Tuesday, July 15, 2014

[Audio] Kehidupan setelah kematian

[ Audio ] Kajian intensif dua hari (12 & 13 Juli 2014) di Prana Estate Sukabumi dengan tema " Kehidupan Setelah Kematian " pemateri Ust. Wira Mandiri Bachrun.

Kehidupan Setelah Kematian - Sesi 1 http://goo.gl/YJeBKr

Kehidupan Setelah Kematian - Sesi 2 http://goo.gl/Fis54i

Kehidupan Setelah Kematian - Sesi 3 http://goo.gl/joEFq0

Kehidupan Setelah Kematian - Sesi 4 http://goo.gl/pvPQyu

Semoga Bermanfaat.

Monday, July 14, 2014

Nasehat emas ulama salaf

NASEHAT EMAS ULAMA SALAF

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:
“Sederhana dalam Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.”
(Ibnu Nashr 30, Al-Lalikai 1/88 no. 114, dan Al-Ibanah 1/320 no. 161)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:
“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah .”
(Al-I’tisham, 1/112)

Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah berkata:
Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan Sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).”
(Al-Lalikai 1/94 no. 136 dan Ad-Darimi, 1/58 no. 16)

Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:
“Berhati-hatilah kamu, jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’, sedikit atau pun banyak. Berpeganglah dengan Ahlul Atsar dan Ahlus Sunnah .”
(As-Siyar, 11/231)

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata:
“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu .”
(Asy-Syari’ah hal. 63)

Sumber: http://qurandansunnah.

KISAH menarik. Ibnul Mubarak -rohimahulloh- pernah ditanya, "Kesombongan itu apa?"

"Saya Ikhwa yang Paling Jago Bahasa Arab, Semua Ikhwa Lainnya Bodoh!"

KISAH menarik. Ibnul Mubarak -rohimahulloh- pernah ditanya,

"Kesombongan itu apa?"

Beliau menjawab, "Saat engkau meremehkan manusia."

Beliau ditanya lagi, "Kalau ujub?"

Beliau menjawab, "Saat engkau menganggap bahwa engkau memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain."
(As-Siyar: 8/407)

Saudaraku, mari kita menginsyafi sejenak diri kita. Siapa tahu jawaban-jawaban Ibnul Mubarok -rohimahulloh- itu tepat berada dalam diri kita.

Bisa saja penyakit sombong itu berada dalam diri kita. Yang mana kita kerap kali meremehkan saudara kita, dalam bentuk-bentuk berbeda. Menganggapnya paling miskin harta, orang paling bodoh, paling banyak aibnya, bahkan kita menganggap orang tersebut paling banyak dosanya. Astagfirulloh.

Rosululloh shollallohu alayhi wasallam bersabda,

"Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri."
(HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam as-shahihah No. 1802)

Dan juga, bisa jadi penyakit ujub itu ada dalam batin kita. Barangkali diri kita sering berkata,

"Saya orang paling dermawan di sini, semua orang kikir,"

"Di Indonesia ini, sayalah yang akan ke Gaza pertama kali, semua orang pengecut,"

"Saya ikhwa yang paling jago bahasa Arab, semua ikhwa lainnya bodoh,"

"Saya paling pintar diantara teman-teman, karena saya S2 sekarang, mereka masih S1,"

"Saya di sini adalah ikhwa paling berilmu, karena saya paling banyak mengenal ustadz,"

Nas alulloha salamah wal afiyah.

Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.”
(QS. An Nahl: 23)

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong) .“
(HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Semoga Alloh azza wa jalla menjauhkan kita dari sifat ujub dan sombong....[]

Kusnandar Putra

--Bontote'ne, 16 Romadhon 1435 H

Sunday, July 13, 2014

Kegembiraan Allah akan taubat hambaNya

Untaian Faidah Nabawiyah

(39) Kegembiraan Allah Akan Taubat HambaNya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

للهُ أَشَدُّ فَرَحاً بِتَوبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يتوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتهِ بأرضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابهُ فأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتى شَجَرَةً فاضطَجَعَ في ظِلِّهَا وقد أيِسَ مِنْ رَاحلَتهِ ، فَبَينَما هُوَ كَذَلِكَ إِذْ هُوَ بِها قائِمَةً عِندَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطامِهَا ، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الفَرَحِ : اللَّهُمَّ أنْتَ عَبدِي وأنا رَبُّكَ ! أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الفَرَحِ

"Sungguh Allah lebih hebat kegembiraanNya akan taubat hambaNya ketika dia bertaubat daripada kegembiraan seseorang bersama kendaraannya di padang yang luas, kemudian kendaraannya tersebut hilang bersama dengan makanan dan minumannya sehingga dia berputus asa, sampai ketika dia bersandar dan berteduh pada sebuah pohon dalam keadaan putus asa karena kehilangan kendaraannya, tiba-tiba kendaraannya sudah berada dan berdiri di hadapannya, kemudian dia mengambil tali kekangnya dan saking bergembiranya dia mengatakan : "Wahai Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabbMu!" Dia keliru karena saking bergembiranya." (HR. Muslim)

Ayub Abu Ayub
@aayyuba
PIN : 73EDEDE2

Thursday, July 10, 2014

Sebuah kisah penggugah jiwa pemimpin sejati

Sebuah Kisah Penggugah Jiwa Pemimpin Sejati

��Dikisahkan oleh para ahli sejarah Islam tentang salah satu potongan sejarah seorang penguasa muslim yang shalih lagi kuat dan tangguh serta sangat mencintai kaum muslimin, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:

��Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim seorang untusan kepada Penguasa Romawi, maka setelah menemuinya utusan tersebut keluar dari ruangannya seraya berkeliling, tatkala ia melewati salah satu ruangan, ia mendengar seseorang membaca Al-Qur’an sambil membuat adonan, maka ia pun mendatanginya lalu mengucapkan salam atasnya namun orang tersebut tidak membalas salamnya sampai dua atau tiga kali.

��Orang itu pun berkata: Bagaimana mungkin ada ucapan salam di negeri (kafir) ini?

��Sang utusan pun memberitahukan bahwa ia adalah utusan Khalifah Umar kepada Penguasa Romawi. Dan ia berkata: Apa yang terjadi padamu?

��Orang itu menjawab: Aku tertawan di tempat ini dan itu (ketika berjihad), maka aku dibawa untuk menghadap Penguasa Romawi, lalu aku dipaksa masuk Kristen, aku pun menolak. Dia lalu berkata: Kalau kamu tidak mau maka aku akan membutakan dua matamu.

☑Aku pun memilih agamaku dibanding mataku, maka ia membutakan mataku dan menahanku di tempat ini, dan dikirimkan kepadaku setiap hari sebiji gandum untuk kuadon dan sepotong roti untuk kumakan.

��Maka sang utusan segera pulang menemui Umar bin Abdul Aziz, lalu ia mengabarkan berita tawanan muslim tersebut. Utusan berkata: Aku belum selesai bercerita tentang kisahnya, namun aku melihat air mata Umar bercucuran deras hingga membasahi di antara kedua tangannya, kemudian beliau memerintahkan untuk segera menulis surat kepada Penguasa Romawi:

��Baca Selengkapnya:
��http://forumsunnah.net/sebuah-kisah-penggugah-jiwa-pemimpin-sejati/

Bacaan dalam shalat tarawih dan witir

Bacaan dalam Shalat Tarawih dan Witir

Dalam Qiyâm Ramadhân hal. 23-25, Syaikh Al-Albany berkata,

“Tentang bacaan dalam shalat Lail pada qiyâm Ramadhan dan selainnya, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah menetapkan suatu batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui dengan bentuk tambahan dan pengurangan., Pada setiap rakaat, beliau kadang membaca sekadar yâ ayyuhal muzzammil (surah Al-Muzzammil) yang bacaan tersebut (berjumlah) dua puluh ayat, dan kadang sekadar lima puluh ayat. Beliau bersabda,

مَنْ صَلَّى فِيْ لَيْلَةٍ بِمِائَةِ آيَةٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat dengan (membaca) seratus ayat dalam semalam, tidaklah ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang lalai.”

… بِمِائَتَيْ آيَةٍ فَإِنَّهُ يُكْتَبُ مِنَ الْقَانِتِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ

“… dengan (membaca) dua ratus ayat, sungguh ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang qânit ‘khusyu’, panjang shalatnya,-pent.’ lagi ikhlas.”

Selain itu, pada suatu malam dan dalam keadaan sakit, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam membaca tujuh (surah) yang panjang, yaitu surah Al-Baqarah, Âli ‘Imrân, An-Nisâ`, Al-Mâ`idah, Al-An’âm, Al-A’râf, dan At-Taubah.

Juga dalam kisah pelaksanaan shalat Hudzaifah bin Al-Yamân di belakang Nabi ‘alaihish shalâtu was salâm bahwa beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallammembaca (surah) Al-Baqarah, lalu (surah) An-Nisâ’, kemudian (surah) Âli ‘Imrân dalam satu rakaat, dan beliau membaca (beberapa surah) tersebut dengan lambat lagi pelan.

Juga telah tsabit (sah, tetap) dengan sanad yang paling shahih bahwa, tatkala ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu memerintah Ubay bin Ka’ab untuk mengerjakan shalat (mengimami) manusia sebanyak sebelas rakaat dalam Ramadhan, Ubay radhiyallâhu ‘anhu membaca dua ratus (ayat) sampai orang-orang yang (bermakmum) di belakangnya bersandar di atas tongkat karena kelamaan berdiri, dan tidaklah mereka bubar kecuali pada awal-awal fajar.

Juga telah shahih dari ‘Umar bahwa beliau memanggil para pembaca Al-Qur`an pada bulan Ramadhân, kemudian memerintah orang yang bacaannya paling cepat untuk membaca tiga puluh ayat, orang yang pertengahan (kecepatan membacanya untuk membaca) dua puluh lima ayat, dan orang yang lambat (kecepatan membacanya untuk membaca) dua puluh ayat.Dibangun di atas hal tersebut, kalau seseorang mengerjakan shalat sendirian, silakan memperpanjang sesuai dengan kehendaknya, demikian pula bila ada (orang yang mengerjakan shalat) bersamanya dari (kalangan) orang yang bersepakat dengannya (dalam hal memperpanjang pelaksanaan shalat,-pent.). (Lagipula), setiap kali (pelaksanaan shalat seseorang) panjang, hal itu lebih utama. Akan tetapi, ia janganlah berlebihan dalam hal memperpanjang (pelaksanaan shalat) sampai menghidupkan seluruh malam, kecuali kadang-kadang, dalam rangka mengikuti Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

,وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّد

ٍ“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shallallâhu ‘alaihi wa sallam).”

Selain itu, apabila mengerjakan shalat sebagai imam, hendaknya ia memperpanjang (pelaksanaan shalatnya) dengan sesuatu yang tidak memberatkan orang-orang (yang bermakmum) di belakangnya berdasarkan sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

,إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفِ الصَّلَاةَ، فَإِنَّ فِيْهِمُ (الصَّغِيْرَ) وَالْكَبِيْرَ وَفِيْهِمُ الضَّعِيْفَ، وَ(الْمَرِيْضَ)، (وَذَا الْحَاجَةِ)، وَإِذَا قَامَ وَحْدَهُ فَلْيُطِلْ صَلَاتَهُ مَا شَاءَ.

“Apabila salah seorang dari kalian qiyâm (mengerjakan shalat) untuk (mengimami) manusia, hendaknya ia memperingan pelaksanaan shalatnya karena, di antara mereka (yang bermakmum), ada anak kecil dan orang besar, serta di antara mereka, ada orang lemah, orang sakit, dan orang yang mempunyai keperluan. Apabila qiyâm sendirian, hendaknya ia memperpanjang pelaksanaan shalatnya sesuai dengan kehendaknya.”.

”Demikian keterangan Syaikh Al-Albâny tentang bacaan pada qiyamul lail. Adapun bacaan dalam shalat Witir, beberapa hadits yang menjelaskannya, di antaranya, adalah hadits Ubay bin Ka’ab riwayat Imam Ahmad dan selainnya bahwa Ubay berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ثَلَاثَ مَرَاتٍ

“Pada shalat Witir, adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam membacasabbihisma Rabbikal A’lâ (surah Al-A’la), qul yâ ayyuhal kâfirûn (surah Al-Kâfirûn), dan qul huwallâhu ahad (surah Al-Ikhlash). Apabila salam, beliau berkata, ‘Subhânal Malikul Quddûs,’ [1] sebanyak tiga kali.” [2]

Juga dalam hadits ‘Abdurrahman bin Abi Abza riwayat Ahmad dan selainnya bahwa beliau berkata,

,إِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُو
َ اللهُ أَحَدٌ فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ“
"Pada shalat Witir, sesungguhnya beliau membaca sabbihisma Rabbikal A’lâ(surah Al-A’la), qul yâ ayyuhal kâfirûn (surah Al-Kâfirûn), dan qul huwallâhu ahad (surah Al-Ikhlash). Apabila salam, beliau berkata, ‘Subhânal Malikul Quddûs, Subhânal Malikul Quddûs, Subhânal Malikul Quddûs,’ dan mengeraskan suaranya ketika (membaca bacaan) itu.” [3]

Berdasarkan dua hadits di atas, Ats-Tsaury, Ishâq, dan Abu Hanîfah menganggap bahwa pembacaan tiga surah di atas dalam shalat Witir adalah sunnah. Membaca 3 Surah pada Akhir Shalat Witir

Imam Mâlik dan Asy-Syâfi’iy juga menganggap bahwa pembacaan tiga surah di atas dalam shalat Witir adalah sunnah, kecuali pada rakaat ketiga. Menurut keduanya, pada rakaat ketiga, selain surah Al-Ikhlash, seseorang juga disunnahkan untuk menambah bacaan dengan surah Al-Falaq dan surah An-Nâs.Namun, hadits mengenai tambahan dua surah tersebut dianggap lemah oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, dan Al-‘Uqaily. Oleh karena itu, seharusnya orang yang mengerjakan shalat Witir tiga rakaat hanya membaca surah Al-Ikhlash pada rakaat ketiga.

Dalam Sifat Shalat An-Nabi hal. 122 (cet. kedua Maktabah Al-Ma’ârif), Syaikh Al-Albâny juga menshahihkan hadits tentang pembacaan seratus ayat dari surah An-Nisâ` dalam rakaat shalat Witir.[4]

[1] Artinya adalah Maha suci Yang Maha berkuasa lagi Yang Maha suci.
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/95, 6/89, Ahmad 5/123, Ibnul Jârud no. 271, Abu Dâud no. 1430, An-Nasâ`iy 3/235, 244, Ibnul Hibban no. 2450, Ad-Dâraquthny 2/31, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 8/no. 8115, dan Al-Baihaqy 3/39, 40, 41. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny, dalam beberapa buku beliau, dan Syaikh Muqbil, dalam Al-Jâmi’Ash-Shahîh 2/160-161.
[3] Diriwayatkan oleh Ath-Thayâlisy no. 546, Ibnu Abi Syaibah 2/93, Ahmad 3/406, 407, ‘Abd bin Humaid sebagaimana dalam Al-Muntakhab no. 312, An-Nasâ`iy 3/244, 245, 246, 247, 249, 250, 251, Ibnul Ja’ad no. 487, Ath-Thahâwy 1/292, Al-Hâkim 1/406, Al-Baihaqy 3/41, dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqîq no. 673. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny, dalam beberapa buku beliau, dan Syaikh Muqbil, dalam Al-Jâmi’Ash-Shahîh 2/161.
[4] Tentang pembahasan dalam bab ini, baca jugalah Al-Mughny 2/599-600 karya Ibnu Qudamah, Al-Majmu’ 2/599 karya An-Nawawy, dan Syarhus Sunnah 4/98 karya Al-Baghawy

Sumber : http://dzulqarnain.net/bacaan-dalam-shalat-tarawih-dan-witir.html

Faidah Ramadhan (11)

FAIDAH RAMADHAN (11)

Seorang wanita yang ingin membayar kaffarah dengan berpuasa dua bulan berturut-turut namun terhalangi dengan haidh setiap bulannya

Berkata Ibnul Mundzir -rahimahullah-:

أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على أن المرأة إذا كان عليها صوم شهرين متتابعين فصامت بعضا ثمّ حاضت أنها تبني إذا طهرت

"Seluruh ulama' yang kami menghafal dari mereka telah bersepakat bahwa seorang wanita jika memiliki puasa dua bulan berturut-turut maka iapun telah berpuasa disebagiannya kemudian haidh maka sesungguhnya ia hanya melanjutkannya setelah suci".

__________
Al Isyraf (5/305)

               

ustadz Fauzan al-Kutawy

Silsilah Durus

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites