Sunday, March 2, 2014

PEMBAGIAN MANUSIA KETIKA DATANGNYA SUATU MUSIBAH

بسم الله_
PEMBAGIAN MANUSIA KETIKA DATANGNYA SUATU MUSIBAH_

Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini,manusia tidaklah selalu berada dalam keadaan senang,sehat,dan berkumpul dengan orang-orang yang di kasihinya_,sebesar apapun usaha yang ia kerahkan.
Toh di sana ada juga yang namanya kesusahan dan penderitaan,..
ada juga yang namanya sakit dan saat yang mengharuskan ia tuk berpisah dengan orang-orang yang di cintainya.
Maka alangkah indah perkataan seorang penyair 'arab:
  " ثمانية ﻻ بد منها على الفتى...
               و ﻻ بد أن تجري عليه الثمانية،
          سرور و هم و اجتماع و فرقة...
               و يسر و عسر ثم عافيه.
   "Delapan perkara yang akan menimpa seorang pemuda...
     Dan pasti ia akan menghadapinya,_
    "Rasa bahagia dan sedih,pertemuan dan perpisahan...
     Kemudahan dan kesulitan kemudian sakit dan sehat.
Manusia pun dalam menyikapi musibah dan bencana yang datang melanda terbagi atas beberapa tingkatan:

BERKELUH-KESAH KETIKA MUSIBAH DATANG,_
Bentuk keluh-kesah ini kadang bercokol di hatinya berupa sikap marah dan keluhan dari perkara yang telah Allah azza wajalla takdirkan padanya,dan sikap ini kadang sampai kepada tingkatan kekufuran.
Allah berfirman dalam surat al-haj:11

   {...و إن أصاببته فتنة انقلب على وجهه خسر الدنيا و الأخرة}.
"(DAN DI ANTARA MANUSIA)KETIKA DI TIMPA SUATU BENCANA,MAKA IA PUN KEMBALI KAFIR/MURTAD,RUGILAH DIA DI DUNIA DAN AKHIRAT"._
Terkadang pula sikap keluh kesah ini,ia lampiaskan dalam bentuk ucapan,seperti doa kebinasaan,kehancuran dan sebagainya.
Demikian pula ia wujudkan dan impletasikan dengan anggota tubuhnya berupa menempeleng pipinya,merobek baju dan berbagai bentuk perbuatan lainya yang mencerminkan sikap dia yang seakan-akan tidak menerima takdir Allah.

BERSABAR KETIKA DATANGNYA MUSIBAH,_
Berkata seorang penyair:
الصبر مثل اسمه مر مذاقته...
               لكن عواقبه أحلى من العسل
   "Kesabaran itu sama seperti namanya,pahit rasanya...
     Akan tetapi akibat yang di hasilkan lebih manis dibandingkan madu._

Maka seseorang akan memandang bahwa musibah yang datang menerpa, sangatlah berat baginya dan datangnya musibah ini adalah suatu perkara yang dia tidak senangi akan tetapi ia tetap bersabar memikulnya,dan keimanannya menjaganya dari sikap keluh-kesah.

RIDHO DENGAN MUSIBAH YANG DATANG,_
Tingkatan yang satu ini lebih tinggi dibandingkan tingkatan sebelumnya.
Suatu sifat dalam memandang musibah yang datang menerpa sebagai suatu perkara yang wujudnya seperti tidak ada,dalam artian adanya musibah atau tidak,memiliki nilai yang sama di sisinya.karena sikap pasrah dan ridho dia terhadap takdir dan ketetapan Allah padanya yang dengan hatinya senantiasa lapang menghadapinya,baik ketika datang suatu kenikmatan ataukah suatu bencana,keduanya sama nilainya.
Bukan disebabkan hatinya mati akan tetapi disebabkan kesempurnaan ridho terhadap robb-Nya.,maka ia memandang dari "kacamata takdir dan ketetapan allah",
Inilah yang membedakan antara sikap ridho dan sabar dalam menghadapi musibah.

BERSYUKUR KETIKA DATANGNYA MUSIBAH,_
Dan ini adalah tingkatan yang paling tinggi dan mulia di bandingkan tingkatan-tingkatan sebelumnya.
Ia bersyukur kepada Allah ketika di timpa suatu musibah,
Ketika dia mengetahui bahwasanya musibah yang menimpanya merupakan sebab terampuninya dosa dan kesalahan dan bahkan bisa menjadi point kebaikan dan pahala baginya maka ia pun bersyukur kepada allah atas perkara tersebut.
Nabi-صلى الله عليه وسلم_bersabda
    (( ما يصيب المؤمن من هم و غم و ﻻ شيئ إﻻ كفر له بها،حتى الشوكة يشاكها)).

"TIDAKLAH SUATU PERKARA YANG MENIMPA SEORANG MUKMIN (BAIK) BERUPA GUNDAH GULANAH DAN KECEMASAN ATAUKAH SELAINNYA KECUALI PERKARA TERSEBUT MENJADI PENGHAPUS DOSANYA,BAHKAN DURI YANG MENUSUKPUN(akan menjadi penghapus dosanya,pent).

Semoga bermanfaat.,
Barakallahu fikum.
abu 'abdillah sahal,_
                  رعاه الله تعالى

empat pembagian sikap manusia dalam menghadapi musibah disebutkan oleh syaikh ustaimin dalam kitab bliau"al-qaul al-mufid syarah kitab tauhid"[2/215].

Nasihat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf

Nasihat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim,

“Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu (yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?” Hatim rahimahullâh menjawab, “(Saya telah mempelajari) delapan perkara: Pertama: Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya akan berpisah dari nya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan) kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur. Kedua: Saya melihat kepada Firman Allah Ta’âlâ, “(Dan orang-orang yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [An-Nâzi’ât: 40], maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada Allah Ta’âlâ. Ketiga: Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga bagi nya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya memperhatikan Firman (Allah) Subhânahu wa Ta’âlâ, “Apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” [An-Nahl:96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya hadapkan kepada-Nya agar ia kekal untukku di sisi-Nya. Keempat: Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Al-Hujarât:13], maka saya pun beramal dengan ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-Nya. Kelima: Saya melihat manusia saling mendengki (hasad). Lalu saya memperhatikan Firman (Allah) Ta’âlâ, “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka.” [Az-Zukhruf:32], maka saya pun meninggalkan hasad. Keenam: Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Sesungguhnya syaithân itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh.” [Fâthir:6], maka saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithân sebagai musuh satu-satunya. Ketujuh: Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” [Hûd:6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa yang merupakan hak Allah terhadapku dan saya tinggalkan apa yang untukku di sisi-Nya. Kedelapan: Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada pergangan, usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada Allah.

[Bahjatul Majâlis Wa Anîsul Muqîm Wal Musâfir Juz II hal 12-13] Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net Twitter: @DzulqarnainMS

Apa yang kalian Ibadahi dan Apa yang telah kalian penuhi dari panggilan para Rosul ?

Berkata Qataadah:

"Dua kalimat yang akan ditanya tentangnya orang - orang terdahulu dan belakangan :
Apa yang kalian Ibadahi dan Apa yang telah kalian penuhi dari panggilan para Rosul ?

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah - di Zaadul ma'aad:
��Maka jawaban  pertama :
Mewujudkan kalimat
ﻵإله إلا الله :
" Tidak ada yang di ibadahi dengan benar kecuali Allah "
secara pengetahuan dan ketetapan serta amalan.
��Dan jawaban mewujudkan yang ke dua  :
Bahwa Muhammad adalah Rosulullah ( utusan Allah ) : secara pengetahuan dan ketetapan serta ketundukan dan keta'atan."

WA Ta'zhim Assunnah riau-Abu Muhammad RizQ
Surat  no. 61

Nasehat yang berharga ..dari Ibnul Qayyim Aljauziyyah
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah :
[ Waspada dan waspadalah dari dua perkara yang keduanya memiliki akibat yang jelek :
salah satunya  : menolak kebenaran dikarenakan ia menyelisihi hawa nafsumu ,maka sesungguhnya engkau akan dihukum dengan memiliki hati yang terbalik .
dan yang ke dua : meremehkan perintah syari'at apabila tiba waktunya , maka sesungguhnya engkau jika meremehkannya niscaya Allah akan menghalangimu dan menghambatmu dari berbagai keridhoanNya serta berbagai perintahnya sebagai bentuk hukuman bagimu]

Badaai'ulfawaaid ( 3/ 1128 ) dengan meringkas

WA Ta'zhim Assunnah

MENINGGIKAN KUBURAN LEBIH DARI SEJENGKAL

Jawaban sekaligus Tulisan.

   MUSIBAH

“MENINGGIKAN KUBURAN LEBIH DARI SEJENGKAL”

Dalam hadits Aisyah rodhiallohu’anha, beliau menejaskan akan kuburan Nabi:

أنها ليست بمُرْتَفِعَةٍ ولا وَاطِئَةٍ

“Kuburan Nabi itu tidaklah tinggi (tanahnya) dan juga tidak pula terlalu rendah”. HR. Abu Dawud.

Demikian juga kuburan seluruh para Shohabat beliau dari manusia-manusia yang telah Alloh muliakan dengan kebaikan tak terhingga.

Dan lebih tegas dari itu, Shohabat yang mulia Ali bin Abi Tholib pernah berkata, bahwa beliau diperintahkan Nabi:

"لا تدع تمثالاً إلا طمسته ولا قبراً مشرفاً إلا سويته"

“Nabi shollallohu’alaihi wasallam pernah merintahkan kepadaku jika aku mendapatkan gambar agar aku hapus dan jika aku mendapatkan sebuah kuburan yang ditinggikan agar aku rendahkan (samakan dengan yang lainnya)” . HR. Muslim.

Dan juga dalam hadits lain:

" لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم زائرات القبور والمتخذين عليها المساجد والسراج"

“Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam melaknat wanita yang terlalu sering menziari kuburan dan juga orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah) serta menghiasi kuburan  dengan penerang lampu dan semisalny”. HR. Abu Dawud, dll.

Maka berdasarkan hal ini, para Ulama menjelaskan bahwasanya kuburan itu haruslah dibedakan  sebagi tanda dengan dataran tanah yang lainnya yaitu dengan ditinggikan sedikit ketinggian sejengkal dari tanah, tidak lebih.

Dan jika diberikan batu di atasnya untuk sekedar tanda maka tidaklah mengapa, sebagaiman Nabi shollallohu’alaihi wasallam pernah meletakkan batu di atas kuburnya Utsman bin Madhzum rodhiallahu’anhu.
Sehingga, jika ditinggikan saja tidak dibolehkan, apalagi jika dibagun di atasnya bangunan-bangunan yang biasa terjadi di tengah manusia, semisal nisan atau seliannya.

Hal ini adalah termasuk larangan dalam Islam, sedikitpun bukanlah ajaran Rosul, bukan bagian dari Islam ini.

Para Ulama menjelaskan bahwa diantara hikmah dilarangnya hal tersebut adalah untuk menutup pintu kesyirikan serapat-mungkin.

Bila ada kuburan yang diistimewakan dengan selainnya, ditinggikan bahkan dengan bangunan yang ada di atasnya, ini akan membuat fitnah, merusak hati bahkan aqidah, khususnya di tengah orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama, akan mengira itu adalah kubur yang istimewa, kubur wali, sehingga akan membuka pintu kesyirikan dengan menyakini adanya keberkahan di sana.

Dan ini adalah jerat Syaithon untuk menghacurkan agama seorang hamba.

Jika kubur Nabi dan para shohabatnya saja tidaklah demikian, maka bagaimana kiranya manusia lainnya yang sedikitpun tidak memiliki kemuliaan seperti mereka.

Meniggikan tanah kuburan lebih sejengkal…

Membuat bangunan di atasnya…

Menghiasi kuburan…

Ini semua bukanlah petunjuk Sunnah Rosul, bahkan larangan beliau dan pintu menuju kesyirikan kepada Robb Alam semesta.

Dan ternyata telah terjadi.

Betapa banyak kuburan yang diagungkan yang pada awalnya hanya dibangun di atasnya bangunan dan dikhususkan.

Kuburan orang-orang sholih, para wali dan seterusnya.

Di negeri pertiwi…

Kuburan para wali songo (katanya sih)…

Kuburan pah Sukarno, Gus Dur...

kalo pon-pes NU hampir seluruhnya ada kuburan kiaiyinya yang diagungkan…

Kuburan ki Marogan di Palembang ini…

dan seterusnya di bumi Nusantara.

Dan baru-baru ini kuburan si UJE….

Laa haula walaa quwwata illa billah!.

Dan terjadi… kuburan2 tersebut… dijadikan objek untuk mencari keberkahan.

Keberkahan dengan segala kebaikan itu hanyalah milik Alloh.

Wallohu’alam.

Saturday, March 1, 2014

WUJUD CINTA KEPADA ALLAH

بسم الله الرحمن الرحيم

WUJUD CINTA KEPADA ALLŌH

Dengan Mengikuti Sunnah Nabi-Nya

Saudaraku Se-iman Rohimakumullōh!.

Pada Bacaan kita edisi kali ini akan mengangkat tafsir ringkas akan dua ayat dari kitab suci kita Al-Qur’an.

Pada surat Ali Imron ayat ke 31 dan 32, yaitu firman Allōh subhānahu wataàlā:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ .

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

31. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allōh, ikutilah Aku, niscaya Allōh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allōh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

32. Katakanlah: "Ta'atilah Allōh dan Rosul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allōh tidak menyukai orang-orang kafir".

Makna ayat secara umum adalah:

“Katakan wahai Rosul!, (kepada manusia), jika kalian mencintai Allōh dengan benar, makaikutilah aku dan berimanlah kepadaku, secara dhzohir maupun batin, sehingga Allōh pasti akan mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian, karena sesungguhnya Ia maha pengampun kepada orang-orang yang beriman”.

Ayat ini merupakan bagian dari surat Āli Imron yang merupakan surat Madaniyyah, yang turun di masa Nabi shollallōhuàlaihi wasallam berada di kota madinah.

Pada asalnya ayat ini turun ditujukan kepada orang Yahudi dan Nashrani, ketika itu mereka mengklaim diri bahwa merekalah anak-anak dan pilihan kesayangan Allōh subhānahu wataàlā.

Kaum Nashraniy mengatakan bahwa mereka memuliakan nabi Isa dikarenakan cinta kepada Allōh.

Dan juga kaum musyrikin quraisy di masa nabi, mereka juga beralasan dengan cinta kepada Allōh subhānahu wataàlā dan agar dekat kepada Allōh terhadap perbuatan kesyirikan yang mereka perbuat dengan beribadah kepada patung dan selainnya.

Dan juga ditujukan kepada Abdullōh bin Ubay (pimpinan munafiq di masa nabi) dan pengikutnya, yang juga beralasan dengan cinta kepada Allōh subhānahu wataàlā atas perbuatan kufur mereka.

Walaupun ayat ini turun dengan sebab sebagaimana dijelaskan tersebut, akan tetapi pelajaran dan hukum yang ada didalamnya yang terkandung dari ayat tersebut ini ditujukan untuk kita semua, kepada seluruh manusia di setiap generasi dan masa.

Sebagaimana kaidah yang disebutkan dalam ilmu tafsir, hukum yang diambil itu dari keumuman ayat bukan dari kekhususan sebab.

Karena itulah imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau yang terkenal di tengah kaum muslimin, menafsirkan ayat ini bahwa ayat yang mulia ini, merupakan penentu dan tolak ukur bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allōh subhānahu wataàlā, padahal dirinya tidak berada di atas jalan Nabi Muhammad, maka pengakuannya itu dusta.

Kecuali ia mengikuti syariat nabi Muhammad, agama yang beliaubawa, padasetiapucapannyadankeadaanya.

Sebagaimana dalam hadits yang shohih Rosulullōh bersabda:

"مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ"

“Barangsiapa yang beramal dengan sebuah amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak”. (HR. Bukhoriy-Muslim)

Sebab dengan mengikuti perintah nabi shollallōhuàlaihi wasallam, mengamalkan ajaran beliau akan tercapai dan terwujud cinta kepada Allōh subhānahu wataàlā.

��Para ahli hikmah menendangkan kalimat yang indah:

“Bukanlah keadaan yang diinginkan itu dengan engkau mencintai, tetapi keadaan yang sebenarnya adalah bagaimana caranya agar engkau dicintai”.

Salah seorang ulama besar dan terkenal imam Al-Hasan Al-Bashriy rohimahullōh berkata:

“Ada sebagian kaum yang mengaku mencintai Allōh, maka Allōh subhānahu wataàlā pun menguji mereka dengan ayat ini:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Katakanlah: "Jikakamu (benar-benar) mencintai Allōh, ikutilah aku, niscaya Allōh mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian”

Asy-Syaikh Al Mufassir Muhammad Amiin Asy-Syinqithiy rohimahullōh dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna dari ayat ini sangat jelas sekali  bahwa mengikuti petunjuk nabi Muhammad shollallōhuàlaihi wasallam  itu akan mendatangkan kecintaan Allōh jalla jalaaluhu kepada setiap yang mengikuti beliau.

Sebab, dengan mentaati dan mengikuti rosulullōh shollallōhuàlaihi wasallam itu merupakan ketaatan kepada Allōh, dalam ayat lain Allōh subhānahu wataàlā berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rosul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allōh”. An-nisaa: 80

Dan juga dalam firman-Nya:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang datang dari Rosul itu kepadamu, maka ambillōh. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Al-Hasyr: 7.

Sehingga, dari ayat ini diambil pelajaran bahwasanya tanda benarnya cinta kepada Allōh subhānahu wataàlā dengan jujur adalah dengan mengikuti Rosulullōh shollallōhuàlaihi wasallam.

Dan orang yang menyelisihi beliau walaupun mengaku cinta kepada beliau, ini merupakan kedustaan, sebab jika benar ia mencintai beliau maka pasti akan mentaati beliau, sebagaimana dimaklumi oleh kita semua bahwa cinta itu mengharuskan ikut kepada yang dicintai, sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair:

لو كان حبك صادقاً لأطعته...

...إن المحب لمن يحب مطيع

Jika cintamu jujur pasti engkau akan mengikutinya...

Sesungguhnya yang mencintai itu senantiasa mengikuti yang dicinta...

Dan juga Asy-Syaikh Abdurrohman As-Si’diy rohimahullōh dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat ini terdapat perintah untuk mencintai Allōh, dan juga terdapat penjelasan tanda-tandanya, dan juga terdapat keterangan akan hasil dari hal itu, serta terdapat penjelasan akan manfaat dari hal tersebut.

Allōh subhānahu wataàlā berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ

Katakanlah: "Jikakamu (benar-benar) mencintai Allōh..."

Maksudnya adalah, pengakuan kalian ini merupakan pengakuan terhadap perkara yang mulia kedudukannya, perkara yang sangat agung dan tidak ada lagi yang lebih mulia darinya, maka tentunya tidak cukup hanya sebatas pengakuan dalam perkara ini, akan tetapi harus jujur dalam pengakuan tersebut.

Tanda jujurnya pengakuan tersebut adalah dengan mengikuti Rosul-Nya shollallōhuàlaihi wasallam dalam segala perkara, ucapan dan perbuatan, dalam urusan ushul pokok agama ataupun permasalahan cabangnya, secara dhzohir atau batin.

Maka barang siapa yang mengikuti Rosul tersebut, ia telah jujur dalam pengakuannya cinta kepada Allōh, dan Allōh akan mencintainya serta mengampuni dosanya, dan akan merahmatinya serta mengokohkannya dalam semua urusannya. Dan barangsiapa yang tidak mengikuti beliau maka ia tidaklah dianggap mencintai Allōh, karena cinta kepada Allōh subhānahu wataàlā mengharuskan taat dan ikut kepada Rosul-Nya.

Sehingga ayat ini merupaka tolak ukur bagi seluruh insan, dengan mengukur sejauh mana mereka mengikuti Rosulullōh, SEJAUH ITULAH UKURAN KEIMANAN DAN KECINTAAN MEREKA KEPADA ALLŌH.

Pada ayat selanjutnya dan di akhir ayat, Allōh subhānahu wataàlā berfirman:

وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allōh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang...”

Maksudnya: dengan kalian mengikuti rosulullōh itulah kalian akan mendapatkan keutamaan ini, yaitu ampunan dari Allōh  subhānahu wataàlā.

Kemudian Allōh menegaskan kembali dengan berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا ...

“Katakanlah: Ta'atilah Allōh dan Rosul-Nya; dan jika kamu berpaling…”

Maksudnya serukanlah wahai Muhammad, agar taatlah kalian kepada Allōh dan Rosul-Nya, dan jika kalian menyelisihinya maka sesungguhnya Allōh tidaklah mencintai orang-orang yang kafir, artinya perbuatan menyelisihi rosulullōh, tidak mentaati beliau itu merupakan perbuatan yang menyebabkan kekufuran, dan Allōh tidaklah mencintai setiap orang yang bersifat seperti itu.

Walaupun dalam pengakuannya mencintai Allōh atau ingin mendekatkan diri kepada Allōh, tidaklah bermanfaat hingga benar-benar mengikuti rosulullōh Muhammad penutup para nabi, sholallōhu’alaihi wasallam.

Saudaraku Se-iman Rohimakumullōh!.

Bagaimana dengan kita?...

Sejauh mana usaha yang kita curahkan untuk mempelajari ajaran Rosulullōh?...

Apakah sudah benar amalan yang kita amalkan selama ini ada keterangan yang menunjukkan itu adalah ajaran beliau?...

Tentunya kita berharap semua amalan yang kita amalkan ini betul-betul ajaran beliau sholallōhu’alaih wasallam sehingga dengannya mudah-mudahan benar cinta kita kepada Allōh, dan semoga Allōh senantiasa mencintai kita semua.

Wallōhu’alam.

(Rujukan: Tafsir Ath-Thobariy, Tafsir Al-Baghowiy, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Muyassar, Tafsir Taisirul karim Ar-Rohman, Tafsir Adhwaa’ul Bayaan).

  =[Majmù Al-Fawāid]=

Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany


Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

Imam Al-Muzany bercerita:
“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”
Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”
Aku berkata, “Nasihatilah aku.”
Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlahorang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”
Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”
Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”
Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,
Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-
kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku
kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu
kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus
Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan
Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis
bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu,Adam
Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan
seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa
Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,
walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,
namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar

[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]

Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS

PARA SALAF DALAM MENCARI NAFKAH

PARA SALAF DALAM MENCARI NAFKAH

Berikut ini kami akan menukilkan beberapa ucapan para ulama salaf  tentang bagaimana kehidupan mereka antara ilmu, amal dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka dan keluarga mereka, hal ini untuk menghilangkan anggapan salah sebagian orang bahwa para salaf itu hanya memfokuskan diri dengan menuntut ilmu dan tidak bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka dan keluarga mereka sehingga merekapun dituduh sebagai pemalas dan hanya bertumpu kepada orang lain. Allahul Musta'an.   

Berkata Adz Dzahabi ~rahimahullah~ : "Diantara bentuk perhatian seorang pada ibadahnya adalah bekerja untuk menempuh sebab, apalagi bagi seorang yang telah berkeluarga, Nabi ~Shalallahu 'alaihi Wa Sallam~ bersabda; "Sesungguhnya sesuatu yang paling utama yang dimakan seseorang adalah dari hasil keringatnya sendiri". (As Siyar: 2/570ll

Berkata Sufyan Ats Tsaury ~rahimahullah~; "Bekerjalah engkau dengan pekerjaan para pemberani, yaitu usaha yang halal". (lihat Al Jami' lil Khathib: 1/52). 

Berkata Ibnu Katsir ~rahimahullah~ : "Allah ta'ala memerintahkan para hamba-Nya dari kalangan para rasul untuk memakan makanan yang halal dan menegakkan amalan-amalan shalih, maka hal ini menunjukkan bahwa rezeki yang halal itu adalah pembantu dalam beramal shalih, maka para nabi itupun melaksanakan perkara ini dengan sesempurna pelaksanaan dan mereka telah menggabungkan seluruh kebaikan, berupa ucapan, perbuatan....dst". (Tafsir Ibni Katsir: 5/477).  

Berkata Abu Ishaq ~rahimahullah~ : "Adalah mereka (para salaf) melihat bahwa usaha itu adalah pembantu dalam agama". (Dikeluarkan oleh Al Khallal dlm ``Al Hatstsu Alat Tijarah`` hal 45)

Fudhail bin 'Iyyadh pernah berkata kepada Abdullah bin Mubarak; "Sesungguhnya engkau telah menyuruh kami untuk Zuhud dan mempersedikit harta, namun kami melihatmu datang dari negeri khurasan membawa barang-barang dagangan menuju kenegeri haram, bagaimana ini, engkau menyuruh kepada perkara yang engkau sendiri selisihi.. ??, Ibnu Mubarak menjawab; "Wahai Abu 'Ali, Sesungguhnya aku melakukan hal tersebut hanyalah untuk menjaga mukaku, memuliakan kehormatanku, dan aku mengharapkan bantuan dengan hal tsb untuk ketaatan kepada rabbku...". (Al Baihaqi dlm Asy Syu'b:1207).  

Berkata Ibnu Hudzaifah kepada Sufyan Ats Tsaury ~rahimahullah~; "Wahai Abu Abdillah.., Sesungguhnya orang-orang menyalahkan perbuatanmu itu yang engkau keluar kenegeri yaman, Diapun menjawab; Yaa Subhanallah..., Mereka mengingkariku pada perkara yang bukanlah suatu kemungkaran!!!???, saya keluar ke yaman untuk mencari rezeki yang halal, mencari yang halal itu berat, dan keluar untuk mencari rezeki yang halal itu lebih utama dari haji dan perang". (Riwayat Ad Dainury dlm Al Mujalasah:2479). 

___ Wallahu ta'ala a'lam ___

        Al-Ustadz Fauzan
        Abu Muhammad
        -hafizhahullah-

        WhatsApp
        -Silsilah Durus-

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites