Friday, August 29, 2014

MENTAUHIDKAN ALLAH DENGAN MENGESAKAN KECINTAAN HANYA KEPADANYA

��Intisari Tauhid [21] 

MENTAUHIDKAN ALLAH DENGAN MENGESAKAN KECINTAAN HANYA KEPADANYA

��Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :✏

��وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ.

��“Dan di antara manusia, ada yang mengadakan (sembahan) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (terhadap-Nya), yang mereka mencintai (tandingan-tandingan) itu sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka amatlah dalam kepada Allah. Seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu hanyalah milik Allah seluruhnya dan bahwa siksaan Allah amatlah dahsyat, (niscaya mereka akan menyesal).” [Al-Baqarah: 165]

��Allah Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang yang berbuat syirik terhadap-Nya, di dunia dan tempat kembali mereka di akhirat, ketika mereka mengadakan tandingan-tandingan dan padanan-padanan bagi Allah dengan menyamakan tandingan-tandingan tersebut dengan Allah dalam kecintaan.

��Kemudian Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang beriman muwahhidûn, bahwa mereka mencintai Allah melebihi kecintaan orang-orang (yang membuat tandingan) kepada tandingan-tandingan tersebut, atau melebihi kecintaan orang yang membuat tandingan kepada
Allah. Karena, kecintaan orang yang beriman kepada-Nya adalah murni, sedangkan kecintaan orang-orang yang membuat tandingan adalah bercabang/tercampur.

��Kemudian, Allah mengancam orang-orang musyrikin itu bahwa, seandainya mengetahui segala sesuatu yang akan dilihat dan menimpa kepada mereka, berupa perkara yang mengerikan dan adzab yang dahsyat nanti pada hari kiamat karena kesyirikan yang mereka lakukan, juga (mengetahui) keesaan Allah dalam kemampuan dan kemenangan terhadap tandingan-tandingan mereka, pasti mereka akan berhenti dari kesesatan yang mereka lakukan. Akan tetapi, hal itu tidak tergambar dalam diri mereka juga mereka tidak mengimani hal itu.

Faedah Ayat✏

��Bahwa termasuk ke dalam makna tauhid dan syahadat Lâ Ilâha Illallâh: menunggalkan kecintaan kepada Allah dengan kecintaan yang mengharuskan adanya perendahan diri dan ketundukan.

��Bahwa orang-orang musyrikin mencintai Allah dengan
kecintaan yang besar, tetapi (kecintaan) tersebut belum dapat
memasukkan mereka ke dalam Islam karena mereka menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam hal itu.

��Bahwa kesyirikan adalah kezhaliman.

��Ancaman terhadap orang-orang musyrikin pada hari kiamat
- - - - - - - 〜✽〜 - - - - - - -

��Diringkas dari Kitab Al-Mulakhos Fii Syarhi Kitab Tauhid Karya Syaikh Shalih Al-Fauzan✏

��WhatsApp Syiar Tauhid��

Sibuklah untuk mencari aib dirimu sendiri

Sibuklah untuk mencari aib dirimu sendiri...

Berkata Umar bin Khathab -radhiyallahu 'anhu-:

لا تشغلوا أنفسكم بذكر الناس فإنه بلاء وعليكم بذكر الله فإنه رحمة

"Janganlah kalian sibukkan diri kalian dengan menyebut-nyebut (aib) manusia karena itu adalah bencana, dan hendaklah kalian mengingat Allah, karena itu adalah rahmat".
_______
Mausu'ah Ibnu Abid Dun_ya (4/359).

Berkata Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-:

يبصر أحدكم القذاة في عين أخيه وينسى الجذع أو الجذل في عينه

"Salah seorang diantara kalian melihat kutu yang ada dimata saudaranya namun ia lupa tiang atau gunung yang ada didepan matanya".
_______
Az Zuhd Lil Imam Ahmad (323).

Seperti kata pepatah:
Semut diseberang lautan kelihatan namun gajah didepan mata tak kelihatan.

Berkata Muhammad bin Ka'ab -rahimahullah-:

إذا أراد الله بعبد خيرا جعل فيه ثلاث خصال: فقها في الدين وزهادة في الدنيا وبصرا بعيوبه

"Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba maka akan dijadikan ia memiliki tiga perangai: pemahaman dalam agama, zuhud terhadap dunia dan bisa memandang terhadap aib dirinya".
_______
Shifatus Shafwah (2/473).

Berkata Bilal bin Sa'ad -rahimahullah-:

ذكرك حسناتك ونسيانك سيئاتك غرّة

"Selalu ingat terhadap kebaikanmu dan melupakan kejelekanmu adalah bentuk kelalaian".
______
Shifatus Shafwah (4/435).

Berkata Muhammad bin Sirin -rahimahullah-:

كنا نتحدث أن أكثر الناس خطايا أفرغهم لذكر خطايا الناس

"Kami dulu saling memberitakan bahwa orang yang paling banyak terjatuh dalam kesalahan adalah yang paling meluangkan waktunya untuk menyebut-nyebut kesalahan orang lain".
________
Mausu'ah Ibnu Abid Dun_ya (7/101).

             

Forward
Ustadz Fauzan al Kutawy

Silsilah Durus

Thursday, August 28, 2014

Yang Harus dilajukan Ketika Shalat Jum'at

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- berkata:

Rasulullah -shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت

"Jika engkau berkata kepada temanmu: diamlah!! -pada hari jum'at dan imam sedang berkhutbah- maka sungguh engkau telah lalai".
Muttafaqun 'alaih.

Beberapa permasalahan seputar mendengarkan khutbah jum'at yang sering terjadi:

Jika khutbah tsb tidak terdengar disebabkan jauhnya jarak atau perkara lainnya maka apakah yang harus dilakukan??

Hendaklah ia berdzikir kepada Allah pada dirinya (tidak dikeraskan).

Inilah pendapat Alqomah, Atho', Said bin Jubair, An Nakhai, Asy Syafi'i, Ats Tsaury, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq -rahimahumulloh-.

Jika khatib berkhutbah dengan perkara yang bertentangan dengan syariat seperti bid'ah, khurafat, kesyirikan, mencela sahabat dll, maka apakah yang harus dilakukan??

Hendaklah ia tidak mendengarkan khutbah tsb dan menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah serta beristighfar kepada-Nya pada dirinya.

Inilah pendapat jumhur ulama' -rahimahumulloh-.

Jika seorang berjalan dijalan raya (menuju masjid) dan mendengar khathib berkhutbah karena menggunakan pengeras suara, maka apakah wajib baginya untuk diam dan mendengarkan khutbah??

Tidak ada kewajiban baginya untuk diam bahkan diperbolehkan baginya untuk berbicara sampai ia masuk kedalam masjid, karena arah sabda Nabi -shalallahu 'alaihi wa sallam- diatas adalah diarahkan kepada para hadirin yang ada didalam masjid.
Dan ini adalah pendapat jumhur ulama'.

Jika ada seseorang yang berbicara ketika khathib sedang berkhutbah, maka apakah boleh bagi kita berisyarat* agar ia diam??

Berkata Ibnu Rajab -rahimahullah-:
"Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang bolehnya berisyarat kepadanya, kecuali apa yg dihikayatkan dari Thowus (menyelisihi pendapat tsb) namun itupun tidak shahih".
____
*isyarat maksudnya teguran dengan menggunakan gerakan tangan, kepala atau anggota badan lainnya tanpa mengeluarkan suara.

Jika khathib menyebut nama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, apakah kita bershalawat kepadanya??

Pendapat yang kuat adalah hendaknya kita diam dan tidak bershalawat kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam karena telah datang keterangan khusus larangan berbicara ketika khathib berkhutbah.

inilah pendapat Ats Tsaury, Abu Hanifah, Al Laits bin Sa'ad, Asy Syafi'i, Malik, Ibnul Mundzir dll.
Wallahu a'lam.

ustadz Fauzan al-Kutawy

Silsilah Durus

MENINGGALKAN SEGALA MACAM BENTUK PENGKULTUSAN INDIVIDU

Intisari Tauhid [20]

MENINGGALKAN SEGALA MACAM BENTUK PENGKULTUSAN INDIVIDU

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ.

Firman Allah Ta’âlâ, “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, juga (mereka menyembah) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka tiada lain diperintah untuk beribadah hanya kepada sembahan yang satu, yang tiada sembahan (yang berhak untuk disembah), kecuali Dia. Maha Suci Dia terhadap segala sesuatu yang mereka persekutukan.” [At-Taubah: 31]

Allah Subhânahu mengabarkan tentang orang-orang Yahudi dan Nashara bahwa mereka meminta nasihat kepada tokoh-tokoh mereka, dari kalangan ulama dan ahli ibadah, maka mereka pun menaati (ulama dan ahli ibadah) itu dalam penghalalan segala sesuatu yang telah Allah haramkan dan pengharaman segala sesuatu yang telah Dia halalkan. Dengan demikian, mereka telah mendudukkan ulama dan ahli ibadah sebagai rabb yang memiliki kekhususan dalam penghalalan dan pengharaman sebagaimana orang-orang Nashara menyembah Isa dengan menyatakan bahwa Isa adalah anak Allah. Mereka telah mencampakkan kitab Allah, yang telah memerintahkan mereka untuk taat hanya kepada-Nya dan beribadah hanya kepada-Nya semata -kabar dari Allah ini mengandung pengingkaran terhadap perbuatan mereka-. Oleh karena itu, Allah menyucikan diri-Nya terhadap kesyirikan yang terkandung dalam perbuatan mereka itu.

Faedah Ayat

Bahwa termasuk makna tauhid dan syahadat Lâ Ilâha Illallâh: menaati Allah dalam penghalalan dan pengharaman.

Bahwa barang siapa yang menaati makhluk dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal berarti ia telah menjadikan makhluk tersebut sebagai sekutu bagi Allah.

Bantahan terhadap orang Nashara akan keyakinan mereka
tentang Isa ‘alaihis salâm, dan keterangan bahwa beliau adalah hamba Allah.

Menyucikan Allah dari kesyirikan.

Diringkas dari kitab Al-Mulakhos Fii Syarhi Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syiar Tauhid

Wednesday, August 27, 2014

Kisah Dai Penuh Hikmah

Kisah Dai Penuh Hikmah

Al 'Allamah Al Waalid Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh -mufti umum kerajaan saudi arabia sebelum Syaikh Bin Baz- berkisah;

Sekarang, aku ingin menceritakan kepada kalian kisahnya 'Abdurrohman Al Bakri, seorang Syaikh dari negri Nejd.

Dahulu beliau ber-tholabul ilmi di hadapan pamanku, Asy Syaikh 'Abdulloh bin 'Abdillatif Alu Syaikh, juga selain pamanku.

Setelah dirasa cukup, muncul keinginan untuk membuka madrasah di Oman, mengajarkan tauhid di sana. Dibukalah madrasah dengan biaya beliau sendiri. Jika dikira biaya mulai menipis, beliau pergi berdagang ke negri India. Terkadang beliau tinggal setengah tahun lamanya untuk berdagang.

Selanjutnya . . . Syaikh Bakri berkata,

Hingga suatu hari . . .
Aku berada di sebuah masjid di negri India. Ketika itu sedang ada dares. Dan di akhir dares, sang mudarris membuatku terkejut, dia mendoakan laknat untuk Syaikh Muhammad bin AbdilWahab.

Selesai dares, dia lewat didepanku. Mengerti aku orang arab, dia menyapaku, "Aku pandai berbahasa arab, namun aku ingin mendengarnya langsung dari orang arab."
Aku pun melihat ada kesempatan untuk menasehatinya. Sungguh apa yang dia lakukan saat dares benar-benar aneh. Aku undang dia ke rumahku.

Sebelum dia tiba, aku ambil "kitabut tauhid" karya Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab lalu kusobek sampulnya dan kuletakkan di rak ruang tamu.

Akhirnya dia datang dan kupersilahkan masuk.
"Afwan, aku hendak mengambil semangka," kataku padanya. Aku pun beranjak mengambil semangka.

Begitu aku kembali, dia sedang membaca "kitabut tauhid" sambil mengangguk-ngangguk kepalanya.
"Siapa pengarang kitab ini?" tanyanya.
"Cara meletakkan bab per bab-nya mirip Shoheh Bukhori. Wallahi, ini mirip shoheh bukhori." sambungnya.
"Kita tanyakan saja kepada Syaikh Ghozwi, pemilik maktabah," ajakku menjawab pertanyaannya.

Akhirnya kami pergi ke maktabah. Setibanya di maktabah, aku bertanya kepada Ghozwi,
"di rumah aku punya sebuah kitab. Kemudian beliau -Syaikh tadi, pent- bertanya kepadaku siapakah pengarangnya. Apakah engkau tahu?"

Ghozwi dapat memahamiku. Diambilnyasebuah kitab berisi kumpulan risalah yang membahas tauhid. Setelah mencocokkan dengan kitabku, dia berkata, "ini karya Muhammad bin AbdilWahhab."

Begitu mendengarnya, syahdan Syaikh tadi marah dan berteriak, "yang kafir itu.!!??"

Seketika kami diam. Setelah agak tenang amarahnya, dia berkata, "inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Jika memang benar ini karyanya, sungguh kita telah mendholiminya."

Dikemudian hari, beliau dan murid-muridnya selalu mendoakan rahmat untuk Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab di setiap penghujung daresnya.

Saat murid-muridnya menyebarkan dakwah di seluruh penjuru negri India, mereka pun selalu mendoakan rahmat untuk Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab di penghujung dars(pelajaran) mereka.

(Diterjemahkan secara bebas dari kitab FATAWA WA RASAA-IL LISY SYAIKH MUHAMMAD BIN IBROHIM dengan sedikit penyesuaian)

Dikirim oleh Al-akh Yahya Solo (salah satu Thulab di Di Darul Hadist, Fuyus,Yaman)

WA Thulab Al-Fuyus  dan
WA SALAFY LINTAS NEGARA

Tuesday, August 26, 2014

BERLEPAS DIRI DARI SELURUH PERIBADAHAN KEPADA SELAIN ALLAH

Intisari Tauhid [19]

BERLEPAS DIRI DARI SELURUH PERIBADAHAN KEPADA SELAIN ALLAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
��وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala sesuatu yang kalian sembah, kecuali Dia Yang telah menciptakanku karena sesungguhnya hanya Dia yang memberi hidayah (kepadaku).’.”
[Az-Zukhruf: 26-27]

Allah mengabarkan tentang hamba-Nya, rasul-Nya, dan khalîl-Nya (yaitu Ibrahim ‘alaihis salâm) bahwa beliau berlepas diri dari segala sesuatu yang disembah oleh bapaknya dan kaumnya, serta beliau tidak memperkecualikan (apa-apa), kecuali Yang telah menciptakan dirinya, yaitu Allah Ta’âlâ. Maka, Ibrahim menyembah hanya kepada-Nya semata yang tiada sekutu bagi-Nya.

Faedah Ayat

Bahwa makna Lâ Ilâha Illallâh adalah menauhidkan Allah dengan mengikhlaskan semua ibadah hanya kepada-Nya dan barâ` ‘berlepas diri’ dari peribadahan kepada segala sesuatu selain Allah.

Menampakkan sikap barâ`ah (berlepas diri) terhadap agama orang-orang musyrikin.

Pensyariatan untuk berlepas diri dari musuh-musuh Allah, meskipun mereka adalah orang-orang terdekat kita.

Diringkas dari kitab Al-Mulakhos Fii Syarhi Kitab Tauhid Karya Syaikh Shalih Al-Fauzan

WhatsApp Syiar Tauhid
WA Radio As-Sunnah Sidrap

Dia Bukan Salafiy

Dia Bukan Salafiy

Pertanyaan :

“Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda wahai syaikh,…. Penanya ini berkata : ‘Sungguh akhir-akhir ini telah banyak digunakan kalimat : ‘Fulan bukan salafiyyiin’ atau ‘Ia bukan termasuk salafiyyiin’. Apakah perkataan ini dianggap sebagai tabdii’ dan menjadi keharusan untuk menegakkan hujjah kepadanya ?”.

Jawab :
“Demi Allah, aku memperingatkan kalian agar tidak menggunakan ungkapan seperti ini. Yang lebih cocok/sesuai bagi muslim dan juga bagi penuntut ilmu…. bahwa mereka semua berada di atas kebaikan, mereka di atas ‘aqidah salaf. Sebagian mereka mungkin mempunyai beberapa kekurangan dan kebodohan, namun mereka tidaklah dikeluarkan dari lingkup Salafiyyin.

Perkataan ini tidaklah diperbolehkan. Perkataan ini tidak boleh diucapkan antar saudara, antar para penuntut ilmu, antar anak-anak kaum muslimin, dan diucapkan di negeri-negeri muslim… ini tidak diperbolehkan.
Seandainya engkau mengetahui beberapa pokok perselisihan yang terjadi dengan saudaramu, maka seharusnya engkau menasihatinya.

Adapun mengatakan : ‘dia bukan dari salafiy’ atau ‘tidak berada di atas salafiyyah’….

mungkin engkau sendiri belum mengetahui apa Salafiyyah itu.

Sebagian dari mereka mengklaim Salafiy, padahal mereka belum mengetahui apa makna Salafiy….

Jika kalian bertanya kepada mereka apa itu salafiyyah dan apa artinya, maka mereka tidak mengetahuinya. Na’am….”.

[selesai – dari penjelasan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah dalam

http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node%2F9918].

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites