Friday, September 26, 2014

Sambutlah Hari Yang Agung di Bulan dzulhijjah

Suplemen penambah Iman

Sambutlah Hari Yang Agung

(Scroll untuk baca terjemahan)

إقتربت العشرالأولى من ذي الحجة ماذا
ستفعل فيها ياصاحب الهمة العالية ؟

..بسم الله الرحمن الرحيم..

✅١_فضل العشر من ذي الحجة:

⛔️قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله:ونحن أيها الإخوة: في هذه الأيام، نستقبل موسماً عظيماً ألا وهو العشر الأول من ذي الحجة التي قال عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر)
 يعني: أن العمل الصالح في العشر الأول من ذي الحجة أحب إلى الله من العمل الصالح في عشر رمضان الأخيرة؛ لأن الحديث عام (ما من أيام) وأيام نكرة في سياق النفي، مؤكدة بـ (من) ، فتفيد العموم القطعي أنه لا يوجد أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه العشر. والقائل بهذا القول هو رسول الله صلى الله عليه وسلم أعلم الخلق بشريعة الله وأعلم الخلق بالله وبما يحب الله، فلا تستغرب إذا سمعت من يقول: إن العمل الصالح في عشر ذي الحجة أفضل من العمل الصالح في عشر رمضان، لأن هذا له دليل من كلام رسول الله عليه الصلاة والسلام، وهذا القول الذي قاله النبي صلى الله عليه وسلم لا يريد منا أن نفهم أن العمل الصالح في هذه الأيام أحب إلى الله من غيرها، وإنما يريد أن نفهم ونعمل، نكثر العمل الصالح في أيام العشر الأول من ذي الحجة.
��والعمل الصالح متنوع: قرآن، ذكر، تسبيح، تحميد، تكبير، أمر بالمعروف، نهي عن منكر، صلاة، صدقات، بر بالوالدين، صلة للأرحام، والأعمال الصالحة لا تحصى، إذا تصدقت بدرهم في هذه العشر وتصدقت بدرهم في عشر رمضان فأيهما أحب إلى الله؟ الصدقة في عشر ذي الحجة أحب إلى الله من الصدقة في عشر رمضان (قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟) والجهاد ذروة سنام الإسلام، قال: (ولا الجهاد في سبيل الله) إلا في صورة واحدة: (إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء) .
��خرج بنفسه وماله الذي يجاهد عليه، كالفرس والرحل فقتل فلم يرجع بنفسه، وعقر جواده فلم يرجع بجواده، وأخذ ماله فلم يرجع بماله��، هذا هو الذي يكون أفضل من العمل في العشر الأول ��من شهر ذي الحجة، وما عدا ذلك فالعمل الصالح فيها أحب الله من أي وقت كان.

اللقاء الشهري (10/2)

أنشر رعاك المولى

Terjemah:

Telah dekat 'sepuluh hari pertama' dari bulan Dzulhijjah...

Apa yang engkau kan amalkan, wahai para pemilik semangat yang tinggi?

..بسم الله الرحمن الرحيم..

Keutamaan Sepuluh Hari pertama bulan Dzulhijjah.

Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih al-Ùtsaimin rohimahullōh:

"Kita semua -wahai ikhwah- berada di hari-hari yang mulia ini...

Kita akan menghadapi musim yang agung...

Yaitu: 'Sepuluh Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah', yang telah disampaikan oleh Rosulullōh Shollallōhu àlaihi Wa Sallam:

'Tidaklah ada hari-hari yang amalan sholih padanya sangat dicintai oleh Allōh lebih daripada sepuluh hari ini'.

Maksudnya: Amalan-amalan sholih yang dikerjakan di sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah itu sangat dicintai oleh Allōh melebihi amalan sholih yang dikerjakan pada sepuluh hari akhir bulan Romadhōn, karena dalam hadits disebut dengan lafadhz umum: "Tidaklah ada hari-hari...", dan kata 'hari' disebutkan dengan bentuk nakiroh (umum) pada konteks peniadaan, ditambah lagi dengan menggunakan kata penguat: '... daripada...', maka ini semua memberikan faidah:

keumuman secara pasti bahwasanya tidaklah ada amalan sholih yang dicintai Alloh melebihi daripada sepuluh hari ini.

Dan, yang mengucapkan kalimat ini adalah Rosulullōh Shollallōhu àlaihi wa sallam, yang beliau adalah makhluk yang paling berilmu terhadap agama Allōh, dan makhluk yang paling berilmu terhadap Allōh dan terhadap segala yang dicintai Allōh, sehingga janganlah engkau berat untuk mendengarkan ucapan:
'Sesungguhnya amalan sholih pada sepuluh hari dzulhijjah itu lebih afdhol daripada sepuluh hari akhir Romadhōn', karena ucapan ini berdasarkan dalil dari sabda Rosul Àlaihish Sholatu Wa Sallam.

Dan ucapan ini, sebagaimana yang telah disabdakan Nabi Shollallōhu àlaihi Wa Sallam, bukanlah yang diinginkan dari kita semua hanya memahami bahwa amalan sholih pada hari-hari ini lebih dicintai Alloh, melebihi selainnya, akan tetapi yang diinginkan adalah...

kita memahaminya dan kitapun beramal, memperbanyak amalan sholih pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini.

Dan, amalan sholih itu beraneka-ragam: membaca Qurān, berdzikr, bertasbih, bertahmid, bertakbir, amar ma'ruf nahyi mungkar, Sholat, bersedekah, berbakti kepada orang tua, menyambung silahturahmi...
Amalan-amalan sholih, tak terhingga...

Maka, jika engkau sedekah dengan satu dirham pada hari-hari sepuluh ini, dan engkau juga sedekah dengan satu dirham pada sepuluh hari akhir bulan Romadhōn, mana yang lebih dicintai Allōh?

Sedekah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah itulah yang lebih dicintai Allōh, daripada sedekah pada sepuluh hari akhir bulan Romadhōn.

Para shohabat bertanya: 'Wahai Rosululloh!, apakah tidak juga bisa dikalahkan (keutamaannya; -penj.) oleh amalan jihad di jalan Allōh?'

Padahal, jihad itu merupakan puncak amalan dalam Islam.

Nabi bersabda: 'Tidak pula bisa dikalahkan oleh Jihad di jalan Allōh'.

Kecuali, ada satu kondisi:

'Kecuali, jika ada seorang yang berangkat (jihad; -penj.) dengan jiwa dan hartanya, dan tidak kembali sesuatu apapun dengan amalannya itu'.

Dia berangkat, jiwanya dan harta bendanya yang dia curahkan dengan berjihad, kudannya dan kendaranya, ia-pun gugur, tidak kembali dengan jiwanya, dia korbankan harta bendanya, dan tidak ada yang kembali dari segala yang ia derma-kan tersebut, dia curahkan harta bendanya, dan tidak ada yang kembali harta-bendanya...

Yang demikian inilah lebih afdhol keutamaannya daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah...

Adapun selainnya...

Amalan sholih pada sepuluh hari pertama tersbut lebih dicintai Allōh, melebihi dari seluruh waktu."

Sumber:
Al-Liqō Asy-Syahri: 2/ 10

Terjemah: Al-Ustadz Hudzaifah bin Muhammad

WA Radio  As-Sunnah Sidrap

Wednesday, September 24, 2014

KEMULIAAN BULAN DZULHIJJAH & AMALAN-AMALANNYA

KEMULIAAN BULAN DZULHIJJAH & AMALAN-AMALANNYA:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diantara waktu yang sangat utama untuk beribadah kepada Allah ta’ala adalah satu bulan yang mulia dalam Islam, yaitu bulan Dzulhijjah, terutama sepuluh hari awalnya. Allah ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi waktu fajar. Dan demi malam yang sepuluh.” [Al-Fajr: 1-2]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف

“Sepuluh malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid dan banyak lagi ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf yang berpendapat demikian.” [Tafsir Ibnu Katsir, 8/390]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidaklah ada hari-hari yang lebih dicintai Allah ta’ala untuk beramal shalih melebihi sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad bersama diri dan hartanya, lalu tidak ada yang kembali sedikitpun.” [HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Lafazh ini milik At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Baca Beberapa Amalan di Bulan Dzulhijjah: http://fb.me/3LnLH9lJK

ARTI PENTING ILMU AGAMA

بسم الله_

ARTI PENTING ILMU AGAMA

Pertanyaan:
Hadits Mu'awiyah bin Abi Sufyan_radhiyallahu 'anhu :
  [[ من يرد الله به خيرا يفقه في الدين ]]
" BARANGSIAPA YANG ALLAH KEHENDAKI KEBAIKAN,NISCAYA ALLAH PAHAMKAN DIA TENTANG AGAMA."
Aku mendengar perkataan sebagian 'ulama :
  Sesungguhnya orang yang Allah tidak menghendaki padanya kebaikan,
Allah Ta'ala tidak akan memberikannya pemahaman tentang agama.

Apakah pernyataan ini betul, aku mohon penjelasan ?

Berkata Asy-Syaikh Robi hafidzahullah :

   Na'am, pernyataan tersebut merupakan penjelasan yang kita pahami,
Adapun penjelasan dan pemahaman kebalikannya adalah:

Orang yang tidak dipahamkan tentang agama, maka Allah tidak menghendaki kebaikan padanya.
Hal ini ditegaskan oleh para ulama,diantaranya:
  Al-hafidz Ibnu Hajar , Ibnu Taimiyyah dan selain mereka berdua.
Dan perkara ini adalah perkara yang sangat jelas.
Orang yang tidak mengetahui tentang permasalahan akidah,
tidak memahami bagaimana tata cara  ia beribadah,
MAKA KEBAIKAN APA YANG ADA PADANYA ?
Akan tetapi jika ia memahami tentang akidah, dan meninggalkan kesyirikan- walaupun ilmu yang ada padanya sedikit-
Dia mengetahui bagaimana tata cara Sholat, bagaimana ia berpuasa, mengetahui tata cara Haji,
maka kebaikan ada padanya insya Allah.
Inilah yang mungkin bisa dipahami dari hadits tersebut [ hadits Mu'awiyah_radhiyallahu 'anhu ].

lihat kitab :
[ Marhaban ya Tholibal 'Ilmi_ hal : 431 ]

Al-Ustadz Abu 'Abdillah Sahl Al-Bugisy

WA Radio As-Sunnah Sidrap

Pendapat Jumhur bisaka dikatakan sebagai ijma'?

Fatwa Syaikh Shalih fauzan

Tentang::
"Pendapat Jumhur bisaka dikatakan sebagai ijma'?"

فضيلة الشيخ وفقكم الله ، هل رأي الجمهور يسمى إجماعاً ؟

Tanya: Wahai Syaikh yang mulia, semoga Allah memberi taufiq kepadamu. Apakah pendapat jumhur (mayoritas ulama) dinamakan ijma'?

الجواب : لا . رأي الجمهور ما يسمى إجماعاً ، وإنما يسمى رأي جمهور فقط ، ولهذا الأئمة الأربعة مايقال أجمعوا يقال اتفقوا ، اتفق الأئمة الأربعة على كذا وكذا ، ولا يقال أجمعوا ، الإتفاق غير الإجماع . نعم .

Jawab:
=>Tidak, pendapat jumhur tidak dinamakan ijma', hanya disebut pendapat jumhur saja, oleh karena itu pendapat imam yang empat tidak dikatakan: Mereka ijma'.

Tapi dikatakan:
"Mereka bersepakat",

seperti:
"Telah sepakat imam yang empat atas permasalahan ini dan itu".

Jadi tidak dikatakan mereka ijma', karena kesepakatan (jumhur ulama) bukanlah ijma'.

Na'am.

Sumber::
alfawzan.af.org.sa/node/2388

Penerjemah::
Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray
                -hafizhahullah-

      WhatsApp
Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Tuesday, September 23, 2014

HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDO'A

HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDO'A

================

ﺳُﺌِﻞَ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦ ﺍﻟﻌﻼَّﻣﺔ ﻣﺤﻤَّﺪ ﺑﻦ
ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻌﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ :
ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﻣﺴﺢ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺑﻌﺪ ﺩﻋﺎﺀ
ﺍﻟﻮﺗﺮ ؟

ﻓﺄَﺟﺎﺏ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﻣﺴﺢ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺑﻌﺪ
ﺍﻟﺪُّﻋﺎﺀ ﺑﺎﻟﻴﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﻗﻨﻮﺕ ﺍﻟﻮﺗﺮ
ﻭﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻪ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺿﻌﻴﻔﺔ ؛
ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ : ﻻ
ﺗﻘﻮﻡ ﺑﻬﺎ ﺣﺠﺔ .

ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺿﻌﻴﻔﺔ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ
ﻳﺜﺒﺖ ﺑﻬﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺸَّﺮﻋﻲ .
ﻭﻋﻠﻰٰ ﻫٰﺬﺍ ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻟَّﺎ ﺗﻤﺴﺢ
ﻭﺟﻬﻚ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪُّﻋﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺃﻭ
ﻏﻴﺮﻩ .

ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻫٰﺬﻩ
ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻀَّﻌﻴﻔﺔ ﺑﻤﺠﻤﻮﻋﻬﺎ
ﺗﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺩﺭﺟﺔ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻟﻐﻴﺮﻩ
ﻓﺘﻜﻮﻥ ﻫٰﺬﻩ ﺳﻨَّﺔ ،
ﻭﺍﻟﺮَّﺍﺟﺢ ﻋﻨﺪﻱ ﺃﻧَّﻪ ﻻ ﻳﻤﺴﺢ ، ﻷﻥَّ
ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﻲ ﺫٰﻟﻚ ﻻ ﺗﺮﻓﻊ ﺇﻟﻰٰ
ﺩﺭﺟﺔ ﺍﻟﺤﺴﻦ . ﺍﻫـ .

‏(‏[ ﺍﻟﻔَﺘﺎﻭَﻯٰ ﺍﻟﻘﻴِّﻤﺔ ﻟﻠﻤَﺮﺃَﺓِ ﺍﻟﻤُﺴْﻠِﻤَﺔ /
ﻣﺠﻤﻮﻋﺔ ﻋﻠﻤﺎﺀ / ‏( 690

      

Asy-syaikh 'Utsaimin pernah di tanya:
Apa hukum mengusap wajah setelah berdo'a dari witir?

beliau menjawab:
"Di dalam permasalahan mengusap wajah setelah berdo'a dengan kedua telapak tangan dalam qunut witir dan selainnya terdapat hadits-hadits dha'if.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
"Hujjah tidak bisa tegak dengannya (hadits-hadits dha'if)"

Dan apabila keberadaan hadits-hadits itu dha'if maka tidak boleh hukum syar'i di tetapkan dengannya.

oleh karena itu,maka yang afdhal engkau tidak mengusap wajahmu setelah berdo'a dari witir atau yang selainnya.

sebagian ulama' berpendapat:
"Di kumpulkannya hadits-hadits dha'if ini bisa mencapai derajat hadits hasan lighoirih maka mengusap wajah hukumnya menjadi sunnah"

Dan yang rajih di sisiku adalah tidak mengusap,karena hadits-hadits dalam permasalahan ini tidak bisa naik ke derajat hasan".

[[ Fatwa Al-qayyimah lil mar'ah al-muslimah/majmu'atul 'ulama'/690]]

Di terjemah: Abdul hakim bin Amaruddin.

Beginilah akhlak seorang salafy sejati

Nashihat Indah...
Seindah Kemilau Permata

Dari seorang Ulama Robbāniy, Syaikh Robì bin Hadi Al-Madkholiy.

"Beginilah akhlak seorang salafy sejati..."

:::::::::::::::::::::::

ﻗــﺎﻝ ﺍﻟﻌـﻼﻣـﺔ ﺭﺑﻴـﻊ ﺑـﻦ ﻫـﺎﺩﻱ ﺍﻟـﻤــﺪﺧﻠـﻲ - ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ - :

ﻓـﺄﻭﺻﻴﻜـﻢ ﻳـﺎ ﺃﺧـﻮﺓ ﺃﻥ ﺗﺴﻴــﺮﻭﺍ ﻓﻲ ﻃـﺮﻳـﻖ ﺍﻟﺴﻠـﻒ ﺍﻟـﺼــﺎﻟـﺢ
ﺗﻌﻠُّـﻤــﺎً ﻭﺃﺧــﻼﻗـﺎً ﻭﺩﻋـﻮﺓ،،
ﻻ ﺗـﺸــﺪّﺩ،،
ﻻ ﻏـﻠــﻮ،،
ﺩﻋــﻮﺓ ﻳُــﺮﺍﻓﻘﻬـﺎ ﺍﻟﺤِـﻠْـﻢُ ﻭﺍﻟـﺮﺣﻤـﺔ ﻭﺍﻷﺧــﻼﻕ ﺍﻟﻌــﺎﻟﻴــﺔ،،
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻨﺘﺸــﺮ ﺍﻟـﺪﻋـﻮﺓ ﺍﻟﺴﻠﻔـﻴـﺔ ﺑـﻬــﺬﻩ ﺍﻷﺳــﺎﻟﻴـﺐ ﺍﻟﻄﻴﺒـﺔ،،
ﺃﻗـﻮﻝ : ﺑﻌـﺾ ﺍﻟﻨـﺎﺱ ﻳﻨﺘﻤـﻮﻥ ﻇﻠﻤـﺎً ﺇﻟﻰ ﻫـﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨـﻬـﺞ، ﺑـﺮﺯﻭﺍ
ﺑـﺄﺳــﺎﻟﻴﺐ ﻭﺃﺧــﻼﻕ ﺭﺩﻳـﺌــﺔ، ﻭﻣﻨﻬـﺎ ﺿـﺮﺏ ﺍﻟﺴـﻠـﻔـﻴــﺔ ﺑﺎﺳـﻢ
ﺍﻟﺴﻠﻔـﻴــﺔ، ﻓـﺸـﻮّﻫـﻮﺍ ﺍﻟـﺪﻋــﻮﺓ ﺍﻟﺴﻠﻔـﻴـﺔ ﺑـﻬـﺬﻩ ﺍﻟـﻄــﺮﻳﻘــﺔ .
ﻓـﺄﻧـﺎ ﺃﻧﺼـﺢ ﺍﻟﺸﺒـﺎﺏ ﺃﻥ ﻳﺘﻘـﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻌـﻠّـﻢ ﺍﻟـﻌﻠـﻢ
ﺍﻟـﻨــﺎﻓـﻊ، ﻭﺃﻥ ﻳـﻌﻤـﻞ ﺍﻟـﻌﻤـﻞ ﺍﻟـﺼــﺎﻟـﺢ، ﻭﺃﻥ ﻳـﺪﻋﻮ ﺍﻟﻨـﺎﺱ
ﺑﺎﻟﻌـﻠـﻢ ﻭﺍﻟـﺤـﻜﻤــﺔ .
::::::::::::::::::::::::::::::

‏[ ﺍﻟﺬﺭﻳﻌـﺔ ﺇﻟﻰ ﺑﻴـﺎﻥ ﻣﻘـﺎﺻـﺪ ﻛﺘﺎﺏ "ﺍﻟﺸــﺮﻳـﻌـﺔ " ﺻــ ‏(214) ]

Berkata al-Àllāmah Robì bin Hādiy al-Madkholi hafidhzohullōh:

"Saya wasiatkan kalian wahai ikhwah agar berjalan di atas tuntunan Salafush sholih...

Baik pada keilmuaan, akhlaq dan juga pada dakwah...

Janganlah bersikap ekstrim...

Janganlah ghuluw (melampui batas;-penj.)...

Dakwah itu, hendaknya digandengkan dengannya kelemah-lembutan, kasih sayang dan akhlak/ budi pekerti yang mulia...

Demi Alloh...

Dakwah akan tersebar dengan metode yang indah seperti itu...

Saya katakan: ada sebagian manusia yang menginginkan kedhzoliman terhadap manhaj ini...

Mereka menampakkan diri dengan metode dan perilaku yang jelek...

Diantara perbuatan mereka adalah mengahncurkan salafiyyah dengan nama salafiyyah...!

Mereka menodai dakwah salafiyyah dengan metode seperti itu!

Maka Saya nasihatkan para pemuda agar bertakwa kepada Alloh azza wa jalla...

Agar mempelajari ilmu yang bermanfaat...

Agar beramal sholih...

Agar berdakwah kepada manusia dengan ilmu dan hikmah".

Sumber:
[Adz-Dzariàh ilā bayāni Maqōshid kitāb "Asy-Syarīàh", hal. 214]

Terjemah: Hudzaifah bin Muhammad.

Kiriman teks arab dari Ust Rahmat Sidrap, jazahullohu khoiro.

SYARI’AT BERQURBAN

SYARI’AT BERQURBAN
Penulis : Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Berqurban adalah salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta tergolong simbol Islam yang disepakati oleh para ulama akan anjurannya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu, dan berqurbanlah.” [Al-Kautsar: 2]

Tatkala menjelaskan makna ayat di atas, Ibnu Jarîr Ath-Thabary rahimahullâh berkata, “Jadikanlah, (wahai Muhammad), shalatmu seluruhnya ikhlas hanya untuk Rabb-mu tanpa (siapapun) yang bukan Dia, di antara sekutu-sekutu dan sembahan-sembahan. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, tanpa berhala-berhala, sebagai kesyukuran kepada-Nya terhadap segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, berupa kemuliaan dan kebaikan yang tiada bandingannya, dan Dia mengkhususkan engkau dengannya, yaitu pemberian Al-Kautsar kepadamu.”[1]

Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata, “Ibnu ‘Abbâs, ‘Athâ`, Mujâhid, ‘Ikrimah, dan Al-Hasan berkata, ‘Yang diinginkan oleh hal tersebut adalah menyembelih unta dan (hewan lain) yang semisal dengannya.’ Demikian pula perkataan Qatâdah, Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhy, Adh-Dhahhâk, Ar-Rabî’, ‘Athâ` Al-Khurasâny, Al-Hakam, Ismail bin Abu Khâlid, dan ulama salaf yang lain. ….” Lalu, beliau membawakan beberapa pendapat lain dari penafsiran ayat, kemudian menyatakan, “Yang benar adalah pendapat pertama bahwa yang dimaksud dengan an-nahr ‘menyembelih’ adalah sembelihan manasik ….”

Allah Subhânahû wa Ta’âlâ berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan saya adalah orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah).’.” [Al-An’âm: 162-163]

Allah Subhânahû wa Ta’âlâ menjelaskan pula bahwa berqurban adalah perkara yang disyariatkan pada seluruh agama sebagaimana dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا

“Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah (Allah) rezekikan kepada mereka. Maka Rabb kalian ialah Rabb yang Maha Esa. Oleh karena itu, berserahdirilah kalian kepada-Nya.”[Al-Hajj: 34]

Allah ‘Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa ibadah agung ini adalah salah satu simbol syariat-Nya sebagaimana dalam firman-Nya,

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Dan telah Kami jadikan unta-unta itu untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah, yang kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian, apabila (unta-unta itu) telah roboh (mati), makanlah sebagiannya serta beri makanlah orang yang rela dengan sesuatu yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untuk kalian, mudah-mudahan kalian bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Hajj: 36-37]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mensyariatkan ibadah qurban melalui ucapan, perbuatan, serta penetapan beliau.

Syariat berdasarkan ucapan beliau tersirat dari sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ ، وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapa yang menyembelih sebelum shalat, sembelihannya hanyalah untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah pelaksanaan shalat (‘Id), nusuk-nya (sembelihannya) telah sempurna dan ia telah mencocoki sunnah kaum muslimin.” [2]

Syariat berdasarkan perbuatan beliau terurai dari penuturan Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.

“Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua kambing jantan yang amlah[3]. Beliau menyembelih kedua (kambing) tersebut dengan tangan beliau. Beliau membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau di atas badan kedua (kambing) itu.” [4]

Adapun berdasarkan penetapan (persetujuan) beliau, hal tersebut bisa dipahami dari hadits Jundub bin Sufyah Al-Bajaly radhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Saya menyaksikan ‘Idul Adha bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Tatkala menyelesaikan shalat bersama manusia, beliau melihat seekor kambing yang telah disembelih. Lalu, beliau bersabda,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيَذْبَحْ شَاةً مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَبَحَ فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللَّهِ.

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum pelaksanaan shalat (‘Id), hendaknya ia menyembelih kambing (lain) sebagai pengganti, dan barangsiapa yang belum menyembelih, hendaknya dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah.” [5]

Adapun kesepakatan para ulama tentang syariat berqurban, hal tersebut telah masyhur dalam buku-buku fiqih.

Wallâhu A’lam.

[1] Tafsir Ibnu Jarîr 24/696. Dalam Tafsir-nya 8/504, Ibnu Katsîr menganggap bahwa ucapan Ibnu Jarîr di atas sangatlah indah.
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Al-Barâ` bin Azib radhiyallâhu ‘anhumâ dan Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu.
[3] Kambing amlah adalah kambing yang berbulu putih dan hitam, tetapi bulu putihnya lebih mendominasi. Demikian keterangan Al-Kisâ’iy. Adapun menurut Ibnul ‘Araby, itu adalah kambing yang bersih nan putih. Demikian nukilan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny.
[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.
[5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, dan An-Nasâ`iy.

http://dzulqarnain.net/syariat-berqurban.html

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites