Tuesday, September 2, 2014

Disibukkan dengan perkara yang tidak bermanfaat

{Mutiara Hikmah}

بسم الله_

�� قال الحسن البصري_رحمه الله:
��من علامة إعراض الله عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه.
[ صفة الصفوة : 418/2 ]

Berkata al-hasan al-bashri_rahimahullah:
Termasuk tanda berpalingnya Allah rabbul 'izzah dari seorang hamba:
   " Allah menjadikan kesibukannya terhadap perkara yang tidak bermanfaat baginya"

Pin: 7CA50BEE
Twitter : @Mukhti_76
Page FB : Abdul Mu'thi Al-Maidani

 lihat kitab:
       [ sifatush- shofwah - 2/418 ].

Antara Dua Penghambaan

Renungan Dari Ayat-ayat Al-Qur`an [5]

Antara Dua Penghambaan

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ، مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ، إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Maha Perkasa.” [Adz-Dzâriyât: 56]

Ibnu Katsir menafsirkan, “Sesungguhnya (Allah) Ta’âlâ mengabarkan bahwa Dia menciptakan segenap hamba untuk beribadah kepada-Nya semata, tiada serikat bagi-Nya. Siapa yang taat kepada-Nya, (Allah) akan membalasnya dengan balasan sempurna, dan siapa yang bermaksiat kepada-Nya, (Allah) akan menyiksanya dengan siksaan yang paling keras. Juga (Allah) mengabarkan bahwa Dia tidaklah perlu kepada makhluk, bahkan merekalah yang fakir kepada Allah pada segala keadaan mereka, Dialah yang mencipta dan memberi rezki kepada mereka.”

Hidup ini adalah penghambaan.

Tidak seorang pun yang bebas dalam kehidupan ini.

Kalau seorang tidak menjadi hamba Allah, pastilah dia tergolong kepada hamba nafsunya atau hamba syaithan.

Karena itu, pilihlah penghambaan yang terbaik; penghambaan yang tidak ada jalan keselamatan dengan di dunia dan di akhirat kecuali dengannya, penghambaan yang merupakan kewajiban Jin dan Manusia, yaitu penghambaan hanya kepada Allah semata.

Tapaki jalan penghambaan kepada Allah, dan rasakan perbedaan dan kebebasan jiwa orang-orang yang hanya menghamba kepada Allah, bukan hamba syaithan atau hamba dirinya sendiri.

Dalam hadits Qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, pasti Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan menutupi kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan tidak menutupi kefakiranmu.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dll]

Al-Ustadz Dzulqarnain M.Sunusi

WhatsApp Syiar Tauhid

MENGGANTUNGKAN/MEMAKAI JIMAT ADALAH KESYIRIKAN

Intisari Tauhid [25]

MENGGANTUNGKAN/MEMAKAI JIMAT ADALAH KESYIRIKAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَعَلَّقَ تَميمَةً فَلَا أَتَمَّ اللهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدْعَة فَلَا وَدَعَ اللهُ لَهُ، وَفِي رِوَايَةٍ: مَنْ تَعَلَّقَ تَميمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah, niscaya Allah tidak akan mengabulkan keinginannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wad’ah, niscaya Allah tidak akan memberi ketenangan pada dirinya.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain (disebutkan), “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah, sungguh dia telah berbuat syirik.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan bagi para pemakai tamimah (jimat), yang meyakini bahwa hal itu bisa menangkal/melindungi dari bahaya, agar Allah membalikkan keadaan orang tersebut dari yang dimaksudkan dan tidak menyempurnakan urusannya, sebagaimana Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga mendoakan kejelekan bagi para pemakai wad’ah -dengan tujuan untuk menolak/melindungi diri terhadap bahaya-, agar Allah tidak membiarkan mereka merasa santai dan berada dalam ketenangan, tetapi menimpakan semua gangguan kepadanya.

Doa tersebut bermaksud sebagai peringatan agar manusia tidak melakukan hal tersebut sebagaimana yang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits kedua bahwa hal itu termasuk sebagai kesyirikan terhadap Allah.

Faedah Kedua Hadits

Bahwa menggantungkan tamimah dan wad’ah tergolong sebagai kesyirikan.

Bahwa barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, Allah akan memperlakukan dia dengan memberikan sesuatu kepadanya yang berlawanan dengan maksudnya.

Pensyariatan untuk mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang menggantungkan tamimah dan wad’ah agar mereka tidak mendapatkan hal yang dia maksudkan dan agar diberi sesuatu yang berlawanan dengan tujuan yang diinginkan.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

WhatsApp Syiar Tauhid

Siapakah yang Berhak Jadi Imam shalat

Fatwa Syaikh Shalih Fauzan

           Siapakah Berhak Jadi
             Imam shalat
          

السؤال:
من أحق إمامة للمصلين الغلام الذي لم يبلغ ومعه نصف القرآن أو الرجل البالغ الذي معه خمسة أجزاء ومعه أيضاً من السنة كالعقيدة والحديث والفقه أثابكم الله؟

TANYA::
Siapakah yang paling berhak untuk menjadi imam bagi jama'ah sholat.

seorang anak-anak yang belum baligh tapi hafal setengah dari Al Qurān,

Atau

seorang pria dewasa yang telah baligh dan  hafal Al Qurān lima juz saja, tapi dia juga tampak dengan Sunnah, dengan Aqidah, hadits dan Fiqh?

Semoga Alloh membalas pahala untuk anda.

الجواب: الكبير أولى ما دام عنده من القرآن ما يكفي للصلاة هو أولى من الصغير، وإنما إذا كان الصغير هو أقرأ الحاضرين فإنه يقدم.

JAWAB:
Yang dewasa itu lebih utama, selama ia punya hafalan Qurān yang mencukupi sholat.

Maka ia lebih utama daripada yang lebih kecil.
Dan jika si kecil itu memang ia lebih bagus bacaannya dibandingkan seluruh yang hadir, maka ia yang dimajukan.

Sumber:
alfawzan.af.org.sa/node/14838

Penerjemah::
Al-Ustadz Hudzaifah Abu Khodijah
                -hafizhahullah-

        WhatsApp
  Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah

Monday, September 1, 2014

LIMA WASIAT IBNU MAS'UD RADHIYALLAHU 'ANHU MENJELANG AJALNYA

LIMA WASIAT IBNU MAS'UD RADHIYALLAHU 'ANHU MENJELANG AJALNYA

Ketika Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu 'anhu' berada pada saat
menjelang wafatnya, beliau memanggil anaknya, kemudian berwasiat
kepadanya: "Wahai anakku Abdurahman bin Abdullah bin Mas'ud,
sesungguhnya saya berwasiat kepadamu lima perkara maka jagalah wasiat
ini;

Tunjukan kepada manusia jika dirimu tidak butuh pada bantuan (harta)
mereka, maka kamu akan meraih kekayaan yang hakiki,

Tinggalkan senang meminta-minta pada orang lain karena sesungguhnya
itu merupakan kefakiran yang akan selalu menghantuimu,

Berilah orang lain udzur jika melakukan kesalahan dan jangan
sekali-kali engkau tiru kesalahannya,

Berusahalah untuk selalu beramal pada hari ini dan usahakan amalanmu
lebih baik dari kemarin,

Jika kamu mengerjakan sholat maka sholatlah seperti sholatnya orang
yang akan berpisah seakan-akan dirinya tidak akan sholat lagi
setelahnya (maksudnya akan meninggal.pent).

"Washoya Ulama 'indal maut" hal 69-70

WhatsApp Radio As-Sunnah Sidrap

SUNNAH-SUNNAH SHALAT

Silsilah Durusul Muhimmah [10]

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

SUNNAH-SUNNAH SHALAT

Sunnah-sunnah shalat antara lain:

1. Istiftah (Membaca bacaan iftitah setelah Takbiratul-Ihram, sebelum
membaca Al-Fatihah).

2. Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas tangan kiri,
diatas dada, pada saat berdiri sebelum ruku' dan setelahnya. [1]

3. Mengangkat kedua tangan dengan merapatkan jari-jari, tangan terbuka
sepadan dengan kedua pundak, atau kedua telinga, pada saat Takbir
Pertama, pada saat ruku', pada saat bangkit dari ruku' dan pada saat
berdiri dari Tasyahud Awal ke raka'at ketiga.

4. Membaca Tasbih (bacaan) ruku' dan sujud, lebih dari satu kali.

5. Membaca do'a memohon maghfirah (ampunan) lebih dari satu kali, pada
saat duduk antara dua sujud.

6. Mengupayakan agar kepala lurus dengan punggung, pada saat ruku'.

7. Pada saat sujud kedua lengan berjauhan dari kedua pinggang dan
perut (berjauhan) dari kedua paha.

8. Pada saat sujud mengangkat kedua hasta / siku dari tempat sujud.

9. Duduk diatas telapak kaki kiri (yang dibaringkan), dan menegakkan
telapak kaki kanan pada Tasyahud Awal dan ketika duduk antara dua
sujud.

10. Duduk Tawarruk pada Tasyahud Akhir (dengan cara duduk diatas pinggul dan meletakkan kaki kiri dibawah kaki kanan serta menegakkan
telapak kaki kanan).

