"Lalu, bagaimana dengan Ummi? Mintalah restu darinya terlebih dahulu. Jika merestui, ayo. Jika tidak, layanilah beliau. Sungguh baktimu lebih utama dibandingkan jihad. Memang, jannah di bawah bayangan pedang, namun juga di bawah telapak kaki ibu."

"Duhai Abu Qudamah. Tidakkah engkau mengenaliku."

"Tidak."

"Aku putra pemilik titipan itu. Betapa cepatnya engkau melupakan titipan Ummi, pemilik kepangan rambut itu.

Aku, insya Allah, adalah seorang syahid putra seorang syahid. Aku memohon kepadamu dengan nama Allah, jangan kau halangi aku ikut berjihad fy sabilillah bersamamu.

Aku telah menyelesaikan Alquran. Aku juga telah mempelajari sunnah Rasul. Pun aku lihai menunggang kuda dan memanah.

Tak ada seorang pun lebih berani dariku. Maka, janganlah kau remehkan aku hanya karena aku masih belia.

Ummi telah bersumpah agar aku tidak kembali. Beliau berpesan; Nak, jika kau telah melihat musuh, jangan pernah kau lari. Persembahkanlah ragamu untuk Allah. Carilah kedudukan di sisi Allah. Jadilah tetangga Abimu dan paman-pamanmu yang sholeh di jannah. Jika nantinya kau menjadi syahid, jangan kau lupakan Ummi. Berilah Ummi syafa'at. Aku pernah mendengar faedah bahwa seorang syahid akan memberi syafaat untuk 70 orang keluarganya dan juga 70 orang tetangganya.

Ummi pun memelukku dengan erat dan mendongakkan kepalanya ke langit;

Rabbku.. Maulaku.. Inilah putraku, penyejuk jiwaku, buah hatiku.. aku persembahkan ia untukmu. Dekatkanlah ia dengan ayahnya," terang sang pemuda

Kata-katanya terus mendobrak tanggul air mataku. Dan akhirnya aku benar-benar tak kuasa menahannya. Aku tersedu-sedu. Aku tak tega melihat wajahnya yang masih muda, namun begitu tinggi tekadnya. Aku pun tak bisa membayangkan kalbu sang ibu. Betapa sabarya ia.

Melihatku menangis, sang pemuda bertanya, "Paman, apa gerangan tangisanmu ini? Jika sebabnya adalah usiaku, bukankah ada orang yang lebih muda dariku, namun Allah tetap mengadzabnya jika bermaksiat!?"

"Bukan," aku segera menyanggah.

"Bukan lantaran usiamu. Namun aku menangis karena kalbu ibumu. Bagaimana jadinya nanti jika engkau gugur?"

Akhirnya aku menerimanya sebagai bagian dari pasukan. Siang malam si pemuda tak pernah jemu berdzikir kepada Allah ta'ala. Saat pasukan bergerak, ia yang paling lincah mengendalikan kuda. Saat pasukan berhenti istirahat, ia yang paling aktif melayani pasukan. Semakin kita melangkah, tekadnya juga semakin membuncah, semangatnya semakin menjulang, kalbunya semakin lapang dan tanda-tanda kebahagiaan semakin terpancar darinya.


Kami terus berjalan menyusuri hamparan bumi nan luas. Hingga kami tiba di medan laga bersamaan dengan bersiap-siapnya matahari untuk terbenam.

Sesampainya, sang pemuda memaksakan diri menyiapkan hidangan berbuka untuk pasukan. Memang, hari itu kami berpuasa. Dan dikarenakan hal inilah juga khidmatnya kepada pasukan selama perjalanan, dia tertidur pulas. Pulas sekali hingga kami iba membangunkan. Akhirnya, kami sendiri yang menyiapkannya dan membiarkan si pemuda tidur.

Saat tidur, tiba-tiba bibirnya mengembang menghiasi wajahnya.
"Lihatlah, ia tersenyum!" kataku pada teman keheranan.

Setelah bangun, aku bertanya padanya, "kawan, saat tertidur kau tersenyum. Apa gerangan mimpimu?"

"Aku mimpi indah sekali. Membuatku bahagia," jawabnya.

"Ceritakanlah padaku!" pintaku penasaran.

"Aku seperti di sebuah taman hijau nan permai. Indah sekali. Pemandangannya menarik kalbuku untuk berjalan-jalan.

Saat asyik berjalan, tiba-tiba aku berdiri di depan istana perak, balkonnya dari batu permata dan mutiara serta pintu-pintunya dari emas.

Sayang, tirai-tirainya terjuntai, menghalangiku dari bagian dalam istana. Namun tak lama, keluarlah gadis-gadis menyingkap tirai-tirainya. Sungguh wajah mereka bagaikan rembulan. Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, amboi cantiknya.

"Marhaban," kata salah seorang dari mereka tahu ku memandanginya.

Aku pun tak tahan hendak menjulurkan tangan menyentuhnya. Belum sampai tangan ini menyentuh, dia berkata,
"Belum. Ini belum waktunya. Janganlah terburu-buru."

Telingaku juga menangkap sebuah suara salah seorang mereka, "Ini suami Al Mardhiyah."

Mereka berkata kepadaku, "kemarilah, yarhamukalloh."

Baru saja kakiku hendak melangkah, ternyata mereka telah berdiri di depanku.

Mereka membawaku ke atas istana. Di sebuah kamar, seluruhnya dari emas merah yang berkilauan indahnya. Dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau dan kaki-kakinya terbuat dari perak putih.

Dan diatasnya. . .

seorang gadis belia dengan wajah bersinar lebih indah dari sekedar rembulan!! Kalaulah Allah tidak memantapkan kalbu dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikannya!!

"Marhaban, ahlan wa sahlan, duhai wali Allah. Sungguh engkau adalah milikku dan aku adalah milikmu" katanya menyambutku, membuatku tak terasa hendak memeluknya.

"Sebentar. Janganlah terburu-buru. Belum waktunya.

Aku berjanji padamu, kita bertemu besok selepas sholat dhuhur. Bergembiralah," sang pemuda mengakhiri kisahnya.

Lalu, aku berusaha membangkitkan himmahnya, "Kawan, mimpimu begitu indah. Engkau akan melihat kebaikan nantinya,"

Kami pun bermalam dengan perasaan takjub dan kagum akan mimpi sang pemuda.

Esok hari, kami bersiap menghadapi kaum kafir. Barisan diluruskan, formasi dan strategi dimatangkan, senjata tergenggam kuat dan tali kekang kuda dipegang erat.

Semangat pun semakin berkobar saat mendengar hasungan, "wahai segenap para tentara Allah, tunggangilah kuda-kuda kalian. Bergembiralah dengan jannah. Majulah kalian, baik terasa ringan oleh kalian ataupun terasa berat."

Tak lama, skuadron pasukan kuffar tiba dihadapankan kami. Banyak sekali, bagaikan belalang yang menyebar kemana-mana.

Perang campuh pun terjadi. Kesunyian pagi hari sontak terpecah oleh teriakan skuadron kuffar dan gema takbir kaum muslimin. Suara senjata yang saling beradu, berbaur dengan riuh rendah suara para prajurit yang sedang bertaruh nyawa.

Tiba-tiba aku mengkhawatirkan pemuda itu. Iya, dimana pemuda itu...


Dimana pemuda itu ? Ku berusaha mencari di tengah medan laga. Ternyata dia di barisan depan pasukan muslimin. Dia merangsek maju, menyibak skuadron kuffar dan memporak porandakan barisan mereka.

Dia bertempur dengan hebatnya. Dia mampu melumpuhkan begitu banyak pasukan kuffar.

Namun begitu, tetap saja hati ini tak tega melihatnya. Aku segera menyusulnya di depan.

"Kawan, kau masih terlalu muda. Kau tak tahu betapa liciknya pertempuran. Kembalilah ke belakang," teriakku mencoba menyaingi suara riuh pertempuran, sambil menarik tali kekang kudanya.

"Paman, tidakkah kau membaca ayat
{{ wahai segenap kaum mukmin, jika kalian telah bercampuh dengan kaum kuffar, maka janganlah kalian mundur ke belakang }} [Al Anfall:15].
Sudikah engkau aku masuk neraka ?" serunya menimpali

Saat kucoba memahamkannya, serbuan kavelari kuffar memisahkan kami. Aku berusaha mengejarnya, namun sia-sia. Peperangan semakin bergejolak.

Dalam kancah pertempuran, terdengarlah derap kaki kuda diiringi gemerincing pedang dan hujan panah.

Lalu mulailah kepala berjatuhan satu persatu. Bau anyir darah tercium dimana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.

Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak. Kedua pasukan bertempur habis-habisan.

Saat perang usai, aku segera mencari si pemuda. Terus mencari di medan laga. Aku khawatir dia termasuk yang terbunuh. Aku berkeliling mengendarai kuda di sekitar kumpulan korban. Mayat demi mayat, sungguh wajah mereka tak dapat dikenali, saking banyaknya darah bersimbah dan debu menutupi.

Dimana sang pemuda ?

Aku terus melanjutkan pencarian. Dan tiba-tiba aku mendengar suara lirih, ”Kaum muslimin, panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari!”

Itu suaranya, teriakku dalam kalbu. Kucari sumber suara, ternyata benar, si pemuda. Berada di tengah-tengah kuda bergelimpangan. Wajahnya bersimbah darah dan tertutup debu. Hampir aku tak mengenalnya.

Aku segera mendatanginya.
"Aku di sini! Aku di sini! Aku Abu Qudamah!" isakku tak kuasa menahan tangis. Aku sisingkan sebagian kainku dan mengusap darah yang menutupi wajah polosnya.

"Paman, demi Rabb ka'bah, aku telah meraih mimpiku. Akulah putra ibu pemilik rambut kepang itu. Aku telah berbakti padanya, ku kecup keningnya dan ku hapus debu dan darah yang terkadang mengalir di wajahnya," kenangnya. Sungguh aku benar-benar tak kuasa dengan kejadian ini.

"Kawan, janganlah kau lupakan pamanmu ini. Berilah dia syafa'at nanti di hari kiamat."

"Orang sepertimu tak kan pernah kulupakan."

"Jangan!" serunya lagi saat kucoba mengusap wajahnya.
"Jangan kau usap wajahku dengan kainmu. Kainku lebih berhak untuk itu. Biarkanlah darah ini mengalir hingga aku menemui Rabb-ku, paman.

Paman, lihatlah, bidadari yang pernah kuceritakan padamu ada di dekatku. Dia menunggu ruhku keluar. Dengarkanlah kata-katanya; sayang, bersegeralah. Aku rindu.

Paman, demi Allah, tolong bawalah bajuku yang berlumuran darah ini untuk ummi. Serahkanlah padanya, agar beliau tahu aku tak pernah menyia-nyiakan petuahnya. Juga agar beliau tahu aku bukanlah pengecut melawan kaum kafir yang busuk itu. Sampaikanlah salam dariku dan katakan hadiahmu telah diterima Allah.

Paman, saat berkunjung ke rumah nanti, kau akan bertemu adik perempuanku. Usianya sekitar sepuluh tahun. Jika aku datang, ia sangat gembira menyambutku. Dan jika aku pergi, ia paling tidak mau kutinggalkan.

Saat ku meninggalkannya kali ini, ia mengharapkanku cepat kembali. "Kak, cepat pulang, ya." Itulah kata-katanya yang masih terngiang di telingaku.

Jika engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku padanya dan katakan; Allah-lah yang akan menggantikan kakak sampai hari kiamat, " kata-katanya terus membuat air mataku meleleh. Menetes dan terus menetes membuat aliran sungai di pipi.

"Asyhadu alla ilaaha illalloh, wahdahu laa syarikalah, sungguh benar janji-Nya. Wa asyhadu anna muhammadarrosululloh. Inilah apa yang djanjikan Allah dan rasul-Nya dan nyatalah apa yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya," itulah kata-kata terakhirnya sebelum ruh berlepas dari jasadnya.

Lalu aku mengkafaninya dan menguburkannya.

Aku harus segera ke Recca, tekadku.

(bersambung, insyaAllah)
________oo0oo________
Saat menulis ini, kupersembahkan air mata cinta dan rindu untuk kedua adikku di Solo. Allahu yubarik fykum. Wa nas-alulloha al ikhlash.


Aku segera pergi ke Recca. Tak lain dan tak bukan tujuanku hanyalah ibu si pemuda.

Celakanya aku, aku belum mengetahui nama si pemuda dan di mana rumahnya. Aku berkelililing ke seluruh kota Recca. Setiap sudut, gang dan jalan ku telusuri. Dan akhirnya aku mendapatkan seorang gadis mungil. Wajahnya bersinar mirip si pemuda.

Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu didepanya. Tiap kali melihat orang baru datang dari bepergian, ia bertanya,
“Paman, anda datang darimana?”
“Aku datang dari jihad,” kata lelaki itu.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya
“Aku tak kenal, siapa kakakmu.” kata lelaki itu sambil berlalu.

Lalu lewatlah orang kedua dan tanyanya,
“Paman, anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” jawabnya.
“Kakakku ada bersamamu?”, tanya gadis itu.
“Aku tak kenal, siapa kakakmu.” jawabnya sambil berlalu.

Gadis itu pun tak bisa menahan rindu kepada sang kakak. Sambil terisak-isak, dia berkata,"mengapa mereka semua kembali dan kakakku tak kunjung kembali?”

Aku iba kepadanya. Ku coba menghampiri tanpa membawa ekspresi kesedihan.

"Adik kecil, bilang sama Ummi, Abu Qudamah datang."

Mendengar suaraku, sang ibu keluar.

"Assalamu'alaiki," salamku.

"Wa'alaikum salam," jawabnya.

"Engkau ingin memberiku kabar gembira atau berbela sungkawa?" lanjutnya.

"Maksud, ibu ?"

"Jika putraku datang dengan selamat, berarti engkau berbela sungkawa. Jika dia mati syahid, berarti engkau kemari membawa kabar gembira," terangnya.

"Bergembiralah. Allah telah menerima hadiahmu."

Ia pun menangis terharu.

"Benarkah?"

"Iya."

Benar-benar ia tak kuasa menahan tangis.

"Alhamdulillah. Segala puji milik Allah yang telah menjadikannya tabunganku di hari kiamat," pujinya kepada Zat Yang Maha Kuasa.

________oo0oo________

Para sahabat Abu Qudamah mendengarkan kisahnya dengan penuh kekaguman.

"Lalu gadis kecil itu bagaimana?" tanya salah seorang dari mereka.

"Dia mendekat kepadaku. Dan kukatakan padanya, "Kakakmu menitipkan salam padamu dan berkata; dik, Allah-lah yang menggantikanku sampai hari kiamat nanti"

Tiba-tiba dia menangis sekencang-kencangnya. Wajahnya pucat. Terus menangis hingga tak sadarkan diri. Dan setelah itu nyawanya tiada.

Sang ibu mendekapnya dan menahan sabar atas semua musibah yang menimpanya.

Aku benar-benar terharu melihat kejadian ini. Aku serahkan padanya sekantong uang, berharap bisa mengurangi bebannya.

Sang ibu pun melepas kepergianku. Aku meninggalkan mereka dengan kalbu yang penuh kekaguman, ketabahan sang ibu, sifat ksatria sang pemuda dan cinta gadis kecil itu kepada kakaknya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

yaR Rohman yaR Rohiim

Kabulkanlah seuntai do'a kami.
Memang terasa berat meniti jalan jannah-Mu. Syahwat yang selalu menyambar, syubhat yang terus menghantam, setan yang tak pernah menyerah dan nafsu jahat yang senantiasa memberontak. Sedangkan kalbu ini lemah, ya Rabb.

Kalaulah bukan karena-Mu, tidaklah kami ini berislam. Tidak pula mengerjakan sholat, tidak pula bersedekah.

Teguhkanlah kaki kami di atas jalan-Mu ini

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Diterjemahkan dengan beberapa editing tanpa merubah tujuan dan makna dari kitab 'Uluwwul Himmah indan Nisaa', 212-217.
Lihat juga:
1. Masyari'ul Asywaqi ila mashori'il Usysyaqi: 1/285-290.
2. Sifatush Shofwah: 2/369-370
3. Tarikh Islam: 1/214-215

Dikirim oleh Al-akh Yahya Al Windany (salah satu Thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)
Ana dapatkan dari ustadz abu ja'far

Ahlus Sunnah yang Penyayang

Ahlus Sunnah yang Penyayang (Catatan Kecil Menjelang Pemilihan Presiden Indonesia 2014)

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Allah ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imron: 159]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya beliau (Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam) adalah orang yang paling sayang kepada umatnya, dan yang paling cinta untuk memudahkan urusan-urusan bagi mereka, dan tidaklah beliau dihadapkan pada dua pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah diantara keduanya, selama itu bukan dosa.” [Al-Fatawa Al-Kubro, 6/242]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang, sayangilah penduduk bumi, niscaya (Allah) yang di langit akan menyayangi kalian.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jami’: 3522]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata,

“Mereka (Ahlus Sunnah) adalah orang-orang yang paling berilmu tentang kebenaran dan paling sayang kepada makhluk, sebagaimana Allah ta’ala telah mensifatkan kaum muslimin dengan firman-Nya dalam surat Ali Imron: “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.” Abu Hurairah berkata: “Kalian adalah sebaik-baik manusia (yang dikeluarkan untuk mendakwahi) seluruh manusia.” Maka Ahlus Sunnah adalah orang-orang pilihan dari kaum muslimin, mereka adalah sebaik-baik manusia (yang dikeluarkan untuk mendakwahi) seluruh manusia.” [Minhaajus Sunnah, 5/103]

Selengkapnya: http://sofyanruray.info/ahlus-sunnah-yang-penyayang-catatan-kecil-menjelang-pemilihan-presiden-indonesia-2014/

Bulan Syàbān

Bacaan Pekanan
Al-Fawāid Edisi 15.

Tashfiyyah Diniyyah.

             بسم الله الرحمن الرحيم

  ����������������
    >>> Bulan Syàbān <<<
=====================

Syàbān adalah salah satu bulan Islam yang terdapat keterangan shohih menunjukkan keutamaannya.

Dan selayakanya kita mencukupkan dengannya daripada keterangan-keterangan yang lemah, palsu dan dusta yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan penyandarannya kepada Islam agama milik Allōh ini, dan juga kepada Rasulullōh yang mulia, yang kita semua harus menjaga kehormatannya.

Diantara sebagian keterangan tersebut adalah; Àisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullōh berpuasa lebih banyak selain Syàbān”. (HR. Bukhōriy - Muslim).

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa nabi banyak melaksanakan puasa (sunnah) di bulan Syàbān, dan beliau sebutkan diantara alasan amalan tersebut, dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya:

«يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَك تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ تَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ فَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

“Wahai Rasulullōh saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan lain, sebagaimana puasamu pada bulan Syàbān?”, maka beliau menjawab: “Itu adalah bulan yang manusia lalai darinya, antara Rojab dan Ramadhōn, dan pada saat itu diangakat amalan-amalan manusia kepada Robbul âlamin, maka saya senang jika amalanku diangkat dan aku sedang berpuasa”. (HR. Ahmad, An-Nasāi dan Ibnu Khuzaimah. Dihasankan Syaikh Al-Albāniy).

Para Ulama menjelaskan bahwa dari hadits ini menunjukkan akan keutamaan Syàbān, dan diantara hikmah kenapa dianjurkan berpuasa sunnah di bulan Syàbān, adalah untuk melatih diri merasakan lezatnya ibadah puasa, hingga ketika ketika Romadhōn tiba ia-pun penuh kesiapan dan semangat serta biasa untuk berpuasa.

Namun, ada hadits dari shohabat Abu Huroiroh bahwa Rasulullōh bersabda: “Jika tiba pertengahan Syàbān maka janganlah kalian berpuasa”. (HR. Tirmidziy).

Hadits ini secara lahiriyah melarang berpuasa setelah lewat pertengahan Syàbān, dan juga ada hadits lain dari ‘Aisyah beliau berkata: “Rasulullōh itu berpuasa di bulan Syàbān, kecuali sedikit yang ditinggalkannya”. (HR. Bukhōriy – Muslim).

Asy-Syaikh Ibnu Bāz rohimahullōh berkata: “Para Ulama Syafi’iyyah beramal dengan seluruh hadits tersebut, dan mereka menjelaskan bahwa tidak boleh berpuasa setelah pertengahan Syàbān, kecuali bagi yang memiliki kebiasaan atau ia melanjutkan puasanya sebelum pertengahan Syàbān”, dan beliau juga berkata, “Yang dilarang adalah jika memulai puasanya setelah pertengahan Syàbān”. (Fatawa Islam, no. 13726).

Hal ini juga agar jangan sampai jatuh dalam larangan hadits: “Janganlah kalian mendahului Romadhōn dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali yang memiliki kebiasaan berpuasa maka berpuasalah”. (HR. Bukhōriy - Muslim).

Itulah diantara keterangan yang shohih tentang bulan Syàbān, dan keutamaannya dikejar dengan memperbanyak puasa sunnah padanya.

Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad Shollallōhu àlaihi Wa Sallam.

                 ~•••~

"Amalan-amalan yang tidak ada dalil serta pentunjuk dari Islam di Bulan Syàbān".
----------------------------

⛔Menghidupkan malam Nishfu Syàbān.
Al-Imām Ibnu Rajab rohimahullōh berkata: “Tidak ada satu dalil pun yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallōhu àlaihi Wa Sallam dan dari para shohabat beliau. Yang ada hanyalah dari beberapa Tabiîn yang merupakan fuqohā negeri Syām.” (Lathōif Al Maârif).

Al-Imām Abu Al-Àlā Al Mubārokfuri rohimahullōh: “Ketahuilah bahwa telah datang beberapa riwayat hadits tentang keutamaan malam Nishfu Syàbān, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada asal-nya!.” (Tuhfatul-Ahwādziy).

Asy-Syaikh Ibnu Bāz rohimahullōh berkata: “Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu Syàbān itu semuanya hadits palsu. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (At- Tahdzir minal Bidà).

Asy-Syaikh Ibnu Al Ùtsaimin rohimahullōh berkata: “Malam Nishfu Syàbān itu seperti malam-malam lainnya. Janganlah dikhususkan dengan sholat tertentu, tidak pula dengan puasa tertentu". (Liqōul Bāb Al-Maftuh)

⛔Penyerupaan tradisi ritual HINDU-BUDHA.

❎Ruwahan.
Di sebagian masyarakat Jawa Indodesia, ada amalan: ‘Ruwahan’, yang diinginkan dengannya adalah: Kirim do'a untuk kerabat yang telah meninggal dunia dengan baca yasinan atau tahlilan.

Disebut dengan ‘Ruwahan’, karena menurut mereka dalam bahasa Jawa itulah nama bagi bulan Syàbān, dan asal katanya adalah Ruwah atau arwah yang mendandung makna kematian.

❎Mengkhususkan dengan mandi besar di akhir bulan Syàbān untuk menyambut bulan Romadhōn, ritual ini juga disebut di masyarakat Jawa dengan istilah ‘padusan’ atau ‘keramasan’.

Selain tidak adanya petunjuk dalam agam Islam sama sekali hal ini, ditambah lagi keruskan dan kenistaannya hal ini dilakukan dengan ikhtilath atau bercampur-baur pria dan wanita dalam satu tempat pemandian, seperti di Sungai dan selainnya, sebagaimana hal ini benar-benar telah terjadi.

Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam.

Dimanakah akal mereka..?! malah jutru menyambut bulan Romadhon dengan perkara kemungkaran, dosa dan kenistaan.

Sangat jelas, kitak katakan: Nabi shallōllōhu 'alaihi wa sallōm dan para shohabat tidaklah pernah mencontohkannya.

✅Sebaik-baik tauladan adalah Rosulullōh Shollallōhu àlaihi Wa Sallam.

❎Diakhir bulan Syàbān, menjelang masuknya bulan Romadhōn diyakini dan dikhususkan untuk ziarah kubur, dari orang tua atau kerabat, atau selainnya.

✅Padahal, ziarah kubur itu tidaklah hanya dilakukan khusus pada bulan Syàbān saja.

Tetapi, setiap waktu untuk memperbanyak mengingat kematian.

Nabi Shallallōhu àlaihi Wa Sallam bersabda:

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ

“Ziarahilah kubur, karena hal itu lebih mengingatkan kalian akan negeri akhirat (kematian).” (HR. Muslim).

Itulah ‘diantara’ amal ritual yang terjadi di masyarakat yang sama sekali tidak ada tuntunannya dalam Islam untuk bulan Syàbān.

Cukuplan bagi kita Al-Qurān dan Sunnah Nabi yang mulia, Muhammad Shollallōhu àlaihi Wa Sallam dalam beragama, dalam kehidupan, dalam upaya untuk mencari keridhoan Allōh, dan dalam segala hal.

Shohabat Nabi yang mulia, Àbdullōh bin Masùd rodhiallōhu ànhu menasihati kita semua:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
 
“Ikutilah saja oleh kalian (petunjuk dan tuntunan Nabi shollallōhu àlaihi wa sallam; penj), janganlah kalian membuat amalan-amalan baru yang tidak ada tuntunannya.

Karena (petunjuk dan tuntunan Nabi shollallōhu àlaihi wa sallam; penj) itu sudah cukup bagi kalian.

Semua bidàh itu adalah kesesatan.”  (Diriwayatkan oleh Ath-Thobrōniy dalam Al-Mùjam Al-Kabir)

Wallōhuàlam.

Akhukum Hudzaifah bin Muhammad.

               GRUP WM
     =[Majmù Al-Fawāid]=

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites