Audio Terbaru
Al-Ustadz Abdul Barr
Kematian dan Kehidupan Setelahnya-1
http://bit.ly/1ltnzPP
Larangan Memohonkan Ampunan Bagi Orang Tua Yang Meninggal Dalam Keadaan Musyrik
http://bit.ly/1APMsZi
WhatsApp Syiar Tauhid
Blog yang berisi faidah dari berbagai group WA Ahlussunnah
Audio Terbaru
Al-Ustadz Abdul Barr
Kematian dan Kehidupan Setelahnya-1
http://bit.ly/1ltnzPP
Larangan Memohonkan Ampunan Bagi Orang Tua Yang Meninggal Dalam Keadaan Musyrik
http://bit.ly/1APMsZi
WhatsApp Syiar Tauhid
"RENUNGAN"
.......................................
قال اﻹمام ابن القيم رحمه الله :
من اعجب الأشياء أن تعرفه ثم لا تحبه..
وأن تسمع داعيه ثم تتأخر عن الاجابة..
وأن تعرف قدر الربح في معاملته ثم تعمل غيره..
وان تعرف قدر غضبه ثم تتعرض له..
وأن تذوق ألم الوحشة في معصيته ثم لا تطلب الأنس بطاعته..
وأن تذوق عصرة القلب عند الخوض في غير حديثه والحديث عنه ثم لا تشتاق الى انشراح الصدر بذكره ومناجاته..
وأن تذوق العذاب عند تعلق القلب بغيره ولا تهرب منه الى نعيم الاقبال عليه والانابه اليه..
واعجب من هذا علمك انك لابد لك منه وانك أحوج شيء اليه وأنت عنه معرض وفيما يبعدك عنه راغب..
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Sungguh sebuah perkara yang amat mengherankan tatkala kamu telah
mengenal-Nya lantas kamu justru tidak mencintai-Nya..
Kamu mendengar da’i yang menyeru kepada-Nya namun kamu justru berlambat-lambat dalam memenuhi seruan-Nya..
Kamu menyadari betapa besar keuntungan yang akan dicapai saat bermuamalah dengan-Nya namun kamu justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya..
Kamu mengerti betapa berat
resiko kemurkaan-Nya namun kamu justru nekat membangkang kepada-Nya..
Kamu bisa merasakan betapa pedih kegalauan yang muncul saat bermaksiat kepada-Nya namun kamu justru tidak mau mencari ketentraman dengan cara taat kepada-Nya..
Kamu bisa merasakan betapa sempitnya hati tatkala sibuk dengan ucapan selain-Nya dan meninggalkan pembicaraan tentang-Nya. Akan tetapi kamu tidak mencari kelapangan hati dengan berdzikir dan bermunajat kepada-Nya..
Kamu bisa merasakan betapa tersiksanya hatimu tatkala
bergantung kepada selain-Nya namun kamu tidak
meninggalkannya menuju kenikmatan pengabdian serta
kembali bertaubat kepada-Nya..
Dan yang lebih aneh lagi
daripada itu semua adalah kesadaranmu bahwa kamu pasti membutuhkan-Nya dan Dia adalah Dzat yang paling kamu butuhkan, akan tetapi kamu justru berpaling dari-Nya dan mencari-cari sesuatu yang menjauhkan dari-Nya..”
( lihat al-Fawa’id.hal : 62 )
Faedah dari Al Akh Abdul Majid Medan
what's app Thulab Al fiyusy
بسم الله_
SABAR DALAM MENUNTUT ILMU
ASY-SYAIKH SOLEH AL-FAUZAN_hafidzahullah.
Seorang penuntut 'ilmu haruslah bersabar,
Bersabar di atas "kesulitan dan lamanya waktu" yang dibutuhkan ketika menuntut 'ilmu,
Hendaklah ia bersabar dan tetap menuntut 'ilmu,walaupun waktunya lama,janganlah berkeluh kesah dan merasa bosan,
Jangan engkau berputus asa atau menganggap bahwa menuntut ilmu adalah perkara yang sulit,ataukah merasa lama waktu yang dibutuhkan ketika menuntut ilmu,
"BERSABARLAH,NISCAYA ENGKAU AKAN MENDAPATKAN PAHALA,
Hendaklah engkau tetap bersabar dan terus-menerus menuntut 'ilmu,
Jangan merasa bosan sampai engkau menggapai apa yang engkau cita-citakan dengan idzin Allah.
BARANGSIAPA YANG BERJALAN DI ATAS JALURNYA,MAKA AKAN SAMPAI KE TUJUAN___,.
Al-Ustadz Abu 'Abdillah Sahl Al-Bugisy
WA Radio As-Sunnah Sidrap
Silsilah Durusul Muhimmah [4]
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah
PEMBAGIAN TAUHID DAN SYIRIK
Tauhid itu terbagi tiga bagian, yaitu:
1. Tauhid Rububiyah.
2. Tauhid Uluhiyah.
3. Tauhid Asma' dan Sifat.
Syirik itu terbagi tiga bagian, yaitu:
1. Syirik Akbar (besar).
2. Syirik Ashghar (kecil).
3. Syirik Khafiy (tersembunyi).
Syirik Akbar berakibat runtuhnya seluruh amal perbuatan dan kekal di
Neraka, bagi orang yang mati dalam keadaan syirik. Sebagaimana firman
Allah سبحانه و تعالي:
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka
amalan yang telah mereka kerjakan. (Surah Al-An'am: 88).
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُواْ مَسَاجِدَ الله شَاهِدِينَ
عَلَى أَنفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي
النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid
Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah
orang-orang yang sia-sia pekerjaannya dan mereka kekal didalam Neraka.
(Surah At-Taubah: 17 ).
Orang yang mati (sedang ia masih melakukan syirik akbar ini), ia tidak
akan diampuni, haram baginya Syurga. Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ:
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ
ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً
عَظِيماً
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang memperse¬kutukan Allah, maka sungguh
ia berbuat dosa yang besar. (Surah An-Nisa: 48).
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya Syurga dan tempatnya di neraka, tidak ada bagi
orang-orang zhalim seorang penolongpun. (Surah Al-Ma'idah: 72).
Diantara bentuk-bentuk (Syirik Akbar ini) ialah: Berdo'a kepada orang
mati, kepada berhala-berhala, memohon pertolongan dari mereka,
bernadzar untuk mereka, menyembelih untuk mereka dan sebagainya.
Syirik Ashghar ialah: (Perbuatan) yang penamaan-nya ditetapkan oleh
nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai syirik, akan tetapi tidak
termasuk jenis syirik akbar; seperti : Riya' dalam beberapa perbuatan,
bersumpah dengan selain Allah, ucapan "Masya Allah wa sya'a Fulan"
(Apa yang dikehendaki Allah dan dikehendaki Fulan) dan sebagainya.
Berdasarkan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:
أَخْوَفُ مَا أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ،فَسُئِلَ عَنْهُ؟
فَقَالَ: الرِّيَاءُ
Sesuatu yang paling aku takutkan (menimpa) kamu adalah Syirik Ashghar.
Lalu beliau صلي الله عليه وسلم ditanya tentang (Syirik Ashghar),
beliau menjawab: (Ia adalah) Riya'". (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan
Ath-Thabrani serta Al-Baihaqi, dari Mahmud bin Lubaid Al-Anshari رضي
الله عنه, dengan sanad yang baik. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani
dengan beberapa sanad yang baik dari Mahmud bin Lubaid, dari Rafi' bin
Khudaij, dari Nabi صلي الله عليه وسلم.)
منْ حَلَفَ بِشَيْءٍ دُونَ اللَّهِ ، فَقدْ أَشْرَكَ
Barang siapa yang bersumpah dengan sesuatu selain Allah, maka ia telah
berbuat syirik. (Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih,
dari Umar bin Khattab رضي الله عنه)
Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad yang
shohih dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu'anhu dari Nabi صلي الله عليه
وسلم, bahwa beliau bersabda:
منْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ ، فَقدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ
"Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah
kafir atau berbuat syirik".
Dan sabda beliau:
لاَ تَقُولُوا : مَاشَاءَ اللَّه وَشَاءَ فُلانٌ ، وَلَكِنْ قُولُوا :
مَا شَاءَ اللَّه ، ثُمَّ شَاءَ فُلانٌ
Janganlah kamu mengatakan "Jika dikehendaki Allah dan dikehendaki
Fulan", akan tetapi katakanlah "Jika dikehendaki Allah, kemudian
dikehendaki Fulan. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang
shahih, dari Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه)
(Syirik Ashghar) ini tidak berakibat riddah (keluar dari agama Islam),
tidak pula berakibat kekal di Neraka, akan tetapi ia (Syirik Ashghar)
tidak sesuai dengan kesempurnaan Tauhid yang diwajibkan.
Syirik Khafiy: Dalilnya adalah sabda Nabi صلي الله عليه وسلم:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ
المَسِيْحِ الدَّجَّالَ؟ قَالُوا: بَلَيْ يَارَسُولُ الله. قَالَ:
الشِّرْكُ الْخَفَيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ
صَلاَتَهُ لِمَايَرَي مِنْ نَظَرِ الرَّجُلِ إِلَيْهِ
"Maukah kamu aku beritahukan apa yang paling aku takutkan (menimpa)
kamu lebih dari (takutku atasmu) terhadap Al-Masih Ad-Dajjal? Mereka
(para shahabat) menjawab: Mau, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: (ia
itu adalah) syirik khafiy (syirik yang tersembunyi), bahwa seseorang
berdiri, lalu shalat, kemudian ia membaguskan shalatnya, karena ia
melihat ada orang yang sedang memperhatikannya". (Diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad, dari Abi Sa'id Al-Khudriy رضي
الله عنه)
Syirik dapat juga dibagi dua saja: Syirik Akbar dan Syirik Ashghar.
Sedang Syirik Khafiy dapat masuk pada kedua syirik tersebut. Syirik
Khafiy dapat masuk pada Syirik Akbar, seperti Syirik orang-orang
munafik, karena mereka menyembunyikan akidah mereka yang batil; dan
menampakkan ke-Islaman mereka, atas dasar riya' dan takut atas
kepentingan diri mereka.
Sedang Syirik Ashghar, seperti riya', sebagaimana (yang telah
dijelaskan) dalam hadits Mahmud bin Lubaid Al-Anshari yang telah lalu;
dan hadits Abu Sa'id diatas. Wallahu Waliyyut Taufiq (Hanya Allah lah
yang dapat memberi pertolongan).
WA Radio As-Sunnah Sidrap
Intisari Tauhid [18]
BERIBADAH HANYA KEPADA YANG MAHA MENCIPTA BUKAN YANG DICIPTA
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا.
“Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu juga berusaha untuk mencari jalan kepada Rabb mereka agar lebih dekat (kepada-Nya), serta mereka mengharapkan rahmat Nya dan takut terhadap adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Isrâ`: 57]
Allah Subhânahuwata'ala mengabarkan bahwa mereka yang disembah selain Allah oleh orang-orang musyrikin, dari kalangan malaikat, para nabi, dan orang-orang shalih, (mereka sendiri) bersegera mencari pendekatan diri kepada Allah karena mengharap rahmat dan takut terhadap adzab Allah.
Kalau keadaan mereka seperti itu, berarti mereka termasuk ke dalam kategori hamba-hamba Allah maka bagaimana bisa mereka disembah bersama Allah Ta’âlâ? Sementara mereka sibuk dengan diri mereka sendiri: berdoa dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya.
Faedah Ayat:
Bantahan terhadap orang-orang yang berdoa kepada para wali dan orang shalih untuk menghilangkan bahaya dan memperoleh manfaat. Karena, mereka yang diseru itu tidak kuasa menolak bahaya dan mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri maka bagaimana bisa ia melakukan hal itu untuk orang lain.
Penjelasan tentang besarnya rasa takut para Nabi dan
orang-orang shalih kepada Allah dan penjelasan tentang harapan mereka kepada rahmat Allah.
Diringkas dari kitab Al-Mulakhos Fii Syarhi Kitab Tauhid Karya Syaikh Shalih Al-Fauzan
WhatsApp Syiar Tauhid
Renungan Dari Ayat-ayat Al-Qur`an [23]
Urgensi Ucapan ‘Insya Allah’
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا ، إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’.”[Al-Kahf: 23-24]
Ayat ini adalah petunjuk Allah kepada Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam agar hal yang beliau telah niatkan dengan kesungguhan disandarkan kepada kehendak Allah ‘Azza wa Jalla semata.
Karena dialah Allah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang mengetahui segala hal yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta Allah mengetahui apa yang tidak akan terjadi andaikata terjadi bagaimana terjadinya.
Insya Allah artinya kalau Allah menghendaki.
Sebuah etika bagi seorang muslim untuk meyakini bahwa apa yang dia lakukan hanya terjadi bila Allah menghendakinya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menceritakan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang akan mendatangi 70 istrinya dalam satu malam, -dalam sebuah riwayat 90 istri dan dalam riwayat lain 100 istri-, agar setiap istrinya tersebut melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.
Tapi, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam lupa membaca ‘Insya Allah’. Akhirnya, tidak ada yang melahirkan dari istri-istrinya kecuali seorang istri saja yang melahirkan anak cacat.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa andaikata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam membaca ‘Insya Allah’ pasti setiap istrinya akan melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.
Biasakanlah diri dengan etika yang agung ini, agar Allah memberkahi segala usaha dan amalanmu.
Al-Ustadz Dzulqarnain M.Sunusi
WhatsApp Syiar Tauhid
Tak Kenal maka Tak Sayang
Yuk mengenal 'Ulama
بسم الله الرحمن الرحيم
SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLŌH ÃLU SYAIKH HAFIDHZOHULLŌHU TAÂLĀ
NASAB BELIAU
Beliau adalah Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
WAKTU DAN TEMPAT LAHIR BELIAU
Beliau dilahirkan pada tanggal 3-12-1362 H (1 Desember 1943 M) di Makkah Al Mukarramah.
PERTUMBUHAN BELIAU
Sejak lahir, penglihatan beliau lemah hingga akhirnya hilang pada tahun 1381 H (1962 M). Pada tahun 1370 H (1951 M), ayah beliau wafat. Ketika itu beliau masih kecil dan umur beliau belum sampai delapan tahun.
Beliau mulai menuntut ilmu dengan belajar Al Quranul Karim di Masjid Ahmad bin Sinan. Beliau hafal Al Quran pada tahun 1373 H (1954 M) ketika berumur 12 tahun. Kemudian beliau menuntut ilmu kepada beberapa ulama di halaqah-halaqah ta’lim. Pada tahun 1375-1380 H (1956-1961 M) beliau belajar di Ma’had Imam Ad Da’wah Al Ilmu Riyadh. Setelah itu, beliau belajar di Fakultas Syariah Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud di Riyadh dan lulus pada tahun 1383/1384 (1964/1965 M) dengan kualifikasi Licant (Lc atau S1) dalam ilmu-ilmu syariah dan bahasa Arab. Walaupun sudah belajar di ma’had dan universitas, beliau masih menghadiri halaqah-halaqah para ulama di masjid-masjid.
GURU-GURU BELIAU
Beliau memiliki banyak guru, di antara mereka yaitu :
1. Asy Syaikh Muhammad bin Sinan. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh belajar Al Qur’an hingga menyelesaikan hafalannya di bawah bimbingan beliau.
2. Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Mufti Saudi yang pertama. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh belajar kitabut Tauhid, Al Ushul Ats Tsalatsah, dan Al Arba’in An Nawawiyyah kepada beliau.
3. Asy Syaikh Abdul Aziz Asy Syitsri. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh belajar Umdatul Ahkam dan Zadul Mustaqni’ kepada beliau pada tahun 1375-1376 H (1956-1957 M).
4. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Saudi yang kedua dan Ketua Haiah Kibaril Ulama saat itu. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh belajar Faraidh kepada beliau pada tahun 1377 (1958 M) dan 1380 H (1961 M).
5. Asy Syaikh Abdul Aziz bin Shalih Al Mursyid. Kepada beliau, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh belajar Faraidh, Nahwu, dan Tauhid pada tahun 1379 H (1960 M).
KEDUDUKAN SEBAGAI IMAM MASJID DAN KHATIB
1. Pada tahun 1389 H (1970 M), beliau menjadi imam dan khatib masjid Jami’ Syaikh Muhammad bin Ibrahim di Dukhnah Riyadh setelah wafatnya Syaikh Muhammad bin Ibrahim pada tahun tersebut.
2. Pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, beliau ditunjuk sebagai khatib di masjid Jami’ Al Kabir Riyadh.
3. Beliau memegang posisi sebagai imam shalat Jumat di Masjid Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif dari tahun 1390 H (1971 M).
4. Pada tahun 1402 H (1981 M), beliau ditunjuk sebagai khatib di Masjid Namirah di Arafah.
5. Pada bulan Ramadhan tahun 1412 H (1991 M), beliau ditunjuk sebagai imam dan khatib di Masjid Jami Imam Turki bin Abdullah di Riyadh hingga saat ini.
AKHLAK BELIAU
Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh hafidhahullah tumbuh dengan baik (shalih) sejak kecil. Beliau juga memiliki sifat wara’, takwa, ikhlas, nasehat terhadap pemerintah dan kaum muslimin secara umum, cinta dan lembut kepada banyak orang, khususnya kepada para penuntut ilmu.
TINGKATAN PROFESI BELIAU
1. Setelah lulus dari Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud di Riyadh, beliau ditunjuk sebagai pengajar di Ma’had Imam Ad Da’wah Al ‘Ilmi Riyadh sejak tanggal 1-7-1384 H (6 November 1964 M) sampai tahun 1392 H (1972 M).
2. Pengajar di Fakultas Syariah Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud Riyadh sejak 7-5-1399 H (4 April 1979 M) sampai tahun 1412 H (1991 M).
3. Pengajar di Fakultas Syariah dan Ma’had Al ‘Ali Lil Qadha’ (Fakultas Hukum) Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud Riyadh sejak tanggal 13-11-1400 H (23 September 1980 M).
Di samping mengajar, beliau juga berpartisipasi dalam berbagai macam pertemuan ilmiah di kampus tersebut. Beliau pun turut memberikan bimbingan dan diskusi terhadap beberapa tesis Magister dan Doktoral pada Fakultas Syariah, Ushuluddin, dan Ma’had Al ‘Ali Lil Qadha di universitas tersebut dan Universitas Ummul Qura’ Makkah Fakultas Syariah.
4. Pada bulan Syawal tahun 1407 H (1986 M) beliau ditunjuk oleh pemerintah sebagai anggota Haiah Kibaril Ulama.
5. Beberapa tahun kemudian beliau pindah dari Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud karena ditunjuk sebagai anggota pemberi fatwa di Departemen Riset Ilmiah dan Fatwa Riyadh dengan surat keputusan No.1/76 tanggal 15-7-1412 H (20 Januari 1992 M).
6. Pada tahun 1416 H terbitlah perintah kerajaan dengan nomor 838 tanggal 25-8-1416 H (16 Januari 1996) berisi penunjukkan beliau sebagai wakil mufti Kerajaan Arab Saudi.
7. Setelah Samahatusy Syaikh Abdul Bin Baz rahimahullah wafat, terbitlah perintah kerajaan dengan no. A/20 tertanggal 29-1-1420 H (15 Mei 1999 M) berisi penunjukkan beliau sebagai mufti Kerajaan Arab Saudi sekaligus ketua Haiah Kibaril Ulama dan Idaroh Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta (Departemen Riset Ilmiah dan Fatwa). Jabatan mufti di Arab Saudi adalah jabatan setingkat menteri.
SEMANGAT BELIAU DALAM MENYEBARKAN ILMU
Walaupun beliau sudah pindah dari Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud, tetapi karena kerjasama beliau yang terus berlanjut dengan universitas tersebut, hubungan beliau tetap terjalin. Hal itu terlihat dengan kadang-kadang beliau masih mengajar di Ma’had Al ‘Ali Lil Qadha dan membimbing beberapa diskusi karya ilmiah magister dan doktoral. Diskusi karya ilmiah yang terakhir beliau ikuti adalah yang dilaksanakan di Fakultas Ushuluddin pada hari Rabu tanggal 26-1-1420 H (12 Mei 1999 M).
Beliau juga turut berpartisipasi memberikan fatwa dalam acara radio (di antaranya adalah acara Fatwa Nur ‘Ala Ad Darb dari tahun 1414 H (1993 M), begitu pula dalam acara keagamaan di media-media lain. Beliaupun sering hadir dalam acara-acara ilmiah, seminar, ceramah dan penyampaian pelajaran. Beliau memiliki halaqah di Masjid Jami’ Al Imam Turki di Riyadh. Selain di Riyadh, beliau juga mempunyai jadwal khusus untuk berdakwah di Thaif hingga saat ini.
SITUS RESMI BELIAU : http://www.mufti.af.org.sa
Sumber :
http://www.mufti.af.org.sa
http://www.ahlalhdeeth.com