11. Menegakkan telapak kaki kanan dikala duduk.

12. Membaca Shalawat dan Tabrik (do'a mohon berkah) untuk Nabi
Muhammad dan keluarga beliau, untuk Nabi Ibrahim dan keluarga beliau,
pada saat Tasyahud Awal.

13. Membaca do'a pada Tasyahud Akhir.

14. Membaca dengan jahar (mengeraskan suara) pada shalat Fajr [Subuh],
shalat Jum'at, shalat Iedain (Iedul Fitri dan ledul Adha), shalat
Istisqa' (minta hujan) dan pada dua raka'at pertama dari shalat
Maghrib dan Isya.

15. Membaca dengan sirr (tidak mengeraskan suara) pada shalat Zhuhur,
Ashar, pada raka'at ketiga dalam shalat Maghrib dan pada dua raka'at
terakhir dalam shalat Isya.

16. Membaca (ayat-ayat) Al-Qur'an setelah (membaca) surah Al-Fatihah.

Perlu diperhatikan sunnah-sunnah shalat yang diriwayatkan (dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم) selain yang telah kami sebutkan diatas.
Seperti: Membaca bacaan lanjutan dari bacaan "Rabbanaa walakal-hamd"
pada saat bangkit dari ruku', (yakni) bagi imam, ma'mum dan munfarid.
(Bacaan lanjutan tersebut) adalah sunnah. Termasuk pula (sunnah
shalat) adalah meletakkan kedua telapak tangan pada kedua lutut dengan merenggakan jari-jari tangan pada saat ruku'.

[1] Mengenai bersedekap setelah bangkit dari ruku’ terdapat keluasan dalam perkara ini, seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad rahimahullah : "Jika ia ingin menjulurkan kedua tangannya maka dipersilakan atau jika
ingin bersedekap maka juga dipersilakan ”.[ kitab at Tanqihul Musybi’ ( 92 ) cet. Maktabatur Rusyd ], Allahu a’lam.

WA Radio As-Sunnah Sidrap

KESYIRIKAN SEBAB KELEMAHAN

Intisari Tauhid [24]

KESYIRIKAN SEBAB KELEMAHAN

Shahabat yang mulia, Imron bin Hushain radhiallahu ‘anhu berkata

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلْقَةٌ مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: ( مَا هَذِهِ؟)، قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. فَقَالَ: (انْزِعْهَا فَإِنَّهَا لَا تَزيدُكَ إِلَّا وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ، مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا ). رَوَاهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ لَا بَأْسَ بِهِ.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki yang di tangannya terdapat gelang kuningan maka beliau bertanya, ‘(Gelang) apa ini?’ Lelaki itu menjawab, ‘(penangkal) al-wâhinah.’ Beliau pun bersabda, ‘Lepaskanlah (gelang) itu karena (gelang) itu tidak akan menambah sesuatu pada dirimu, kecuali kelemahan. Sebab, jika meninggal dalam keadaan (gelang) itu (masih melekat) pada (tubuh)mu, engkau tidak akan beruntung selamanya.’.”(HR. Ahmad dengan sanad yang tidak mengapa)

Kepada kita, ‘Imran bin Hushain radhiyallâhu ‘anhu menyebutkan salah satu sikap Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam memerangi kesyirikan dan membebaskan manusia dari kesyirikan. Sikap itu adalah:
Ketika melihat seseorang memakai gelang yang terbuat dari kuningan, beliau bertanya tentang sebab ia memakai gelang tersebut. Orang itu menjawab bahwa ia memakai gelang untuk melindungi diri dari penyakit maka beliau segera memerintah orang itu untuk melepas (gelang) tersebut dan mengabarkan bahwa hal itu tidak mendatangkan manfaat, bahkan akan membahayakan dan akan menambah penyakit, yang dengan alasan itu ia memakai gelang tersebut. Bahkan, lebih dari itu, seandainya terus memakai gelang itu sampai meninggal, ia akan diharamkan untuk mendapatkan keberuntungan di akhirat.

Faedah Hadits

Memakai gelang atau selainnya untuk melindungi diri dari penyakit termasuk sebagai kesyirikan.

Larangan untuk berobat dengan sesuatu yang haram.

Mengingkari kemungkaran dan mengajari orang yang belum tahu.

Bahaya kesyirikan di dunia dan di akhirat.

Seorang mufti, secara lebih detail, menanyakan suatu masalah dan menghukumi sesuatu berdasarkan tujuan sesuatu tersebut.

Bahwa syirik kecil termasuk ke dalam dosa besar.

Bahwa kesyirikan tidak menerima udzur berdasarkan ketidaktahuan

Teguran keras dalam mengingkari pelaku kesyirikan dengan tujuan agar orang tersebut lari (menjauh) dari kesyirikan itu

Diringkas dari penjelasan ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syiar Tauhid

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites