Akhlak Penuntut Ilmu (1)
Bersemangat Dalam Menuntut Ilmu
Dari Mu'adz radhiyallahu 'anhu ia berkata: "Hendaknya kalian mempelajari ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya adalah khosyyah(rasa takut kepada Allah), mencarinya adalah ibadah, muzakarohnya adalah tasbiih, membahasnya adalah jihad, kesungguhan (didalamnya) adalah qurbah(pendekatan diri kepada Allah), dan mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah sedekah".
[Jaami' Bayaan al-Ilmi wa Fadlihi 1/268, Tadzkiroh as-Sami' wa al-Mutakallim, halaman 26]
Al-Imam an-Nawawiy rahimahillah berkata: "Tidak ada suatu amalan setelah farooidh (amalan wajib) yang lebih afdhol daripada menuntut ilmu" [ lihat Jaami' Bayaan al-'Ilmi wa Fadhlihi]
Sahl rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang ingin melihat majlis-majlis para Nabi, maka hendaknya ia melihat kepada majlis-majlis Ulama". [Tadzkiroh as-Sami' wa al-Mutakallim, halaman 26]
Al-Fudhoil bin Iyaadh rahimahillah berkata: "Ulama itu banyak, sedangkan Hukamaa (orang-orang yang memiliki hikmah) sedikit, sesungguhnya yang diinginkan dari ilmu adalah hikmah, barangsiapa yang diberikan hikmah maka sungguh ia telah diberikan banyak kebaikan"
Muhammad bin Al-Husain Al-Aajurry rahimahullah mengomentari ucapan Al-Fudhoil di atas: "Ucapan Al-Fudhoil- wallahu a'lam-: "Fuqoha banyak sedangkan hukamaa sedikit". Maksudnya sedikit dari ulama yang menjaga ilmunya dari dunia dan mencari akhirat, dan kebanyakan dari ulama telah terfitnah dengan ilmunya, sedangkan Hukamaa sedikit, seakan-akan ia mengatakan: "sungguh mulia orang yang mencari(mengharapkan) akhirat dengan ilmunya" [Akhlaaq al-Ulama, halaman 111)
Wahai saudara-saudaraku, bersemangatlah menuntut ilmu agama sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu ummat ini, dan janganlah faktor umur membuat kalian terhalangi dari menuntut ilmu agama.
Ibnu 'Aqiil al-Hanbaliy (wafat 513 H) rahimahullah berkata: "Sesungguhnya aku benar-benar mendapati semangatku dalam (menuntut) ilmu, aku (berumur) delapan puluh tahun lebih bersemangat dibandingkan dahulu ketika aku berumur dua puluh tahun ".
[Dzail Thobaqoot al-Hanaabilah: 1/146]
Qotadah bin Di'aamah as-Sadusy -rahimahullah- berkata:
"Jika seseorang mencukupkan diri dari ilmu, maka (Nabi) Musa -'alaihissalam- lebih pantas darinya dikarenakan (ilmu yang ada) padanya, akan tetapi ia (tetap) mencari tambahan (ilmu), ketika ia berkata "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"(Al-Kahfi: 66)
[Al-Bidayah wa an-Nihaayah karya Ibnu Katsiir: 9/261, Adab ad-Dunya wa ad-Diin karya Al-Maawardiy, halaman 124]
Al-Ustadz Tamrin
Abu Zakariya at-Tawawi
-hafizhahullah-
WhatsApp
-Silsilah Durus-






